Suara.com - Bagi sebagian orang, suara hutan mungkin hanya terdengar sebagai kebisingan latar. Namun, bagi Rahayu Oktaviani, vokalisasi Owa Jawa justru menghadirkan ketenangan sekaligus rasa ingin tahu yang mendalam. Hal itu membawanya menekuni dunia konservasi.
Bahkan, kini, ia memimpin KIARA untuk memastikan kera kecil endemik tersebut tetap bertahan di alam liar. Data Yayasan Owa Jawa mencatat, populasi Owa Jawa saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 2.000 hingga 4.000 individu.
Pilihan Tak Terduga, Awal Perjalanan di Konservasi Owa Jawa
Perjalanan Rahayu Oktaviani di dunia konservasi bermula dari sebuah “kecelakaan” riset saat ia menempuh studi di Institut Pertanian Bogor.
Tak banyak yang tahu, pilihannya masuk jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) berangkat dari alasan sederhana: ia tidak bisa berenang saat SMA.
Saat itu, ia dihadapkan pada dua pilihan, yakni konservasi dan ilmu kelautan.
“Konservasi itu namanya keren,” ujarnya. Ia juga menilai bidang tersebut membuka peluang untuk berpetualang.
“Waktu muda, saya pikir konservasi itu tentang melindungi sesuatu,” tambahnya.
Seiring waktu, pemahamannya berkembang. Ia mulai menyadari bahwa konservasi bukan sekadar melindungi, melainkan menjaga keberlanjutan ekosistem.
Minatnya sempat tertuju pada orangutan. Namun keterbatasan dana membuatnya beralih meneliti Owa Jawa atas saran dosen. Pilihan itu menjadi titik balik.
Penelitian tentang Owa Jawa dimulainya pada 2008 saat menyusun skripsi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Selama hampir dua minggu, ia belum berhasil merekam suara owa. Hingga akhirnya, momen itu datang.
“Begitu saya mendengar suaranya, itu jadi salah satu suara paling indah yang saya dengar di alam. Dari situ saya mulai jatuh cinta,” kenangnya.
Sejak saat itu, ia mendalami Owa Jawa. Selama sekitar 17 tahun, ia mendedikasikan diri meneliti primata tersebut, hingga akhirnya turut mendirikan KIARA pada 2020.
“Sebenarnya tugas kita bukan cuma melestarikan Owa Jawa, tapi semua makhluk hidup, termasuk manusia. Karena manusia itu bagian dari ekosistem,” ujarnya.
Namun, di balik ketertarikan itu, ada tantangan lain yang tak kalah besar: bagaimana menyuarakan kepedulian tersebut di ruang konservasi yang masih didominasi laki-laki.
Bersuara Dua Kali Lebih Lantang

Ketertarikan pada Owa Jawa membawanya masuk lebih jauh ke dunia konservasi. Namun, di dalamnya, ia juga menghadapi tantangan lain: ruang yang masih didominasi laki-laki.
Laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa kemajuan kesetaraan gender dalam pengambilan keputusan lingkungan masih berjalan lambat.
Meski demikian, Rahayu melihat perempuan memiliki peran penting.
“Sebagai perempuan, kita punya sensitivitas dan empati. Kita bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, perempuan dapat menjadi jembatan antara upaya konservasi dan masyarakat lokal—faktor yang kerap menentukan keberhasilan di lapangan.
Namun, ia juga menekankan bahwa perempuan perlu bersuara lebih lantang.
“Di dunia kerja yang maskulin, kita harus bersuara dua kali lebih keras agar didengar,” katanya.
Sikap itu ia tunjukkan lewat konsistensinya menyuarakan pelestarian Owa Jawa. Ia juga menilai kehadiran role model dan dukungan sesama perempuan penting untuk memperkuat posisi perempuan di sektor ini.
Membangun Kendaraan Untuk Masa Depan

Berangkat dari kecintaannya terhadap Owa Jawa, Rahayu mendirikan KIARA sebagai ruang belajar bagi generasi muda.
Melalui yayasan ini, ia ingin mendorong lahirnya konservasionis dan peneliti satwa liar dari Indonesia.
“Agar melalui anak-anak muda, Indonesia semakin dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi,” ujarnya.
Atas dedikasinya, ia menerima Whitley Award dari Whitley Fund for Nature. Penghargaan ini diberikan kepada konservasionis di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi yang melakukan aksi nyata di lapangan.
Selain itu, ia juga pernah meraih Women in Conservation Award 2023 dari Denver Zoo, serta sejumlah penghargaan internasional lainnya di bidang konservasi.
Di tengah ancaman terhadap habitat dan populasi satwa, perjalanan Rahayu menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari rencana besar.
Kadang, ia berawal dari kebetulan—dan keputusan untuk tetap bertahan.
Dan dalam proses itu, suara hutan yang semula dianggap latar, menjadi sesuatu yang diperjuangkan.
Penulis: Natasha Suhendra