Belanja Online Naik Pesat, Siapa yang Mesti Bertanggung Jawab Beban Sampahnya?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 14 April 2026 | 13:10 WIB
Belanja Online Naik Pesat, Siapa yang Mesti Bertanggung Jawab Beban Sampahnya?
Ilustrasi sampah bubble wrap kemasan dari belanja online (Freepik)

Suara.com - Tren belanja daring (online shopping) di Indonesia terus meroket sejak 2020. Dikutip dari Goodstats.id, nilai transaksi online tercatat melonjak secara signifikan terjadi pada tahun 2021 karena COVID-19. Pandemi yang terjadi pada akhirnya justru mempercepat adopsi digital dan mendorong perilaku masyarakat untuk masif berbelanja daring.

Dari yang sebelumnya transaksi online berada di angka Rp266,3 triliun, dalam empat tahun berikutnya bisa melonjak hampir dua kali lipat. Data Bank Indonesia (BI) mengatakan bahwa total transaksi e-commerce nasional pada tahun 2024 mencapai Rp487,01 triliun, yang berarti naik sekitar 7,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp453,75 triliun.

Kemudahan akses, diskon tanggal kembar, hingga banyaknya promo telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis. Namun, di balik kemudahan "klik dan bayar" ini, tersimpan masalah lingkungan yang pelik. Saat ini, sampah plastik turut mengalami lonjakan karena sering digunakan oleh produsen sebagai kemasan produk mereka. Pada akhirnya, beban sampah ini sepenuhnya akan ditanggung oleh konsumen dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dilema Overpackaging Demi Keamanan

Masalah utama yang sering ditemui adalah praktik overpackaging atau pengemasan yang berlebihan. Kebanyakan dari pelaku UMKM dan ekpedisi menganggap bahwa penggunaan plastik, selotip, hingga bubble wrap yang berlapis kini menjadi standar keamanan produk. Padahal, hal ini justru menciptakan tumpukan sampah yang sulit dikelola.

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar menyoroti hal ini:

"Anggapan teman-teman UMKM terhadap packaging, plastik bubble wrap yang semakin tebal, semakin aman untuk dilempar atau kena goncangan itu perlu diubah."

Akibatnya, konsumen menerima kiriman dengan volume sampah kemasan yang sering kali lebih besar daripada produknya sendiri. Sayangnya, opsi untuk memilih kemasan yang lebih ramah lingkungan masih sangat sulit diakses oleh masyarakat luas.

Konsumen Jadi Korban yang Memikul Beban

baca juga

Setelah proses unboxing selesai, konsumen kerap kebingungan dalam mengolah sisa kemasan tersebut. Sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang belum memiliki pemilahan terstruktur di tingkat rumah tangga, membuat sampah plastik e-commerce berakhir tercampur dengan sampah organik. Hal ini diperparah dengan rendahnya daya serap industri daur ulang terhadap jenis plastik tertentu.

"Teman-teman konsumen juga bingung, ini mau dibawa ke mana, pada akhirnya hanya menjadi sampah dan beban juga ketika menuju ke TPA," ujar Ibar.

Ia menambahkan bahwa jenis plastik seperti bubble wrap sangat sulit diterima oleh industri daur ulang, terutama jika warnanya gelap atau sudah tercampur dengan sisa kertas alamat dan selotip. Ibar juga memberi gambaran perjalanan perubahan warna produk demi daur ulang yang lebih mudah.

“Kita lihat bagaimana perjalanan si botol Sprite yang dulunya warna hijau, itu kan sangat sulit daur ulang, tapi kemudian akhirnya mereka berubah menjadi warna putih bening karena itu lebih mudah daur ulang. Soal warna saja itu juga mengaruhi soal daur ulang karena memang pada akhirnya kompleks ketika tidak ada dukungan, jadi mahal dan sebagainya,” jelas Ibar.

Saat ini, tanggung jawab pengelolaan sampah hasil belanja online seolah-olah sepenuhnya menjadi tugas konsumen, sementara peran industri atau pemilik platform digital belum hadir secara nyata.

Mendesak Tanggung Jawab Produsen

Ibar menjelaskan bahwa secara regulasi, industri sebenarnya memiliki kewajiban untuk menarik kembali kemasannya.

