Mengapa Rendang 120 Daun Kian Sulit Dimasak? Saat Hutan Tak Lagi Dekat dengan Desa

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Selasa, 26 Mei 2026 | 14:55 WIB
Mengapa Rendang 120 Daun Kian Sulit Dimasak? Saat Hutan Tak Lagi Dekat dengan Desa
Ilustrasi rendang pangan lokal. (Freepik)

Suara.com - Krisis pangan lokal tidak selalu berawal dari hilangnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional. Dalam banyak kasus, persoalannya justru terletak pada perubahan bentang alam yang membuat bahan baku pangan semakin sulit diakses.

Temuan tersebut disampaikan gastronom sekaligus peneliti pangan lokal, Mei Batubara, setelah melakukan riset selama lebih dari dua setengah tahun di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu kisah yang paling membekas baginya berasal dari Sumatra Barat, tempat ia menemukan jejak kuliner tradisional yang kini berada di ambang kepunahan: rendang 120 daun.

Berbeda dengan rendang pada umumnya, angka 120 dalam hidangan ini tidak merujuk pada jumlah lembar daun yang digunakan, melainkan jumlah varietas daun yang menjadi bahan penyusunnya.

“Daunnya 120 macam, bukan 120 lembar. Jadi, ada 120 jenis daun yang berbeda. Hebatnya, masih ada tinggal dua atau tiga ibu-ibu yang masih tahu resepnya,” ujar Mei dalam Raksa Loka Fest 2026, Sabtu (23/5).

Rendang vegetarian Singapura. (Sumber: The Strait Times Singapore)
Rendang vegetarian Singapura. (Sumber: The Strait Times Singapore)

Menurut Mei, para perempuan yang masih menjaga resep tersebut tidak hanya mengingat nama setiap daun, tetapi juga memahami manfaat kesehatannya.

“Nah, si ibu ini hafal semua daunnya. Dia pakai nama daerah ya. Daun ini untuk hipertensi, daun ini untuk melancarkan haid, daun ini untuk macam-macam. Jadi, setiap daun dia hafal namanya, dia hafal manfaat kesehatannya,” katanya.

Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari hubungan erat masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya. Namun, saat tim peneliti mencoba mendokumentasikan resep tersebut, mereka menemukan kenyataan yang berbeda.

Untuk mengumpulkan bahan baku rendang 120 daun, warga harus menyusuri berbagai sudut desa selama dua hari. Dari 120 jenis daun yang dibutuhkan, mereka hanya berhasil menemukan sekitar 55 jenis.

“Itu butuh dua hari untuk keliling desa, untuk mengumpulkan daun hanya dapat 55. Jadi waktu kita datang ibunya cerita, ‘kita cuma dapat 55. Ini udah dari kemarin kita keliling desa’,” tutur Mei.

Ia menjelaskan bahwa persoalan utamanya bukan karena tanaman-tanaman tersebut telah punah. Sebagian besar masih tumbuh di kawasan hutan, tetapi akses masyarakat terhadap hutan semakin terbatas akibat perubahan tata ruang dan ekspansi permukiman.

“Kok bisa? Daunnya hilang, Bu?” tanya Mei kepada salah satu warga yang masih menyimpan resep tersebut.

“Nggak, masih ada. Cuma hutannya sekarang jauh sekali. Jadi kita nggak sanggup. Karena pemukimannya jadi besar sekali. Jadi pemukiman sama hutan jadi jauh. Padahal dulu itu dekat,” jawab warga tersebut, sebagaimana diceritakan kembali oleh Mei.

Kisah rendang 120 daun menunjukkan bahwa hilangnya pangan lokal sering kali berkaitan dengan perubahan lingkungan yang memutus hubungan masyarakat dengan sumber daya alam di sekitarnya. Ketika akses terhadap hutan berkurang, bukan hanya bahan pangan yang menghilang, tetapi juga pengetahuan tradisional yang selama ini menyertainya.

