Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 16 April 2026 | 10:13 WIB
Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri
Ilustrasi sampah.[antara]

Suara.com - Kondisi sungai di Jakarta kerap memunculkan pertanyaan yang sama: masihkah aliran air ini bisa dipulihkan? Bagi banyak pihak, jawabannya tidak sederhana.

Sebagai wilayah hilir, Jakarta menanggung beban aliran air dari kawasan hulu seperti Bogor dan Depok. Posisi geografis ini membuat sungai-sungai di ibu kota tidak hanya bergantung pada kondisi lokal, tetapi juga pada wilayah di atasnya.

Bagi River Ranger Jakarta, kondisi Sungai Ciliwung yang kini keruh tak lagi semata soal sampah. Mereka menilai persoalan utamanya terletak pada tata kelola yang belum terintegrasi.

“Kita tinggal di Jakarta yang merupakan hilir Sungai Ciliwung, dan tersambung dengan sungai-sungai kecil dari hulu di Bogor. Sulit menjaga kualitas Ciliwung,” ujar Koordinator Kurikulum River Ranger Jakarta, Andriana.

Menurutnya, Jakarta secara alami merupakan kawasan resapan dan aliran air. Namun, banyak kanal dan jalur air kini tertutup pembangunan permukiman. Dampaknya, aliran air terganggu dan memperparah kondisi sungai.

Di sisi lain, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan serius. Di Kelurahan Duren Tiga, misalnya, ratusan kepala keluarga masih membuang limbah domestik langsung ke sungai. Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah modernitas kota, akses sanitasi layak belum sepenuhnya merata.

Bukan Sistem, tapi Aksi dari Dalam Diri

Melihat kerusakan yang masif, apakah sungai Jakarta masih bisa dipulihkan?

Jika hanya mengandalkan kebijakan atau aksi bersih-bersih besar, jawabannya kerap terasa jauh. Sampah akan terus kembali selama perilaku masyarakat tak berubah.

baca juga

Namun, River Ranger Jakarta menawarkan sudut pandang lain: perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Nana menegaskan, perubahan sistemik berawal dari gaya hidup. Hal sederhana, seperti memilah sampah organik di rumah agar tidak menumpuk di TPST Bantar Gebang—bisa jadi langkah awal yang berdampak besar.

"Kalau sistemnya belum ada nggak apa-apa. Kita push pemerintah untuk ubah sistemnya. Kita nggak mau lagi buang sampah dicampur semuanya. Habis itu, you'll never know... Sekarang Pasar Minggu aja, tumpukan sampahnya udah banyak. Pasar Induk yang deket rumah kita sekarang, tumpukannya udah sampai 3 meter," tutur Nana.

Kesadaran ini bukan tanpa alasan. River Ranger ingin menyadarkan warga Jakarta bahwa bom waktu lingkungan ada di depan mata. Jika tumpukan sampah di Bekasi sudah penuh, bukan tidak mungkin tempat pembuangan sampah akan berdiri tepat di sebelah rumah kita.

Harapannya terletak pada kekuatan permintaan (demand) dari masyarakat. Ketika ratusan juta orang mulai mengubah kebiasaan, seperti membawa tumbler sendiri atau menolak plastik sekali pakai, produsen dan pemerintah pada akhirnya juga akan dipaksa untuk berubah.

“Bahkan sekarang, Pepsodent itu mengeluarkan sikat gigi dari bambu. Why? Karena demand-nya ada. Karena lifestyle orang udah mulai berubah. Di situlah produsen juga berubah,” ungkap Nana.

Tanamkan Kembali Empati pada Bumi

Perubahan tersebut memang tidak akan serta-merta menjernihkan Sungai Ciliwung dalam waktu singkat. Namun, River Ranger Jakarta berupaya mendorong kesadaran publik untuk membangun kembali nilai yang dinilai mulai hilang: empati terhadap lingkungan.

Menurut mereka, tanpa empati, berbagai solusi teknologi tidak akan cukup untuk mengatasi krisis lingkungan yang ada.

Founder dan Ketua River Ranger Jakarta, Syahiq Harpi, menegaskan bahwa akar persoalan lingkungan tidak semata terletak pada sampah, melainkan pada sikap manusia itu sendiri.

“Kerusakan lingkungan itu bukan dari sampahnya, tapi dari rasa empati yang hilang dari manusia,” ujarnya.

Pada akhirnya, upaya memulihkan sungai di Jakarta tidak hanya bergantung pada intervensi besar seperti pengerukan atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku sehari-hari masyarakat, mulai dari rumah, tentang bagaimana mereka memperlakukan dan mengelola limbah yang dihasilkan.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menularkan Kepedulian dari Pinggiran Ciliwung: Cara River Ranger Ubah Cara Pandang Terhadap Sungai

Menularkan Kepedulian dari Pinggiran Ciliwung: Cara River Ranger Ubah Cara Pandang Terhadap Sungai

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 11:30 WIB

Tak Cuma Edukasi, Ini Strategi Kertabumi Ubah Cara Warga Kelola Sampah

Tak Cuma Edukasi, Ini Strategi Kertabumi Ubah Cara Warga Kelola Sampah

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 16:55 WIB

Gen Z Mulai Pilih Baju dengan Nilai, Bisakah Ini Tekan Limbah Fashion?

Gen Z Mulai Pilih Baju dengan Nilai, Bisakah Ini Tekan Limbah Fashion?

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 16:55 WIB

Terkini

Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi

Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:50 WIB

5 Cara Mengatasi Kaki Lecet dan Pegal Setelah Jalan Kaki 20 Ribu Langkah

5 Cara Mengatasi Kaki Lecet dan Pegal Setelah Jalan Kaki 20 Ribu Langkah

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:40 WIB

Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama

Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama

Sumut | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:39 WIB

PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba

PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:38 WIB

Demo Sumpah Pemuda di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-Kacir

Demo Sumpah Pemuda di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-Kacir

Jogja | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:27 WIB

Apakah BPJS PBI yang Nonaktif Bisa Diaktifkan Kembali? Ini Langkah-langkahnya

Apakah BPJS PBI yang Nonaktif Bisa Diaktifkan Kembali? Ini Langkah-langkahnya

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:25 WIB

Rayakan 25 Tahun, L-Men Perkuat Inovasi Produk dan Ekosistem Hidup Sehat

Rayakan 25 Tahun, L-Men Perkuat Inovasi Produk dan Ekosistem Hidup Sehat

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:22 WIB

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar

Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Health | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:01 WIB

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:58 WIB

×