Bersuara Dua Kali Lebih Lantang

Ketertarikan pada Owa Jawa membawanya masuk lebih jauh ke dunia konservasi. Namun, di dalamnya, ia juga menghadapi tantangan lain: ruang yang masih didominasi laki-laki.
Laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa kemajuan kesetaraan gender dalam pengambilan keputusan lingkungan masih berjalan lambat.
Meski demikian, Rahayu melihat perempuan memiliki peran penting.
“Sebagai perempuan, kita punya sensitivitas dan empati. Kita bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, perempuan dapat menjadi jembatan antara upaya konservasi dan masyarakat lokal—faktor yang kerap menentukan keberhasilan di lapangan.
Namun, ia juga menekankan bahwa perempuan perlu bersuara lebih lantang.
“Di dunia kerja yang maskulin, kita harus bersuara dua kali lebih keras agar didengar,” katanya.
Sikap itu ia tunjukkan lewat konsistensinya menyuarakan pelestarian Owa Jawa. Ia juga menilai kehadiran role model dan dukungan sesama perempuan penting untuk memperkuat posisi perempuan di sektor ini.
Membangun Kendaraan Untuk Masa Depan

Berangkat dari kecintaannya terhadap Owa Jawa, Rahayu mendirikan KIARA sebagai ruang belajar bagi generasi muda.
Melalui yayasan ini, ia ingin mendorong lahirnya konservasionis dan peneliti satwa liar dari Indonesia.
“Agar melalui anak-anak muda, Indonesia semakin dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi,” ujarnya.
Atas dedikasinya, ia menerima Whitley Award dari Whitley Fund for Nature. Penghargaan ini diberikan kepada konservasionis di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi yang melakukan aksi nyata di lapangan.
Selain itu, ia juga pernah meraih Women in Conservation Award 2023 dari Denver Zoo, serta sejumlah penghargaan internasional lainnya di bidang konservasi.
Di tengah ancaman terhadap habitat dan populasi satwa, perjalanan Rahayu menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari rencana besar.
Kadang, ia berawal dari kebetulan—dan keputusan untuk tetap bertahan.