Sinar Matahari Ternyata Tak Cukup: Temuan Baru Ungkap Mengapa Plastik Bertahan Lama di Perairan

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 16 Juni 2026 | 19:10 WIB
Sinar Matahari Ternyata Tak Cukup: Temuan Baru Ungkap Mengapa Plastik Bertahan Lama di Perairan
Potret Sampah Plastik di Perairan (Pexels/Rui Stenio)

Suara.com - Selama ini, ada satu asumsi yang cukup umum dalam memahami pencemaran plastik: jika sampah plastik cukup lama terkena sinar matahari, material tersebut pada akhirnya akan terurai dengan sendirinya.

Asumsi itu tidak sepenuhnya keliru. Banyak penelitian memang menunjukkan bahwa sinar ultraviolet (UV) dapat memecah struktur plastik melalui proses yang dikenal sebagai fotodegradasi—serangkaian reaksi kimia yang membuat plastik perlahan rapuh dan terfragmentasi.

Namun, ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Jika sinar matahari mampu mengurai plastik, mengapa sampah plastik tetap bertahan bertahun-tahun di sungai, danau, dan lautan?

Pertanyaan itu mendorong Profesor teknik lingkungan dari Northwestern’s McCormick School of Engineering, Ludmilla Aristilde, dan timnya untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi ketika plastik berada di lingkungan perairan.

“Dalam literatur ilmiah, banyak dilaporkan bahwa sinar ultraviolet dapat memfasilitasi penguraian plastik secara signifikan dalam proses yang disebut fotodegradasi,” kata Ludmilla.

“Tetapi jika demikian, mengapa puing-puing plastik begitu lambat terurai di perairan permukaan kita?”

Masalahnya bukan pada matahari, tetapi pada air

Temuan tim peneliti menunjukkan bahwa hambatan utama ternyata bukan kurangnya paparan cahaya, melainkan kondisi kimia air itu sendiri.

Air di alam bukan sekadar HO. Di dalamnya terdapat campuran garam, ion mineral, serta bahan organik alami yang berasal dari sisa tumbuhan dan aktivitas mikroorganisme.

baca juga

Menurut penelitian tersebut, komponen-komponen ini dapat mengganggu proses fotodegradasi yang sebelumnya dianggap sebagai mekanisme alami pengurai plastik.

Untuk mengujinya, para peneliti membuat simulasi kondisi air laut dan air tawar menggunakan air buatan yang mengandung komposisi kimia menyerupai lingkungan nyata. Sampel plastik polistirena kemudian ditempatkan di dalamnya dan disinari menggunakan cahaya buatan yang meniru sinar matahari selama sekitar tiga bulan.

Tim kemudian menganalisis perubahan pada permukaan plastik hingga tingkat mikroskopis dan molekuler.

“Kami menggunakan berbagai teknik untuk memeriksa permukaan plastik pada tingkat mikroskopis dan molekuler,” ujar Ludmilla.

Hasilnya menunjukkan bahwa plastik tetap mengalami kerusakan akibat cahaya pada seluruh kondisi percobaan. Namun, laju penguraiannya jauh lebih lambat ketika plastik berada di air yang mengandung komposisi kimia seperti kondisi alami.

Plastik dan air ternyata ‘bersaing’ mendapatkan energi matahari

Penjelasan ilmiahnya cukup sederhana: sinar matahari yang seharusnya memicu reaksi pada plastik justru lebih dulu bereaksi dengan zat-zat lain yang berada di air.

“Air dengan ion terlarut dan bahan organik yang mengambang di sekitarnya membuat sinar matahari bereaksi dengan komponen-komponen tersebut. Jadi, komponen-komponen itu bersaing dengan plastik untuk mendapatkan reaksi yang dipicu oleh sinar matahari,” jelas Ludmilla.

Akibatnya, molekul reaktif yang diperlukan untuk mempercepat kerusakan plastik menjadi lebih sedikit tersedia.

