Suara.com - Mengubah limbah plastik domestik menjadi komoditas energi alternatif bukan lagi sebatas wacana teoritis. Melalui riset intensif, Yayasan Get Plastic berhasil membuktikan bahwa karakteristik material plastik yang memiliki basis unsur minyak bumi dapat dikembalikan ke wujud aslinya melalui rekayasa termal kedap oksigen. Get Plastic melakukan inovasi teknologi pirolisis yang tidak hanya menjadi solusi alternatif penguraian plastik, melainkan juga sebagai instrumen penyedia energi terbarukan yang kini telah direplikasi secara masif di berbagai wilayah Indonesia.
“Semua jenis plastik itu ada yang 90 persen, ada yang 30 persen, ada yang 60 persen itu beda-beda ya, itu bahan baku utamanya adalah minyak bumi. Jadi, pada prinsipnya semua jenis plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak,” jelas founder sekaligus ketua yayasan Get Plastic, Dimas Bagus Wijanarko.
Tipe Plastik yang Bisa Diolah dan Rasionya

Secara teknis, efisiensi konversi energi yang dihasilkan oleh mesin pirolisis Get Plastic sangat bergantung pada jenis polimer yang diolah. Namun, berdasarkan struktur kimianya, Get Plastic merekomendarikan lima tipe utama: High-Density Polyethylene (HDPE) seperti botol sampo, Low-Density Polyethylene (LDPE) sejenis kantong kresek, Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Polimer jenis PP, seperti gelas mineral dan botol infus, diidentifikasi memiliki kualitas terbaik dengan rasio hasil tertinggi. Sebaliknya, polimer jenis PET dan PVC sangat tidak direkomendasikan karena kandungan klorat yang tinggi berpotensi merusak kestabilan proses.
Dimas memaparkan kalkulasi matematis terkait rasio konversi massa plastik mentah hingga menjadi pecahan bahan bakar siap pakai.
"Untuk rasionya, 1 kilogram sampah plastik itu kalau diubah menjadi bahan bakar minyak bisa menjadi 1 liter kurang lebih, tergantung jenis plastiknya. Kalau jenis plastik PP, rata-rata 1 kilogram kita bisa menghasilkan 1,1 liter. Nah, itu belum dipecah. Kalau dipecah lagi dari 1 liter itu kurang lebih 800 mililiter sejenis solar atau heavy oil, sedangkan bensin atau light oil itu sekitar 100 mililiter," papar Dimas.
Replikasi Teknologi dan Dampaknya

Hingga saat ini, Get Plastic mencatat sebaran teknologi ini telah menjangkau 42 titik di seluruh wilayah Indonesia. Skala replikasi yang masif ini tentu membawa konsekuensi pada bervariasinya tingkat keaktifan mesin, mengingat kapasitas sumber daya manusia di setiap wilayah pengelolaan memiliki tingkat kedisiplinan yang berbeda. Dimas secara realistis mengakui bahwa mempertahankan konsistensi performa mesin di puluhan wilayah merupakan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa transparansi data lapangan jauh lebih penting daripada sekadar klaim keberhasilan yang semu.
"Saya belum update lagi angka pastinya, kurang lebih ada 42 titik di seluruh Indonesia yang menggunakan teknologi kami. Saya rasa tidak 100 persen semuanya jalan karena saya tidak bisa mengklaim program ini sempurna. Tapi dari data yang kami terima lewat laporan rutin grup mitra, itu cukup besar persentasenya, sekitar 80 persen program ini berhasil untuk mengurangi permasalahan sampah di daerah masing-masing," urai Dimas.
Selain berfokus pada replikasi teknologi di tingkat domestik, Yayasan Get Plastic juga mengintervensi industri hiburan melalui pembuktian konversi energi berskala besar. Melalui festival musik mandiri bertajuk Get the Fest, komunitas ini menjadi pelopor penyelenggaraan acara musik dengan pasokan daya listrik bersumber dari 100 persen hasil olahan sampah plastik. Tidak hanya pada acara internal, keandalan energi alternatif ini juga telah diterapkan untuk menyuplai kebutuhan daya pada konser musisi nasional berskala besar, seperti Rossa dan Hindia.
"Kalau dibilang perkiraan dari selama ini, sebenarnya kami sudah mengolah lebih dari puluhan ton, mungkin bisa sampai ratusan ton sampah plastik dari beberapa event yang kami lakukan. Untuk satu event Get the Fest saja, kita sudah mengolah kurang lebih dua sampai tiga ton per sekali proses pertunjukan musik. Beberapa event-event lainnya, seperti konsernya Rossa dan konsernya Hindia kemarin, juga menggunakan sumber daya dari sampah plastik kami meskipun formulasinya belum berjalan 100 persen penuh," kata Dimas.
Melalui integrasi riset dan jaringan kemitraan yang kuat, Get Plastic membuktikan bahwa inovasi teknologi pirolisis ini mampu menjadi solusi hilirisasi sampah yang konkret. Keberhasilan mereduksi puluhan ton residu domestik di berbagai titik serta dalam event musik ini sekaligus menegaskan bahwa kedaulatan pengelolaan limbah secara mandiri dapat dicapai melalui standardisasi teknologi lokal yang adaptif.
Penulis: Vicka Rumanti