- Obesitas pada orang dewasa diprediksi akan meningkat 115% hingga pada 2030.
- Terapi untuk mengatasi obesitas semakin diburu seiring dengan kepedulian terhadap kesehatan.
- Ada lima yakni diet, terapi perilaku dan pendampingan, obat anti obesitas, balon lambung dan bariatrik.
Suara.com - Obesitas dianggap sebagai ibu dari segala penyakit karena berpotensi ‘melahirkan’ hipertensi, diabetes hingga serangan jantung. Hasilnya seiring meningkatnya kasus, terapi obesitas semakin diburu.
Adapun peningkatan obesitas bukanlah isapan jempol belaka. Data laporan World Obesity Federation pada Maret 2025 menyebutkan, obesitas pada orang dewasa akan meningkat 115% hingga pada 2030 mendatang.
Selain itu Organisasi Kesehetan Dunia (WHO) mengungkap obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi dalam jangka panjang. Tapi sayangnya penanganan obesitas tidaklah sederhana, kebanyakan pasien membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari perubahan gaya hidup hingga intervensi medis.
Berikut ini 5 terapi obesitas yang bisa jadi pilihan seiring perkembangan teknologi kesehatan, hasil rangkuman Suara.com, Sabtu (25/4/2026)
1. Perbaikan pola hidup (diet)
Terapi paling dasar dalam penanganan obesitas adalah perubahan gaya hidup, meliputi pengaturan pola makan seimbang, kurangi konsumsi gula dan lemak serta peningkatan aktivitas fisik.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Shiela Stefani, M.Gizi, SpGK, AIFO-K, FINEM menegaskan bahwa perubahan gaya hidup adalah fondasi utama agar pasien obesitas bisa menurunkan berat badan dengan stabil tanpa efek Yoyo.
“Penanganan obesitas tidak bisa instan. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari tetap menjadi fondasi utama yang harus dijalani pasien,” ujar dr. Shiela dalam Workshop The 8th Bandung Nutri Wellness, di RS Al Islam Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
2. Terapi perilaku dan pendampingan
Terapi perilaku dan pendampingan tenaga medis menjadi pendekatan penting untuk membantu pasien mengubah kebiasaan makan dan gaya hidup. Ini karena pendamping merupakan ahli gizi, dokter, personal trainer hingga psikolog.
Para pendamping ini nantinya akan membantu pasien memahami pola makan emosional, manajemen stres, hingga membangun rutinitas sehat. Apalagi menurut dr. Shiela, banyak kasus obesitas berkaitan dengan kebiasaan yang terbentuk dalam jangka panjang.
“Bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana kebiasaan itu terbentuk. Karena itu, terapi perilaku menjadi bagian penting dalam penanganan obesitas,” jelas dr. Shiela.
3. Obat anti obesitas
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu menurunkan berat badan. Obat ini bekerja dengan berbagai mekanisme, seperti menekan nafsu makan atau mengurangi penyerapan lemak.
Namun penggunaan obat harus berada di bawah pengawasan tenaga medis karena memiliki indikasi dan potensi efek samping.