Efek lanjutan dari proses ini juga penting. Ketika fotodegradasi melambat, mikroorganisme yang biasanya melanjutkan proses penguraian biologis ikut kehilangan kesempatan untuk bekerja secara optimal.

Dengan kata lain, plastik bukan hanya sulit terurai—tetapi lingkungan perairan juga secara tidak langsung membantu memperpanjang umur plastik tersebut.

Mengapa temuan ini penting?

Temuan ini mengubah cara pandang terhadap pencemaran plastik. Selama ini, proses alami seperti paparan sinar matahari kerap dianggap dapat membantu mengurangi akumulasi sampah di perairan. Penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme tersebut mungkin bekerja jauh lebih lambat daripada yang diperkirakan.

Artinya, mengandalkan alam untuk “membersihkan” plastik bukan strategi yang cukup. Pengurangan plastik sekali pakai, perbaikan sistem pengelolaan sampah, serta pengembangan material yang lebih mudah terurai tetap menjadi langkah yang lebih menentukan dibanding menunggu sinar matahari menyelesaikan persoalan yang terus bertambah setiap hari.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?

Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 12:00 WIB

Bukan Sedotan, Penelitian Global Temukan Kemasan Makanan Jadi Penyumbang Utama Sampah Plastik Laut

Bukan Sedotan, Penelitian Global Temukan Kemasan Makanan Jadi Penyumbang Utama Sampah Plastik Laut

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:55 WIB

Pendangkalan Sungai Hambat Aktivitas Nelayan di Padang

Pendangkalan Sungai Hambat Aktivitas Nelayan di Padang

Foto | Selasa, 16 Juni 2026 | 09:00 WIB

Terkini

Bos Blueray Akui Setor Rp21 M untuk Djaka, KPK Tunggu Fakta Persidangan

Bos Blueray Akui Setor Rp21 M untuk Djaka, KPK Tunggu Fakta Persidangan

News | Rabu, 16 September 2026 | 11:23 WIB

VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun

VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 11:23 WIB

Berapa Harga Rice Cooker Digital Philips? Ini 3 Pilihan Termurah yang Awet dan Multifungsi

Berapa Harga Rice Cooker Digital Philips? Ini 3 Pilihan Termurah yang Awet dan Multifungsi

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 11:20 WIB

Serda AMF Tewas Dianiaya, 4 Prajurit TNI AU Jadi Tersangka Terancam 9 Tahun Penjara

Serda AMF Tewas Dianiaya, 4 Prajurit TNI AU Jadi Tersangka Terancam 9 Tahun Penjara

News | Rabu, 16 September 2026 | 11:20 WIB

Jay Idzes Absen, Siapa Bek Pilihan John Herdman di FIFA ASEAN Cup? Kevin Diks atau Elkan Baggott

Jay Idzes Absen, Siapa Bek Pilihan John Herdman di FIFA ASEAN Cup? Kevin Diks atau Elkan Baggott

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 11:18 WIB

4 Sandal Pria Anti Air untuk Aktivitas Outdoor, Nyaman Buat Nongkrong

4 Sandal Pria Anti Air untuk Aktivitas Outdoor, Nyaman Buat Nongkrong

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 11:15 WIB

Seharusnya Jadi Saksi, Eks Menhub Budi Karya Sumadi Tak Hadir di Sidang Banding Kasus DJKA

Seharusnya Jadi Saksi, Eks Menhub Budi Karya Sumadi Tak Hadir di Sidang Banding Kasus DJKA

News | Rabu, 16 September 2026 | 11:15 WIB

Dari Olahraga untuk Negeri, BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026

Dari Olahraga untuk Negeri, BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026

Jogja | Rabu, 16 September 2026 | 11:14 WIB

7 Perbedaan Cermin Cembung dan Cermin Cekung Sifat Bayangan

7 Perbedaan Cermin Cembung dan Cermin Cekung Sifat Bayangan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 11:12 WIB

BRI Raih Penghargaan Bergengsi Indonesia Sports Industry of the Year 2026

BRI Raih Penghargaan Bergengsi Indonesia Sports Industry of the Year 2026

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 11:12 WIB

×