“Di undang-undang persampahan kita kan mereka wajib untuk menarik kembali kemasannya ya, entah itu Unilever, Danon, Mayora, atau sebagainya. E-commerce juga salah satu pihak industri yang seharusnya punya andil di sini untuk menarik kembali kemasannya,” kata Ibar.

Namun, di sektor e-commerce, komitmen ini masih sebatas kampanye dan belum menjadi standar operasional. Greenpeace mendorong agar platform digital tidak hanya memberikan opsi pengiriman berkelanjutan, tetapi juga menyiapkan ekosistem pasca konsumsi agar kemasan tidak langsung dibuang ke tempat sampah.

Jika sistem pengurangan sampah di hulu tidak segera diperbaiki, proyeksi 3-5 tahun ke depan sangat mengkhawatirkan. TPA akan semakin overload, dan sampah plastik dari aktivitas belanja daring akan terus memenuhi sudut-sudut kota tanpa ada penanganan yang tuntas. Perubahan harus dimulai dari sistem yang memaksa industri untuk bertanggung jawab, sehingga konsumen tidak lagi menjadi pihak terakhir yang sendirian memikul beban krisis plastik ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Sekadar Bank Sampah, Ini Kisah Kertabumi Beri Nyawa Kedua pada Limbah

Tak Sekadar Bank Sampah, Ini Kisah Kertabumi Beri Nyawa Kedua pada Limbah

Lifestyle | Senin, 13 April 2026 | 16:13 WIB

Ramadan-Lebaran 2026 Jadi 'Booster' Konsumsi, Program Belanja Tembus Rp184,02 Triliun

Ramadan-Lebaran 2026 Jadi 'Booster' Konsumsi, Program Belanja Tembus Rp184,02 Triliun

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 13:11 WIB

Harga Plastik Melonjak, Bisakah Momentum Ini Dorong Gaya Hidup Lebih Ramah Lingkungan?

Harga Plastik Melonjak, Bisakah Momentum Ini Dorong Gaya Hidup Lebih Ramah Lingkungan?

Lifestyle | Senin, 13 April 2026 | 11:36 WIB

Terkini

Mobilitas Kian Padat, Hyundai New CRETA Hadirkan Kabin Nyaman untuk Temani Setiap Perjalanan

Mobilitas Kian Padat, Hyundai New CRETA Hadirkan Kabin Nyaman untuk Temani Setiap Perjalanan

Jabar | Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00 WIB

Kendal Tornado FC Datangkan Kiper Timnas Indonesia U-20 Er Deva Aulia Egon

Kendal Tornado FC Datangkan Kiper Timnas Indonesia U-20 Er Deva Aulia Egon

Bola | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:58 WIB

Danantara Mulai Bidik Saham BEI

Danantara Mulai Bidik Saham BEI

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:55 WIB

Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar

Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:50 WIB

TVS Apache Rayakan 7 Juta Pengendara di 90 Negara, Perkuat Warisan Balap Lewat Kampanye Global

TVS Apache Rayakan 7 Juta Pengendara di 90 Negara, Perkuat Warisan Balap Lewat Kampanye Global

Otomotif | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:50 WIB

Rupiah Konsisten Menguat, Tapi Masih di atas Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Konsisten Menguat, Tapi Masih di atas Rp18.000 per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:49 WIB

Muktamar ke-35 PBNU Segera Digelar: Gus Ipul Ungkap Sosok yang Berpeluang Pimpin Nahdlatul Ulama

Muktamar ke-35 PBNU Segera Digelar: Gus Ipul Ungkap Sosok yang Berpeluang Pimpin Nahdlatul Ulama

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48 WIB

Punya Kuasa Ambil Alih Kasus Febrie, KPK: Tapi Bukan Seperti Memungut Barang di Jalan!

Punya Kuasa Ambil Alih Kasus Febrie, KPK: Tapi Bukan Seperti Memungut Barang di Jalan!

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:46 WIB

Isu Appi Pindah ke Partai Gerindra Menguat

Isu Appi Pindah ke Partai Gerindra Menguat

Sulsel | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:45 WIB

Tak Lagi Polos, Deodorant Tawas Kini Punya Aroma yang Lebih Personal

Tak Lagi Polos, Deodorant Tawas Kini Punya Aroma yang Lebih Personal

Lifestyle | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:44 WIB

×