- Fenomena wajah kempot akibat prosedur ultrasound terjadi karena distribusi energi yang tidak presisi pada lapisan kulit pasien.
- Dr. Aldisa menyarankan kombinasi teknologi energi terkontrol dan biostimulator untuk menstimulasi regenerasi kolagen secara aman dan efektif.
- Altruva Aesthetic Clinic menggunakan teknik A.R.T Lift by Sofwave untuk menjaga volume serta keseimbangan struktur wajah pasien.
Suara.com - Meningkatnya tren perawatan wajah berbasis energi seperti ultrasound memang membawa harapan baru bagi banyak orang yang ingin mendapatkan efek lifting tanpa operasi.
Namun di balik popularitas tersebut, muncul fenomena yang mulai menjadi perhatian di kalangan praktisi estetika, yaitu “wajah kempot”, kondisi ketika wajah justru tampak lebih cekung setelah menjalani prosedur pengencangan.
Menurut dr. Aldisa, Medical Director dan Founder Altruva Aesthetic Clinic, kondisi ini bukan sekadar efek samping biasa, melainkan hasil dari pendekatan yang kurang tepat dalam penggunaan energi.
Ia menjelaskan bahwa distribusi energi ultrasound yang tidak presisi menjadi faktor utama munculnya tampilan wajah yang hollow.
“Fenomena ‘wajah kempot’ ini terjadi ketika energi ultrasound tidak terdistribusi secara presisi pada lapisan kulit yang tepat. Di usia 40+, kolagen memang mulai drop. Namun bila energi ultrasound tidak tepat sasaran, bukan hanya mengencangkan tetapi juga dapat memengaruhi volume wajah,” jelasnya.

Seiring bertambahnya usia, terutama setelah memasuki 40 tahun, tubuh secara alami mengalami penurunan produksi kolagen. Padahal, kolagen merupakan komponen penting yang menjaga kekenyalan, struktur, dan volume kulit.
Ketika jumlahnya berkurang, kulit tidak hanya mengendur tetapi juga kehilangan “isi”, sehingga wajah terlihat lebih cekung. Menariknya, dr. Aldisa menggambarkan kolagen sebagai sesuatu yang “malas” untuk beregenerasi. Tanpa adanya stimulasi, kolagen tidak akan aktif memperbarui diri.
“Kolagen itu kalau enggak ada ‘luka’, dia enggak akan memperbarui diri. Bahkan dalam kondisi alami, bisa sampai belasan tahun tanpa regenerasi signifikan,” ujarnya.
Inilah mengapa stimulasi kolagen menjadi kunci dalam perawatan anti-aging. Namun, stimulasi tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan.
Ia menekankan adanya dua pendekatan utama yang perlu dikombinasikan, yaitu pemberian controlled injury melalui teknologi berbasis energi, serta penggunaan biostimulator untuk mendorong regenerasi dari dalam.
“Jadi, kita butuh dua cara untuk menstimulasi kolagen: satu dengan mesin yang memberikan injury terkontrol, dan satu lagi dengan biostimulator. Istilahnya hit and biostim,” jelasnya.
Selain faktor usia dan prosedur, gaya hidup juga berperan besar dalam mempercepat penurunan kualitas kolagen. Konsumsi gula berlebih, paparan sinar UV, polusi, hingga kurangnya asupan protein dapat memperburuk kondisi kulit.
“Kolagen itu butuh bahan bakar, yaitu protein. Tanpa itu, proses regenerasi tidak optimal. Kita bukan cuma bangun otot, tapi juga bangun kolagen,” tambahnya.
Bahkan, ia menyoroti pentingnya latihan kekuatan bagi wanita usia 40+, terutama menjelang menopause. Menurutnya, aktivitas seperti squat atau deadlift dapat membantu menjaga keseimbangan hormon yang berkontribusi pada kualitas kulit.
“Saya sering bilang ke pasien, skincare paling ‘canggih’ itu bukan cuma krim—tapi squat dan deadlift. Karena hormon yang mendukung kualitas kulit juga dipengaruhi oleh massa otot,” katanya.