Suara.com - Dulu, saya selalu membayangkan Work From Cafe (WFC) sebagai cara bekerja yang paling menyenangkan. Rasanya seperti hidup yang ideal: membawa laptop ke kafe, memilih meja dekat jendela, memesan kopi, lalu bekerja sambil ditemani suara mesin espresso dan percakapan orang-orang di sekitar.
Ada perasaan lega karena tidak harus terjebak di ruangan yang sama setiap hari. Pergi ke kafe terasa seperti memberi jeda kecil dari rutinitas yang melelahkan.
Mungkin karena itu juga WFC semakin terasa dekat dengan banyak orang setelah pandemi Covid-19. Ketika kerja jarak jauh mulai jadi kebiasaan, banyak orang mencari cara agar tetap produktif tanpa merasa terkurung sendirian di rumah.
Data Jobstreet by SEEK tahun 2023 menunjukkan sekitar 71 persen orang tertarik bekerja secara remote. Di saat yang sama, jumlah coffee shop terus bertambah. Hampir di setiap sudut kota ada tempat baru yang menawarkan colokan listrik, internet cepat, dan suasana nyaman untuk bekerja.
Sesekali saya juga pernah datang ke kafe dan melihat seseorang duduk lama menatap layar laptopnya. Sesekali ia menyeruput minuman, lalu kembali mengetik atau mengunyah camilan kecil di depannya. Tidak banyak yang terjadi, tetapi entah kenapa pemandangan seperti itu terasa dekat sekali bagi saya.
Saya sendiri pernah duduk berjam-jam di sebuah kafe tanpa berbicara sepatah kata pun dengan siapa pun. Datang dengan harapan bisa mencari suasana baru, tetapi pulang dengan perasaan kosong yang sulit dijelaskan.
Aneh rasanya. Kafe dipenuhi banyak orang, suara obrolan terdengar di mana-mana, tetapi rasa sepi tetap bisa datang begitu saja.
Menemukan Jawaban Pada Komunitas WFC Journal

Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya mencari tahu apakah ada komunitas yang menawarkan pengalaman WFC bersama. Hingga akhirnya, saya menemukan sebuah komunitas bernama WFC Journal, dengan konsep unik bernama “WFC Bareng Strangers”. Konsep tersebut terasa menarik untuk diperkenalkan kepada lebih banyak orang.
Tanpa menunda lama, saya pun menghubungi Amelia, founder WFC Journal. Kebetulan, saat itu mereka akan mengadakan acara WFC Bareng Strangers di Adara Coffee, Bintaro. Setelah membuat janji, saya tidak sabar menunggu hari liputan tiba.
Hari liputan tiba. Perjalanan saya menuju lokasi tidak terlalu jauh, tetapi siang itu terasa sangat panas. Rasanya seperti setiap orang memiliki matahari mereka masing-masing. Sesampainya di lokasi, pintu kafe terbuka dan saya langsung disambut deretan layar laptop yang menyala, lengkap dengan suara ketikan keyboard yang bersahutan.
Saya langsung bisa menebak bahwa ini adalah komunitas WFC Journal. Tak lama, saya bertemu langsung dengan Amelia dan mulai berbincang dengannya.
Ia bercerita bahwa komunitas ini lahir dari rasa kesepian yang ia alami saat bekerja remote seorang diri.
“Aku fully remote terus dari mulai pekerjaan pertama sampai sekarang. Terus agak-agak sepi banget,” katanya.
Awalnya, Amelia hanya membuat konten tentang rekomendasi kafe dan coworking space. Namun suatu hari, ia mengunggah keresahannya tentang bekerja sendirian, bahkan ketika berada di tempat ramai sekalipun.
“Kerja di cafe pun rasanya kayak sendiri. Di coworking space juga tetap sendiri walaupun bareng-bareng sama orang lain,” ujarnya.
Ternyata, banyak orang merasa relate dengan pengalaman tersebut.
“Terus akhirnya di komen-komen tuh banyak yang ternyata pinpoint-nya sama. Kayak mereka juga ngerasain kalau iya kerja remote ternyata sepi, nggak se-flexible itu, nggak se-bisa kemana-mana itu,” ungkapnya.
