- Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
- Dino menyarankan efisiensi anggaran melalui pengurangan kunjungan kerja.
- Pemerintah menanggapi bahwa kunjungan luar negeri sudah efisiensi jumlah rombongan lebih ramping.
- Kurangi secara signifikan frekuensi kunjungan luar negeri.
- Hindari kunjungan mendadak yang kurang terencana.
- Prioritaskan kunjungan dengan agenda konkret dan hasil yang terukur.
- Lebih banyak menerima tamu negara di Indonesia.
- Tingkatkan diplomasi melalui duta besar dan pejabat senior di kementerian.
Kritik ini muncul setelah Prabowo melakukan beberapa kunjungan berulang, seperti ke Prancis. Data menunjukkan bahwa dalam periode November 2024 hingga April 2026, Prabowo telah melakukan sekitar 49 kunjungan luar negeri, atau menghabiskan hampir 95 hari di luar negeri.
Respons Pemerintah atas Kritik Dino Patti Djalal
![Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/4/2026). [Suara.com/Bagaskara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/35914-sekretaris-kabinet-seskab-teddy-indra-wijaya.jpg)
Istana dan pemerintah merespons kritik Dino Patti Djalal. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa jumlah rombongan Prabowo lebih ramping (50-60 orang) dibandingkan era sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 120 orang.
Teddy juga menilai kunjungan Presiden Prabowo membawa hasil konkret seperti kerja sama investasi, pengamanan energi, dan alutsista.
Sementara Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari juga menekankan manfaat kunjungan bagi kepentingan nasional, termasuk pembukaan peluang ekonomi dan penguatan posisi Indonesia di kancah global.
Presiden Prabowo sendiri pernah menyatakan bahwa kunjungan dilakukan untuk mengamankan kebutuhan strategis seperti minyak dan memperkuat diplomasi ekonomi.
Pada akhirnya, sebagai pakar yang pernah berada di dalam sistem, pandangan Dino memberikan perspektif berharga. Meski bukan pejabat negara lagi, suaranya tetap didengar karena rekam jejak dan kredibilitasnya di bidang hubungan internasional.