Bagi Mei, kehilangan tersebut tidak hanya berdampak pada keragaman kuliner Nusantara, tetapi juga pada pengetahuan kesehatan yang tersimpan dalam tradisi pangan lokal. Setiap daun yang digunakan dalam rendang tersebut memiliki fungsi dan khasiat yang dipahami oleh generasi sebelumnya.

Karena itu, upaya menjaga pangan lokal tidak cukup hanya dengan mendokumentasikan resep. Perlindungan bentang alam dan akses masyarakat terhadap sumber daya di sekitarnya menjadi bagian penting agar pengetahuan tradisional yang telah diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak ikut hilang bersama perubahan lanskap.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Pilu Bocah Yatim Usia 7 Tahun Ditinggal Ibu: Hidup Sendiri Jualan Daun Pisang

Kisah Pilu Bocah Yatim Usia 7 Tahun Ditinggal Ibu: Hidup Sendiri Jualan Daun Pisang

Entertainment | Senin, 25 Mei 2026 | 12:52 WIB

Pertarungan Gadis Kecil dan Tiga Lelaki yang Menggila di Tengah Belantara

Pertarungan Gadis Kecil dan Tiga Lelaki yang Menggila di Tengah Belantara

Your Say | Minggu, 24 Mei 2026 | 13:45 WIB

Resep Kopi Susu Biskuit ala Mikael Jasin, Cocok Temani Weekend di Rumah

Resep Kopi Susu Biskuit ala Mikael Jasin, Cocok Temani Weekend di Rumah

Lifestyle | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:37 WIB

Terkini

Di Tengah Laju Pembangunan Bali, Inisiatif 1.000 Pohon Ini Jadi Alternatif Jaga Ruang bagi Alam

Di Tengah Laju Pembangunan Bali, Inisiatif 1.000 Pohon Ini Jadi Alternatif Jaga Ruang bagi Alam

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 10:15 WIB

Apa itu By Name By Address? Sistem Masjid Istiqlal untuk Bagi Daging Kurban

Apa itu By Name By Address? Sistem Masjid Istiqlal untuk Bagi Daging Kurban

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 10:10 WIB

Kesenjangan Keterampilan Masih Tinggi, Perguruan Tinggi Perkuat Pembelajaran Berbasis AI

Kesenjangan Keterampilan Masih Tinggi, Perguruan Tinggi Perkuat Pembelajaran Berbasis AI

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:58 WIB

Arti Mimpi Beli Makanan atau Jajan, Benarkah Jadi Pertanda Rezeki?

Arti Mimpi Beli Makanan atau Jajan, Benarkah Jadi Pertanda Rezeki?

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:35 WIB

Kekayaan Irfan Hakim yang Punya Bisnis Kurban, Laris Diborong Seskab Teddy hingga Raffi Ahmad

Kekayaan Irfan Hakim yang Punya Bisnis Kurban, Laris Diborong Seskab Teddy hingga Raffi Ahmad

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:17 WIB

Prabowo Salurkan 1.098 Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar, Sahkah Menurut Hukum Islam?

Prabowo Salurkan 1.098 Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar, Sahkah Menurut Hukum Islam?

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:08 WIB

Moisturizer untuk Ibu Hamil Seperti Apa? Ini 5 Pilihan Produknya untuk Cerahkan Wajah

Moisturizer untuk Ibu Hamil Seperti Apa? Ini 5 Pilihan Produknya untuk Cerahkan Wajah

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 08:45 WIB

Takbir Idul Adha Berlangsung Berapa Lama? Ini Hukumnya Menurut Para Ulama

Takbir Idul Adha Berlangsung Berapa Lama? Ini Hukumnya Menurut Para Ulama

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 08:15 WIB

Kekayaan Prabowo yang Beli 1.098 Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar

Kekayaan Prabowo yang Beli 1.098 Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 08:13 WIB

Makna Kurban Idul Adha 2026 yang Penuh Pengorbanan

Makna Kurban Idul Adha 2026 yang Penuh Pengorbanan

Lifestyle | Rabu, 27 Mei 2026 | 08:01 WIB