- Warga berebut air bekas jamasan pusaka di Pura Mangkunegaran, Solo, pada Selasa (16/6/2026) malam.
- Masyarakat meyakini air bekas cucian pusaka tersebut mengandung berkah.
- Prosesi jamasan menggunakan bahan alami seperti jeruk nipis dan bunga untuk membersihkan benda pusaka warisan leluhur.
Suara.com - Suasana khidmat Malam 1 Sura di depan Pendapa Pura Mangkunegaran, Solo, Selasa (16/6/2026) malam berubah riuh kala warga berebut air bekas jamasan (pencucian) pusaka.
Sebelum prosesi dimulai, warga sudah diizinkan masuk ke area pendapa.
Di sana mereka menunggu sebelum diperbolehkan mengambil air bekas jamasan bertabur bunga tersebut.
Setelah seluruh peserta kirab keluar dari area dalam pura, warga yang sudah menunggu pun diberi aba-aba untuk mendekat ke depan pendapa.
Warga pun berlarian mendekat dan berdesak-desakan. Mereka berebut menciduk air bekas jamasan ke botol kosong untuk dibawa pulang. Ada juga yang langsung mengusapkan ke area wajah.
Lantas, apa sebenarnya kegunaan air bekas jamasan ini hingga masyarakat rela berdesakan?
Makna Tradisi Jamasan Pusaka
Secara harfiah, "jamasan" berasal dari bahasa Jawa yang berarti mandi atau mencuci. Dalam konteks budaya Jawa, jamasan pusaka adalah ritual membersihkan benda-benda warisan leluhur seperti keris, tombak, atau benda pusaka lainnya yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.
Mengutip dari laman resmi Museum Sonobudoyo, jamasan pusaka bukan sekadar kegiatan membersihkan fisik benda dari debu atau karat.
![Nasip Hadi Prayitno (51) melakukan ritual jamasan atau mencuci keris di Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (20/8/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/08/20/48642-ritual-jamasan.jpg)
Lebih dari itu, jamasan memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan nenek moyang serta sarana "membersihkan diri" secara spiritual bagi pemiliknya atau masyarakat yang merayakannya.
Mengapa Warga Memburu Air Bekasnya?
Bagi masyarakat yang mempercayainya, air bekas jamasan pusaka dianggap mengandung "berkah" atau energi positif.
Berikut adalah beberapa alasan dan kegunaan air tersebut menurut kepercayaan tradisional:
1. Ngalap Berkah (Mencari Berkah)
Masyarakat percaya bahwa pusaka-pusaka keraton adalah benda yang "disucikan" dan melalui proses doa yang panjang.
Air yang telah bersentuhan dengan pusaka tersebut dianggap telah menyerap energi positif atau doa-doa keselamatan. Sehingga diharapkan dapat membawa ketenteraman bagi mereka yang mendapatkannya.
2. Harapan akan Kesuburan dan Keberuntungan
Banyak petani atau pedagang yang membawa pulang air ini untuk disiramkan di sawah atau tempat usaha.
Tujuannya adalah sebagai simbol harapan agar hasil panen melimpah atau dagangan laris di ttahun yang baru.
3. Keyakinan akan Kesehatan dan Tolak Bala
Beberapa warga menggunakan air bekas jamasan untuk membasuh muka atau menyiram sudut-sudut rumah.
Hal ini diyakini sebagai bentuk perlindungan diri dari energi negatif (tolak bala) serta harapan agar diberikan kesehatan sepanjang tahun.
Kandungan Air Jamasan
Secara teknis, air yang digunakan dalam jamasan biasanya bukan air biasa.
Seperti yang dijelaskan dalam artikel di Sonobudoyo, proses jamasan menggunakan bahan-bahan alami seperti jeruk nipis, mengkudu, dan air bunga setaman.
Jeruk nipis berfungsi sebagai asam alami untuk meluruhkan karat (oksidasi) pada besi pusaka tanpa merusak logamnya.
Aroma wangi dari bunga dan jeruk inilah yang seringkali membuat air bekas jamasan terasa khas.
Seecara medis sebenarnya tidak disarankan untuk diminum karena kemungkinan mengandung sisa-sisa karat besi atau bahan kimia pembersih seperti warangan atau arsenik.
Kendati demikian, masyarakat tetap memburunya sebagai simbol spiritual.