Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 23 April 2026 | 15:24 WIB
Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim
gaya hidup ramah lingkungan. (Pexels)
baca 10 detik
  • Ilmuwan Michael Maniates menyatakan bahwa gaya hidup ramah lingkungan oleh individu tidak cukup efektif mengatasi krisis iklim global.
  • Fokus berlebihan pada konsumsi individu justru mengalihkan perhatian publik dari peran aktor besar serta sistem industri yang merusak.
  • Masyarakat perlu beralih dari sekadar konsumen menjadi warga kolektif untuk mendorong perubahan sistemik serta kebijakan publik yang efektif.

Suara.com - Selama bertahun-tahun, publik didorong berkontribusi menyelamatkan lingkungan lewat pilihan gaya hidup—mulai dari membawa tas belanja sendiri, mengurangi plastik, hingga membeli produk ramah lingkungan. Namun, pendekatan ini dinilai tidak cukup untuk menjawab krisis iklim yang semakin kompleks.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Michael Maniates, ilmuwan sosial lingkungan yang pernah menjadi profesor studi lingkungan di Yale-NUS University, Singapura, dan telah lama meneliti konsumsi hijau.

Dalam sebuah diskusi podcast, seperti dikutip dari Eco Busines ia menilai fokus berlebihan pada aksi individu justru bisa menyesatkan arah perubahan.

Menurut Maniates, narasi yang berkembang di ruang publik—terutama melalui iklan dan produk—mendorong anggapan bahwa tindakan kecil seperti membeli produk “hijau” dapat menghasilkan perubahan besar.

“Gagasan bahwa pilihan konsumsi individu bisa mendorong perubahan sistemik itu keliru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gaya hidup ramah lingkungan tidak sepenuhnya buruk. Praktik seperti konsumsi organik atau pengurangan limbah dapat membantu individu hidup lebih sadar dan sehat. Namun, dampaknya sangat terbatas jika dibandingkan dengan skala kerusakan lingkungan secara global.

Dalam bukunya The Living Green Myth, Maniates menilai pendekatan berbasis konsumsi justru mempersempit cara pandang publik terhadap isu lingkungan. Perubahan iklim, menurutnya, bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan terkait erat dengan sistem besar seperti energi, industri, dan kebijakan publik.

“Ketika kita terlalu fokus pada konsumen, perhatian kita teralihkan dari aktor-aktor besar dan sistem yang sebenarnya menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagian besar dampak lingkungan dari suatu produk terjadi jauh sebelum sampai ke tangan konsumen. Rantai produksi dan distribusi menyumbang sekitar 90 hingga 95 persen dari jejak ekologis, sehingga perubahan di tingkat individu menjadi relatif kecil pengaruhnya.

baca juga

Meski demikian, Maniates tidak sepenuhnya menolak peran individu. Ia menegaskan bahwa tindakan individu tetap penting, tetapi dalam bentuk yang berbeda—yakni sebagai warga yang terlibat secara kolektif, bukan sekadar sebagai konsumen.

Ia juga mengkritik penggunaan istilah “kita” dalam isu lingkungan, yang kerap menyamarkan perbedaan tanggung jawab. Menurutnya, tidak semua pihak memiliki kontribusi dan kekuatan yang sama dalam menyebabkan maupun mengatasi krisis iklim.

Lebih jauh, Maniates menilai gaya hidup hijau justru bisa mengurangi partisipasi publik dalam aksi kolektif. Banyak orang merasa sudah “cukup berkontribusi” setelah membeli produk ramah lingkungan, sehingga enggan terlibat dalam upaya yang lebih luas seperti advokasi kebijakan atau gerakan sosial.

Sebagai contoh, ia menyinggung teknologi seperti kendaraan listrik yang sering dianggap solusi utama. Meski lebih baik dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, teknologi ini tidak serta-merta mengubah sistem transportasi secara menyeluruh. “Kita butuh perubahan sistem, seperti transportasi publik yang efisien, bukan hanya mengganti jenis kendaraan,” katanya.

Di tengah meningkatnya konsumsi global, Maniates tetap menyimpan optimisme. Ia percaya perubahan tetap mungkin terjadi, asalkan masyarakat bergeser dari pola pikir sebagai konsumen menjadi warga yang aktif mendorong perubahan sistemik.

“Harapan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja, tapi sesuatu yang kita lakukan bersama,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pilihan belanja, tetapi oleh sejauh mana masyarakat mampu bekerja sama, mendorong kebijakan, dan mengubah sistem yang ada.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hari Bumi 2026: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lagi Ngetren, Bukan Sekadar Tanam Pohon

Hari Bumi 2026: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lagi Ngetren, Bukan Sekadar Tanam Pohon

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 06:20 WIB

Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini

Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini

Lifestyle | Rabu, 22 April 2026 | 16:30 WIB

Perempuan di Balik Konservasi, Cerita Rahayu Oktaviani 17 Tahun Dedikasikan Diri untuk Owa Jawa

Perempuan di Balik Konservasi, Cerita Rahayu Oktaviani 17 Tahun Dedikasikan Diri untuk Owa Jawa

Lifestyle | Rabu, 22 April 2026 | 14:00 WIB

Terkini

Pahami Dilema Orangtua Urban, Nikita Willy Buka Ruang Hadir Utuh Lewat FamFest 2026

Pahami Dilema Orangtua Urban, Nikita Willy Buka Ruang Hadir Utuh Lewat FamFest 2026

Entertainment | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:40 WIB

RiaMiranda Archive Sale 2026 Tawarkan Koleksi Eksklusif dan Promo Menarik dari BRI

RiaMiranda Archive Sale 2026 Tawarkan Koleksi Eksklusif dan Promo Menarik dari BRI

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:40 WIB

Bagaimana Cara Cetak KK Barcode Sendiri Menggunakan Kertas A4?

Bagaimana Cara Cetak KK Barcode Sendiri Menggunakan Kertas A4?

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:35 WIB

DPRD Desak DKI Kebut Mitigasi Banjir Sebelum Hujan

DPRD Desak DKI Kebut Mitigasi Banjir Sebelum Hujan

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:33 WIB

Bukan Cuma Buat MBG! Bima Arya Luruskan Simpang Siur Anggaran Insentif Daerah Rp1 Triliun

Bukan Cuma Buat MBG! Bima Arya Luruskan Simpang Siur Anggaran Insentif Daerah Rp1 Triliun

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Ulasan Film Laut Bercerita: Ketika Suara Demokrasi Dibungkam dengan Paksa!

Ulasan Film Laut Bercerita: Ketika Suara Demokrasi Dibungkam dengan Paksa!

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak

Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:29 WIB

Cara Memilih Sunscreen untuk Usia 40 Tahun ke Atas agar Perlindungan Kulit Lebih Optimal

Cara Memilih Sunscreen untuk Usia 40 Tahun ke Atas agar Perlindungan Kulit Lebih Optimal

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:24 WIB

356 Perusahaan Diperiksa soal Karhutla, Jumhur Ancam Cabut Izin Korporasi Nakal!

356 Perusahaan Diperiksa soal Karhutla, Jumhur Ancam Cabut Izin Korporasi Nakal!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:24 WIB

Charger Listrik BYD Dirantai Besi Diduga Akibat Persaingan Bisnis

Charger Listrik BYD Dirantai Besi Diduga Akibat Persaingan Bisnis

Otomotif | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:20 WIB

×