- Harita Nickel meresmikan tiga rumah belajar di Pulau Obi, Halmahera Selatan, pada tanggal 2 Mei 2026.
- Program ini menyediakan fasilitas pendidikan informal bagi anak-anak untuk meningkatkan literasi di wilayah kepulauan terpencil tersebut.
- Sebanyak 210 siswa kini memiliki akses ruang belajar yang nyaman guna menunjang keterampilan membaca dan menulis.
Suara.com - Menjelang sore, sebuah ruangan bercat jingga di Desa Fluk, Pulau Obi, Maluku Utara, mulai dipenuhi anak-anak yang duduk di meja-meja kecil berwarna cerah. Sebagian sibuk membuka lembar demi lembar buku bacaan, sebagian lain serius memperhatikan tulisan di hadapan mereka, sementara seorang pendamping menemani proses belajar di tengah ruangan.
Rak buku sederhana di sudut ruangan menjadi teman sore anak-anak desa yang datang untuk membaca bersama.
Pemandangan sederhana itu menggambarkan wajah lain perjuangan literasi di Maluku Utara. Di tengah keterbatasan akses bacaan dan fasilitas belajar, ruang-ruang kecil seperti rumah belajar menjadi tempat anak-anak menemukan kesempatan untuk membaca, bermain, dan tumbuh bersama.
Meski angka buta aksara di provinsi ini menurun menjadi 1,05 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tantangan literasi belum sepenuhnya selesai.
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (ILPM) Maluku Utara masih berada di bawah rata-rata nasional. Di banyak wilayah kepulauan, akses terhadap bahan bacaan, ruang belajar, hingga fasilitas pendidikan informal masih terbatas.

Kondisi geografis menjadi salah satu hambatan terbesar. Jarak antarpulau, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya ruang belajar membuat anak-anak di sejumlah desa sulit mendapatkan akses literasi yang memadai di luar sekolah.
Di tengah situasi itu, rumah belajar informal mulai hadir sebagai ruang alternatif. Salah satunya melalui program Rumah Belajar yang dibangun Harita Nickel di Pulau Obi. Hingga kini, terdapat tiga rumah belajar yang berdiri di Desa Gambaru, Ocimaleo, dan Desa Fluk yang baru diresmikan pada 2 Mei 2026.
Setiap sore, rumah belajar ini dipenuhi aktivitas sederhana: membaca selama 15 menit, belajar menulis, mendongeng, bermain kuis pengetahuan, hingga menonton film edukasi bersama. Pendekatannya dibuat santai agar anak-anak merasa nyaman belajar tanpa tekanan.
“Setiap sore anak-anak datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya,” kata Hamsiah Drakel, salah satu orang tua di Desa Fluk.
Bagi sebagian orang tua, rumah belajar juga menjadi cara untuk mengalihkan anak dari ketergantungan gawai. Nadia Abdullah mengaku kini anak-anak di desanya memiliki kegiatan yang lebih bermanfaat dibanding sekadar bermain ponsel sepanjang hari.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua HIMPSI Maluku Utara, Syaiful Bahry, menilai ruang belajar komunal seperti ini memiliki dampak sosial yang besar. Menurutnya, anak-anak belajar lebih efektif ketika merasa aman dan tidak takut salah.
“Ruang kecil seperti ini bisa menjadi fondasi penting bagi ketahanan mental dan pembangunan manusia jangka panjang,” ujarnya.
Program rumah belajar ini telah menjangkau sekitar 210 siswa. Selain menyediakan buku dan permainan edukatif, rumah belajar juga menghadirkan guru pendamping untuk membantu anak-anak yang belum lancar membaca.
Di wilayah kepulauan yang akses literasinya masih timpang, rumah-rumah belajar sederhana itu perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan baru. Bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang memberi ruang bagi anak-anak untuk bermimpi lebih jauh.