- Menteri Keuangan Purbaya memaparkan strategi ekonomi Indonesia kepada investor besar seperti Goldman Sachs.
- Berdiri sejak 1869, Goldman Sachs bertahan melewati berbagai krisis terparah dalam sejarah ekonomi.
- Raksasa Wall Street ini sukses bertransformasi ke era digital melalui inovasi perbankan daring.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja membedah strategi fiskal Indonesia di hadapan investor global raksasa, termasuk Goldman Sachs. Perhatian institusi keuangan paling berpengaruh di Wall Street ini tentu menjadi sinyal penting bagi perekonomian Tanah Air.
Kehadiran perwakilan negara di sela pertemuan IMF Amerika Serikat ternyata memantik rasa ingin tahu para penguasa modal. Mereka penasaran bagaimana kebijakan fiskal kita bisa selaras dengan cepatnya laju pertumbuhan ekonomi.
"Tadi pagi kita ketemu 18 investor besar, di antara yang besar adalah Goldman Sachs sama Fidelity, di samping yang lain juga besar-besar," ungkap Purbaya.
"Mereka sepertinya pengin menanyakan, ingin tahu komitmen kita terhadap pertemuan, terhadap anggaran seperti apa, dan masuk akal enggak," katanya dalam keterangan video, Kamis (16/4/2026).
Bendahara Negara ini kemudian menjelaskan strategi pengelolaan anggaran dengan sangat terperinci.
"Jadi mereka suka sekali dengan penjelasan kita bahwa kita akan menciptakan pertemuan ekonomi yang lebih cepat tanpa mengorbankan kehati-hatian kebijakan fiskal," lanjutnya.
"Sepertinya selama ini mereka masih agak bingung dengan kebijakan kita. Terutamanya mereka bingung, kenapa kita bisa tumbuh lebih cepat tapi anggarannya tetap terkendali. Kita jelaskan dengan gamblang pada pertemuan tadi pagi," jelasnya.
Sejarah Raksasa Finansial Wall Street
![Goldman Sachs Veterans Symposium 2022 [Instagram/GoldmanSachs]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/01/10/62363-goldman-sachs.jpg)
Ketertarikan Goldman Sachs terhadap ketahanan fiskal nasional patut dipahami lebih dalam mengingat mereka bukanlah pemain sembarangan. Goldman Sachs Group Inc. telah lama diakui sebagai simbol kekuatan absolut di dunia keuangan global.
Institusi ini lahir pada tahun 1869 dari tangan dingin Marcus Goldman, seorang imigran asal Jerman. Pada mulanya, operasional bisnis mereka hanya berkutat pada layanan surat berharga dan perdagangan obligasi.
Roda bisnis ini berputar sangat pesat setelah Goldman menggandeng menantunya yang bernama Samuel Sachs. Kolaborasi mertua dan menantu inilah yang melahirkan nama besar Goldman Sachs yang abadi hingga kini.
Kebal terhadap Berbagai Krisis Ekonomi
Kehebatan perusahaan ini tidak hanya diukur dari besarnya nilai kapitalisasi modal semata. Kemampuan mereka dalam membaca arah pasar membuat institusi ini sangat tangguh menghadapi badai ekonomi.
Sepanjang sejarah berdirinya, Goldman Sachs sukses melewati berbagai fase krisis paling mengerikan. Mulai dari era Depresi Besar, krisis keuangan global 2008, hingga hantaman mendadak pandemi COVID-19.
Saat ini, bisnis mereka ditopang oleh beberapa pilar divisi fungsional yang sangat masif. Terdapat sektor perbankan investasi, pasar global, manajemen aset, hingga layanan manajemen kekayaan konsumen.
Penasihat Perusahaan Teknologi Raksasa
Sebagai bank investasi terkemuka, mereka sering menjadi dalang utama di balik aksi merger raksasa dunia. Layanan konsultasi keuangan mereka bahkan sangat dipercaya oleh korporasi level wahid sejagat raya.
Nama-nama besar seperti Apple dan Amazon diketahui rutin memakai jasa mereka sebagai penasihat keuangan andalan. Fakta ini membuktikan betapa vitalnya peran perbankan asal New York tersebut di kancah global.
Kehadiran mereka senantiasa menyediakan likuiditas tinggi sekaligus mengelola risiko investasi skala besar. Tak heran jika pelaku pasar modal dunia sering menganggap institusi ini sebagai pembentuk arah tren.
Manuver Adaptasi Era Digital
Meski berlabel institusi konvensional berusia ratusan tahun, entitas ini menolak untuk tertinggal zaman. Transformasi besar-besaran dilakukan guna menyambut era disrupsi teknologi digital masa kini.
Kini, raksasa finansial tersebut gencar mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem kerja mereka. Analitik data dan otomatisasi juga menjadi fondasi baru bagi perluasan strategi bisnis modern.
Langkah paling revolusioner terlihat dari peluncuran platform perbankan ritel daring bernama Marcus by Goldman Sachs. Inovasi cemerlang ini menawarkan layanan tabungan berbunga kompetitif hingga produk pinjaman pribadi yang praktis.
Kehadiran aplikasi Marcus menjadi bukti nyata ambisi perusahaan menjangkau konsumen dari kelas ritel. Mereka membuktikan diri mampu merajai ranah perbankan digital tanpa harus repot membangun banyak cabang fisik.