Di Papua, Perempuan Mengelola Laut Lewat Tradisi Sasi agar Tetap Lestari

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 10 April 2026 | 15:55 WIB
Di Papua, Perempuan Mengelola Laut Lewat Tradisi Sasi agar Tetap Lestari
Sasi Kapatcol. (Dok. Awaludinnoer)
baca 10 detik
  • Masyarakat di Misool, Raja Ampat menerapkan sistem sasi untuk menjaga kelestarian ekosistem laut melalui pengaturan waktu panen.
  • Sejak tahun 2008, perempuan di Misool mulai terlibat aktif mengelola wilayah sasi untuk memperkuat peran dalam pengambilan keputusan.
  • Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan sasi berhasil memulihkan populasi biota laut serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.

Suara.com - Di banyak pesisir Indonesia Timur, laut tidak selalu bisa diambil kapan saja. Ada waktu untuk memanen, ada masa untuk berhenti.

Di antara keduanya, ada jeda yang dijaga dan disepakati bersama, meski tak pernah tertulis, ia ditaati seperti hukum yang hidup.

Di Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, jeda itu disebut sasi.

Sasi Bukan Sekadar Tradisi

Sasi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah sistem pengelolaan sumber daya laut yang mengatur ritme: kapan mengambil, kapan menahan diri, dan berapa banyak yang boleh dibawa pulang.

Dalam praktiknya, wilayah laut ditutup untuk periode tertentu agar ekosistem pulih, lalu dibuka kembali melalui kesepakatan bersama.

Namun, sistem ini lama berjalan di atas relasi yang timpang. Selama bertahun-tahun, pengelolaan sasi didominasi laki-laki. Perempuan berada di sana, namun di pinggiran. Mereka mengolah hasil laut, menjaga rumah tangga, menopang ekonomi keluarga, tetapi jarang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Perubahan dari Pinggiran

Mama cek lobster. (Dok. Awaludinnoer)
Mama cek lobster. (Dok. Awaludinnoer)

Perubahan di Misool tidak datang dari pusat kekuasaan kampung. Ia tumbuh perlahan, dari pengamatan sehari-hari.

baca juga

Pada 2008, sekelompok perempuan di Kampung Kapatcol mulai memperhatikan bagaimana sasi dijalankan. Mereka belajar dari jarak dekat, lalu mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus mengguncang kebiasaan lama: mengapa bukan mereka?

“Pada 2008, kami melihat bagaimana laki-laki mengelola sasi. Kami ingin bisa melakukan hal yang sama,” kata Mama Almina Kacili, Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna.

Dari sana, Kelompok Waifuna terbentuk dan diberi ruang mengelola wilayah sasi seluas 32 hektare. Ini bukan sekadar pembagian tugas, tetapi pergeseran peran—kecil di awal, namun berdampak dalam jangka panjang.

Membuktikan Lewat Praktik

Langkah itu tidak langsung diterima. Perempuan harus membuktikan bahwa mereka mampu mengelola, bukan hanya mengikuti.

Mereka menjawabnya lewat praktik yang konsisten. Wilayah laut ditutup sesuai kesepakatan, waktu panen ditentukan dengan hati-hati, dan aturan dijaga bersama. Perlahan, hasilnya terlihat.

Teripang kembali muncul. Lola dan lobster lebih stabil. Hasil tangkapan tidak lagi habis dalam sekali panen. Laut pulih, dan kepercayaan ikut tumbuh.

Pada 2019, wilayah kelola Waifuna diperluas menjadi 213 hektare. Angka itu bukan sekadar luasan, tetapi penanda pengakuan: perempuan mampu memimpin.

Dari Lokal ke Pola Bersama

Apa yang dimulai di satu kampung tidak berhenti di sana. Praktik serupa muncul di Kampung Aduwei dan Salafen. Pada 2022, kelompok perempuan pengelola sasi—Joom Jak dan Zakan Day—dibentuk.

Di Aduwei, dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari.

“Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” kata Mama Ribka.

Sasi kini menjadi cara komunitas mengambil keputusan dan mengelola hasil bersama. Perempuan yang sebelumnya jarang hadir dalam forum kampung mulai duduk di ruang-ruang itu. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga berbicara dan menentukan arah.

Menurut Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Hilda Lionata, perubahan ini menunjukkan bahwa sasi terus berkembang.

“Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat maupun terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Sistem

Pendampingan yang dimulai sejak 2008 mencakup banyak hal, pemahaman siklus hidup biota laut seperti teripang, lola, dan lobster, hingga keterampilan teknis seperti pemantauan dan menyelam. Namun, perubahan paling mendasar tidak selalu terlihat di laporan.

Ia tumbuh dalam cara perempuan memandang diri mereka sendiri—sebagai pihak yang punya pengetahuan, pengalaman, dan hak untuk menentukan.

Pertemuan tiga kelompok perempuan dari Misool, Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day, di Gianyar, Bali, pada April 2026 menjadi ruang untuk merawat proses itu. Mereka berbagi cerita, menyusun ulang pengalaman, dan menguatkan satu sama lain.

Di sana, sasi tidak lagi dibicarakan hanya sebagai tradisi. Ia menjadi jalan untuk mengubah relasi kuasa, tanpa harus meninggalkan akar yang sudah ada.

Dari Misool, pelajarannya sederhana: perubahan tidak selalu datang dengan mengganti sistem, tetapi dengan menggeser siapa yang memegang kendali di dalamnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

TNI AL Latih UMKM Pesisir Olah Hasil Laut dan Kedelai, Dorong Kemandirian Ekonomi

TNI AL Latih UMKM Pesisir Olah Hasil Laut dan Kedelai, Dorong Kemandirian Ekonomi

News | Jum'at, 10 April 2026 | 07:54 WIB

Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut

Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:52 WIB

Prabowo: 70 Kebutuhan Energi Asia Timur Lewat Laut Indonesia

Prabowo: 70 Kebutuhan Energi Asia Timur Lewat Laut Indonesia

News | Rabu, 08 April 2026 | 17:49 WIB

Terkini

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

Ditanya Kegiatan Setelah Dicopot dari Menkeu, Purbaya: Mau Mancing Sambil Ngelamun 'Kenapa Dipecat?'

Ditanya Kegiatan Setelah Dicopot dari Menkeu, Purbaya: Mau Mancing Sambil Ngelamun 'Kenapa Dipecat?'

Video | Selasa, 15 September 2026 | 22:15 WIB

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 21:51 WIB

×