Suara.com - Kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha masih menjadi perhatian publik. Terbaru, ada orang tua yang angkat suara setelah melihat perubahan perilaku seksual pada anak-anak mereka usai mengikuti aktivitas di tempat tersebut.
Salah satunya disampaikan oleh Fadli di Mapolresta Jogja pada Senin (27/4/2026) sore. Ia mengaku menemukan perubahan mencolok pada anaknya termasuk keluhan fisik di area sensitif yang berlangsung beberapa hari.
Dalam pengakuannya, setelah pertemuan bersama pihak kepolisian dan pendamping profesional ternyata beberapa orang tua juga menyampaikan pengalaman serupa.
Karena temuan tersebut, Fadli dan para orang tua pun menginginkan ada investigasi lebih lanjut.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi banyak keluarga terkait perubahan kecil pada anak bisa jadi sinyal besar yang tidak boleh diabaikan.
Lantas apa saja ciri-ciri anak mengalami kekerasan seksual? Simak penjelasan berikut ini.
Anak Lebih Sering "Berbicara" Lewat Perilaku
![Ilustrasi anak di daycare [freepik]](https://media.arkadia.me/v2/articles/triasrohmadoni/NJeoHlFCrTdMNYAa4EvyAWVM34AdjEOx.png)
Tidak semua anak mampu mengungkapkan pengalaman buruk dengan kata-kata. Banyak dari mereka justru menunjukkan tekanan atau trauma lewat perubahan sikap. Karena itu, kepekaan orang tua menjadi kunci utama dalam mendeteksi tanda-tanda yang tidak biasa.
Perlu dipahami, satu atau dua perubahan belum tentu berarti sesuatu yang serius. Namun jika tanda-tanda muncul bersamaan dan berlangsung terus-menerus, orang tua perlu lebih waspada.
Perubahan Emosi dan Perilaku yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda yang sering muncul pada anak yang mengalami kekerasan seksual antara lain:
1. Tiba-tiba berubah menjadi lebih pendiam, murung, atau menarik diri dari lingkungan
2. Mengalami mimpi buruk, sulit tidur, atau sering terbangun di malam hari
3. Menunjukkan perilaku seksual yang tidak sesuai usia, misalnya melalui permainan
4. Kehilangan rasa aman, mudah cemas, atau justru menjadi sangat bergantung pada orang tertentu
5. Mendadak menjadi pemberontak atau justru tertutup dan penuh rahasia
6. Kembali ke kebiasaan lama seperti mengompol
7. Takut pada orang atau tempat tertentu tanpa alasan jelas
8. Perubahan pola makan, baik menjadi berlebihan atau justru menurun drastis
9. Menggunakan kata-kata vulgar terkait tubuh yang tidak sesuai usianya
10. Mulai menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan berbahaya
Selain itu, anak juga bisa memberi "kode" tidak langsung. Misalnya, tiba-tiba menolak bertemu seseorang, atau menunjukkan reaksi emosional berlebihan saat berada di situasi tertentu.
Tanda Fisik yang Tidak Boleh Diabaikan
Selain perubahan perilaku, ada juga tanda fisik yang perlu diperhatikan, seperti:
1. Memar atau luka yang tidak jelas penyebabnya, terutama di area sensitif
2. Nyeri, gatal, atau ketidaknyamanan pada area genital
3. Kesulitan berjalan, duduk, atau berdiri
4. Keluhan kesehatan berulang tanpa sebab jelas
5. Perdarahan yang tidak wajar
6. Bahkan dalam kasus ekstrem, kehamilan atau infeksi menular seksual
Jika tanda-tanda ini muncul bersamaan, penting untuk segera mencari bantuan profesional.
Kenapa Anak Sering Tidak Bercerita?
Banyak korban anak tidak menyadari bahwa mereka mengalami kekerasan. Ada juga yang merasa takut, diancam, atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Hal inilah yang membuat kasus seperti ini sering terlambat terungkap.
Pelaku pun tidak selalu orang asing. Dalam banyak kasus, justru berasal dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak.
Langkah Orang Tua Menyikapi Perubahan Perilaku Seksual Anak
![Ilustrasi anak di daycare [freepik]](https://media.arkadia.me/v2/articles/triasrohmadoni/e53I6UOlaJcMj7arQPADLc1aoLOBzDMo.png)
Menghadapi situasi seperti ini memang tidak mudah. Namun, ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:
1. Bangun komunikasi yang aman
Ajak anak berbicara dengan tenang, tanpa tekanan. Dengarkan dengan penuh perhatian, tanpa menyela atau menghakimi.
2. Beri waktu dan ruang
Tidak semua anak siap bercerita langsung. Biarkan mereka membuka diri dengan ritme mereka sendiri.
3. Berikan dukungan penuh
Yakinkan anak bahwa mereka tidak bersalah. Dukungan emosional sangat penting untuk memulihkan rasa aman mereka.
4. Libatkan pihak profesional
Segera konsultasikan dengan psikolog atau tenaga ahli jika menemukan tanda-tanda mencurigakan.
5. Laporkan jika ada indikasi kuat
Kekerasan seksual adalah tindak pidana. Orang tua dapat melapor ke kepolisian atau lembaga perlindungan anak agar kasus bisa ditangani secara hukum.
Trauma Bisa Bertahan Lama
Dampak kekerasan seksual pada anak tidak hanya terjadi saat itu saja. Trauma bisa terbawa hingga dewasa, bahkan meningkatkan risiko menjadi korban kembali di masa depan. Oleh karenanya, penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan.
Kasus Little Aresha menjadi pengingat bahwa keamanan anak tidak bisa dianggap remeh. Perhatian kecil, komunikasi yang hangat, dan kepekaan orang tua bisa menjadi benteng pertama dalam melindungi mereka.
Kontributor : Trias Rohmadoni