Dari sana, komunitas WFC Journal mulai terbentuk sedikit demi sedikit. Pertemuan pertama mereka bahkan hanya dihadiri empat orang. Kini, jumlah anggotanya sudah mencapai ribuan.
Menjadi Wadah Bagi Para Pekerja Remote Untuk Berinteraksi

Saya mulai memahami mengapa konsep seperti ini terasa dekat bagi banyak pekerja remote. Setelah pandemi, bekerja dari rumah memang memberi fleksibilitas. Namun, di saat yang sama, banyak orang perlahan kehilangan ruang sosialnya.
Tidak ada lagi teman makan siang kantor, obrolan receh sebelum meeting, atau sekadar sapaan kecil di sela pekerjaan yang dulu terasa biasa saja.
Menurut Amelia, banyak pekerja remote kehilangan third space, yaitu ruang ketiga selain rumah dan kantor untuk membangun relasi sosial.
“Jadi kita biasanya punya rumah sebagai first space, terus tempat kerja sebagai second space, tapi kita nggak punya third space ini nih. Di mana kita bisa nyari teman selain dari di rumah atau di kerjaan,” jelasnya.
Hal itu juga dirasakan Healthy, salah satu anggota yang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan WFC Journal. Ketika saya bertanya soal pengalamannya, ia langsung tersenyum.
“Pengalamannya seru sih, jadi ketemu teman baru. Terus koneksi juga,” katanya.
Siang itu, saya melihat sendiri bagaimana suasana di ruangan perlahan berubah. Awalnya semua orang sibuk dengan layar laptop masing-masing. Suara ketikan keyboard mendominasi ruangan.
Namun menjelang sore, percakapan mulai muncul sedikit demi sedikit. Ada yang saling bertukar cerita pekerjaan, ada yang mengobrol soal keseharian, bahkan ada peserta baru yang perlahan ikut tertawa bersama orang-orang yang sebelumnya asing baginya.
Di sisi lain, Ganis, peserta yang baru pertama kali ikut, mengaku awalnya sempat merasa canggung ketika datang sendirian.
“Agak awkward ya, karena tadi dateng terus bingung ini yang mana komunitasnya,” katanya sambil tertawa.
Namun, rasa canggung itu perlahan hilang ketika percakapan mulai terbuka.
“Seru sih mendapatkan kenalan baru, teman baru,” ujarnya sambil tersenyum.
Perasaan welcoming itu juga saya rasakan saat berada di sana. Buat saya, bagian paling menarik justru bukan soal bekerja di kafe, melainkan interaksi kecil yang tercipta antar peserta. Di tengah budaya kerja yang semakin individual dan serba digital, ternyata banyak orang masih mencari hal sederhana: merasa terhubung dengan manusia lain.
Saya juga sempat berbincang dengan Ridho, anggota yang sudah dua tahun bergabung di komunitas ini. Ia bercerita bahwa WFC Journal mempertemukannya dengan banyak orang dari latar belakang berbeda.
“Gue bisa ketemu orang dari IT, finance, dan background lain. Itu membuka wawasan gue banget,” jelasnya dengan nada antusias.
Menurutnya, komunitas ini membuktikan bahwa bekerja bersama orang lain tidak selalu mengganggu produktivitas.
“Orang suka mikir kerja rame-rame pasti gak fokus. Tapi kita tetap bisa produktif kok meskipun rame-rame,” ujar Ridho.
Bahkan, hubungan yang terbentuk dari komunitas ini berkembang lebih jauh dari sekadar teman kerja. Ada yang akhirnya menjadi teman dekat, membuat proyek bersama, hingga merintis bisnis bareng.
Di tengah obrolan itu, saya akhirnya sadar bahwa WFC Journal bukan sekadar soal pindah tempat kerja dari rumah ke kafe lalu bekerja bersama orang asing. Bagi banyak orang, komunitas ini menjadi ruang untuk kembali merasa terhubung setelah terlalu lama menjalani hari sendirian di depan layar.
Mungkin, di era ketika semua orang bisa bekerja dari mana saja, hal yang paling dicari bukan lagi sekadar tempat kerja yang nyaman, melainkan perasaan bahwa kita tidak benar-benar sendirian.
Penulis: Natasha Suhendra