Suara.com - Menggerakkan aksi kepedulian terhadap ruang publik di tengah ritme masyarakat metropolitan bukan perkara mudah. Di kota yang serba cepat, taman kerap dipandang sekadar pelengkap, bukan ruang yang benar-benar digunakan dan dirawat bersama.
Keresahan itulah yang melatarbelakangi lahirnya komunitas Ayo ke Taman pada 2013. Gerakan ini bermula ketika para pendirinya melihat potensi besar Taman Cattleya di Jakarta Barat, tetapi minim aktivitas dan pengunjung.
“Sayang banget ada taman yang sebenarnya bagus, tapi belum banyak orang yang tahu dan memanfaatkannya. Akhirnya kami bikin gerakan yang bisa mendorong orang lebih sering menggunakan taman,” ujar Koordinator Ayo ke Taman, Akhsan Inantama.
Pandemi Jadi Titik Balik Gerakan
Meski sudah berjalan bertahun-tahun, momentum yang memperluas jangkauan Ayo ke Taman justru datang saat pandemi Covid-19 membatasi aktivitas warga pada 2020.
Sebelum pandemi, komunitas yang digerakkan sekitar 10 relawan inti ini lebih banyak menjalankan aktivasi langsung di ruang publik. Ketika pembatasan sosial diberlakukan, aktivitas mereka sempat terhenti dan tim harus mencari cara baru agar gerakan tetap berjalan.
“Pas pandemi kita sempat mati gaya karena nggak bikin aktivitas. Tapi ternyata justru banyak orang yang kenal dari situ. Waktu itu kita mulai bikin webinar dan akhirnya aktivasi dilakukan secara online,” kenang Akhsan.
Perpindahan ke ruang digital yang awalnya dilakukan sebagai respons darurat ternyata membuka ruang baru. Diskusi dan edukasi daring yang mereka lakukan mulai menarik perhatian warga kota yang saat itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Dari sana, muncul kesadaran bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mendukung kualitas hidup dan kesehatan mental.
Mengembalikan Taman sebagai Ruang Bersama
Bagi Ayo ke Taman, tantangan terbesar bukan sekadar mengajak orang datang ke taman, tetapi membangun kebiasaan untuk melihat ruang hijau sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lewat berbagai aktivasi dan edukasi, komunitas ini mencoba menunjukkan bahwa ruang publik yang hidup bukan tercipta dari pembangunan semata, melainkan dari keterlibatan warga yang terus menggunakannya dan merawatnya bersama.

Modal sosial digital yang terbangun sejak tahun 2020 itu kini bertransformasi menjadi penggerak aksi nyata di lapangan.
Salah satunya terlihat dalam aksi park mapping di Taman Cattleya baru-baru ini. Dalam aksi turun ke lapangan, komunitas ini kebanjiran wajah-wajah baru yang sangat antusias. Mereka berdiskusi akrab, bahkan sempat melakukan hal random seperti memberi makan tutut di tepi danau taman bersama-sama dengan anak-anak yang sedang berkunjung.
Saat sesi pemaparan kelompok, kolaborasi multiperspektif dari para relawan baru ini melahirkan evaluasi yang kaya. Kelompok Fasilitas yang diwakili oleh Maya, misalnya, memberikan kritik tajam mengenai identitas taman yang tidak jelas.