Menjaga yang Tersisa: Peran Rahayu Oktaviani dan KIARA dalam Konservasi Owa Jawa

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 23 April 2026 | 10:44 WIB
Menjaga yang Tersisa: Peran Rahayu Oktaviani dan KIARA dalam Konservasi Owa Jawa
Owa Jawa berada di hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor, Jawa Barat, Senin (23/11).

Suara.com - Populasi Owa Jawa terus menyusut dan kini berada di titik kritis. Dengan jumlah tersisa hanya sekitar 1.000–2.000 ekor di alam liar, primata ini menjadi salah satu spesies owa paling langka di dunia, dengan sebaran terbatas di Jawa bagian barat.

Di Taman Nasional Ujung Kulon saja, pada 2022 populasinya diperkirakan hanya sekitar 435 individu. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan spesies sekaligus ekosistem hutan yang bergantung padanya.

Situasi inilah yang mendorong Rahayu Oktaviani untuk bergerak. Ia merupakan peneliti primata asal Indonesia yang telah lebih dari satu dekade meneliti Owa Jawa, sekaligus dikenal aktif mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi.

Bagi Rahayu, menyaksikan Owa Jawa bangun hingga kembali tidur adalah sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang. Namun, setelah bertahun-tahun mengamati primata liar ini, ia menyadari bahwa data ilmiah saja tidak cukup tanpa aksi nyata di lapangan.

Dari kesadaran itulah, ia bersama rekan-rekannya mendirikan yayasan KIARA (Konservasi Ekosistem Alam Nusantara) sebagai wadah untuk mendorong upaya konservasi yang lebih aktif dan kolaboratif.

KIARA, Dari Riset Menuju Aksi

Secara legal, KIARA berdiri pada September 2020. Namun, inisiatif ini telah dirintis sejak 2014, berangkat dari keterlibatan Rahayu dalam proyek Javan Gibbon Research and Conservation Project yang kemudian menjadi fondasi pembentukan yayasan tersebut.

Rahayu menyadari bahwa riset harus berjalan berdampingan dengan aksi nyata. KIARA pun mengembangkan tiga program utama, yaitu riset dan monitoring, perlindungan konservasi, dan pengembangan masyarakat. Ketiganya dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan banyak pihak. 

“Kami memiliki harapan bahwa di masa depan Owa Jawa ini bisa lestari dengan adanya dukungan dari semua pihak. Dengan adanya kolaborasi dari masyarakat, dari pemerintah, dari berbagai instansi yang saling terkait.” ujarnya.

baca juga

Dinamika di Lapangan

Potret Tim KIARA Saat Berada di Lapangan (instagram/@roktaviani)
Potret Tim KIARA Saat Berada di Lapangan (instagram/@roktaviani)

Bekerja di habitat alami memberi kesempatan langka untuk mengamati perilaku Owa Jawa secara langsung. Namun, pengamatan di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana dan kerap menghadirkan situasi tak terduga.

Dalam satu pemantauan, dua kelompok Owa Jawa yang biasanya memiliki pola aktivitas berbeda justru bertemu, memicu interaksi yang di luar perkiraan tim peneliti.

“Kami tidak ekspek ketika melakukan pengamatan, tiba-tiba kelompok A bertemu dengan kelompok B. Sehingga akhirnya terjadi konfrontasi dan perilaku agresif,” timpalnya. 

Selama kejadian tersebut kedua kelompok Owa itu bersahut-sahutan. Sehingga mereka harus menunggu konfrontasi selesai dan pulang lebih larut.  

“Awalnya saya sudah membayangkan pulang ke kamp Owa. Bisa istirahat dan bisa menikmati masakan Ibu masa kami yang namanya Bu Amot yang sangat lezat. Namun, kejadian tersebut membuyarkan lamunan saya tentang masakan lezat itu” ucapnya. 

Meski melelahkan, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga tentang dinamika alami satwa liar yang tidak selalu dapat diprediksi. 

Belajar dari Pengetahuan Lokal

Potret Pembagian Kalender KIARA 2026 Kepada Masyarakat Dalam Acara Sosialisai Owa Jawa (instagram/@yayasankiara)
Potret Pembagian Kalender KIARA 2026 Kepada Masyarakat Dalam Acara Sosialisai Owa Jawa (instagram/@yayasankiara)

Salah satu prinsip utama KIARA adalah menghargai pengetahuan masyarakat lokal. Rahayu menekankan bahwa peneliti bukan satu-satunya sumber pengetahuan mengenai hutan. Oleh karena itu, KIARA berupaya menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lokal. 

“Masyarakat lokal yang sudah hidup berdampingan dengan hutan, berinteraksi dengan hutan selama sekian generasi pun memiliki pengetahuan lokal.” tegas Rahayu. 

“Sehingga pada akhirnya solusi konservasi bukan hanya berasal dari kita sebagai outsider, tetapi sesuatu yang memang nantinya akan dimiliki oleh bersama-sama semua pihak” katanya. 

Rahayu juga percaya bahwa konservasi bukan tentang hanya menyelamatkan spesies satwa liar atau misalkan tumbuhan tertentu, tetapi juga bagaimana dapat melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam upaya pelestarian tersebut.

Konservasi yang Inklusif

Potret Kegiatan Rasamala (Rangkaian Kegiatan Eksplorasi Bersama ) yang Diselenggarakan oleh Yayasan KIARA (instagram/@yayasankiara)
Potret Kegiatan Rasamala (Rangkaian Kegiatan Eksplorasi Bersama ) yang Diselenggarakan oleh Yayasan KIARA (instagram/@yayasankiara)

KIARA tidak ingin hasil penelitian terkurung dalam bahasa saintifik yang sulit untuk dimengerti. Mereka ingin menyebarluaskan informasi agar semua orang bisa ikut peduli tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan konservasi. Lebih jauh lagi, KIARA ingin berkomitmen untuk menjadi ruang terbuka bagi anak muda Indonesia untuk mempelajari primata dan konservasi. 

“Kami membuka kesempatan bagi anak muda melalui program riset dan monitoring serta skema Beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Harapannya nantinya di masa depan semakin banyak konservasionis yang berasal dari Indonesia ” tutupnya. 

Penulis: Natasha Suhendra 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini

Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini

Lifestyle | Rabu, 22 April 2026 | 16:30 WIB

Perempuan di Balik Konservasi, Cerita Rahayu Oktaviani 17 Tahun Dedikasikan Diri untuk Owa Jawa

Perempuan di Balik Konservasi, Cerita Rahayu Oktaviani 17 Tahun Dedikasikan Diri untuk Owa Jawa

Lifestyle | Rabu, 22 April 2026 | 14:00 WIB

4 Jenis Ikan Belida yang Nyaris Punah Berhasil Dikonservasi di Sungai Musi

4 Jenis Ikan Belida yang Nyaris Punah Berhasil Dikonservasi di Sungai Musi

News | Senin, 13 April 2026 | 18:30 WIB

Terkini

Promo Cashback BRImo di Osteria Gia Bikin Makan Pasta Makin Untung

Promo Cashback BRImo di Osteria Gia Bikin Makan Pasta Makin Untung

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 19:53 WIB

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

Kalbar | Minggu, 13 September 2026 | 19:46 WIB

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 19:32 WIB

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Health | Minggu, 13 September 2026 | 19:28 WIB

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:13 WIB

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 19:03 WIB

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:55 WIB

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

×