Lahan Pertanian Bisa Jadi Penyerap Karbon? Penelitian Ini Ungkap Potensinya

Bimo Aria Fundrika

Senin, 06 Juli 2026 | 11:05 WIB
Lahan Pertanian Bisa Jadi Penyerap Karbon? Penelitian Ini Ungkap Potensinya
Potret Lahan Pertanian (Pexels/Muhammad Yunus)

Suara.com - Seiring meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer, berbagai upaya terus dikembangkan untuk menekan laju perubahan iklim. Salah satunya datang dari sektor pertanian. Alih-alih hanya berfungsi menghasilkan bahan pangan, lahan pertanian ternyata juga berpotensi menjadi penyerap karbon apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Batuan Vulkanik Jadi Solusi Serap Karbon

Hal tersebut ditunjukkan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Plants berjudul "Farming with crops and rocks to address global climate, food and soil security". Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Sheffield bersama sejumlah ilmuwan internasional itu mengusulkan teknik bercocok tanam menggunakan batuan silikat untuk membantu mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer.

Jenis batuan yang digunakan adalah batuan silikat, seperti basalt yang berasal dari sisa letusan gunung berapi purba. Batuan tersebut dihancurkan menjadi butiran halus, lalu disebarkan ke lahan pertanian. Ketika butiran batuan mengalami pelapukan alami di dalam tanah, proses tersebut menyerap karbon dioksida dari atmosfer sekaligus melepaskan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Pendekatan ini dikenal dengan istilah "enhanced rock weathering".

Tak Hanya Serap CO2, Tanah Juga Jadi Lebih Subur

Selain membantu mengurangi CO2 di atmosfer, metode ini diperkirakan mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta membuat tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Dengan demikian, kebutuhan penggunaan pupuk maupun pestisida dapat ditekan sehingga biaya produksi pertanian berpotensi menurun.

Keunggulan lainnya, pendekatan ini tidak memerlukan pembukaan lahan baru maupun tambahan air tawar. Berbeda dengan beberapa strategi penyerapan karbon lainnya, enhanced rock weathering dapat diterapkan langsung pada lahan pertanian yang sudah ada sehingga tidak mengganggu produksi pangan.

Menurut penulis utama penelitian sekaligus Direktur Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation di University of Sheffield, Profesor David Beerling, penelitian ini menawarkan cara baru dalam memandang pengelolaan lahan pertanian.

"Studi ini telah mengubah cara kita berpikir tentang pengelolaan lahan pertanian untuk keamanan iklim, pangan, dan tanah. Studi ini membantu memajukan perdebatan tentang strategi pengurangan CO dari atmosfer yang masih kurang diteliti, yaitu enhanced rock weathering, sekaligus menyoroti manfaat tambahannya bagi ketahanan pangan dan kesehatan tanah," ujarnya. 

baca juga

Berpotensi Diterapkan di Lahan Pertanian Dunia

Menurut kumpulan indikator pembangunan Wolrd Bank pada 2022, lahan pertanian di dunia diperkirakan tercatat sebesar 47.730.613 km persegi. Dengan cakupan tersebut, para peneliti meyakini teknologi ini berpotensi memberikan kontribusi besar dalam mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa metode ini bukan pengganti upaya mengurangi emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, melainkan pelengkap yang dapat diterapkan bersamaan dengan berbagai strategi mitigasi perubahan iklim lainnya.

David menambahkan bahwa pengurangan emisi tetap menjadi langkah utama untuk membatasi pemanasan global. Namun, teknologi yang mampu menghilangkan CO2 dari atmosfer juga diperlukan agar dampak perubahan iklim dapat ditekan lebih cepat.

"Besarnya perubahan iklim di masa depan dapat dimoderasi dengan segera mengurangi jumlah CO2 yang masuk ke atmosfer akibat pembangkitan energi. Mengadopsi strategi seperti penelitian ini yang secara aktif menghilangkan CO2 dari atmosfer dapat memberikan dampak besar dan dapat diadaptasi dengan sangat cepat,” tuturnya. 

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Bangunan yang Lebih Tinggi Dapat Memperparah Kebakaran?

Benarkah Bangunan yang Lebih Tinggi Dapat Memperparah Kebakaran?

News | Senin, 06 Juli 2026 | 10:55 WIB

Staycation Ramah Lingkungan, Tren Baru Menikmati Waktu Istirahat dengan Lebih Bermakna

Staycation Ramah Lingkungan, Tren Baru Menikmati Waktu Istirahat dengan Lebih Bermakna

Lifestyle | Minggu, 05 Juli 2026 | 15:35 WIB

Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan

Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan

Your Say | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:29 WIB

Terkini

Video Viral Singgung Pergantian Gibran, Kepala Bakom: Itu Pernyataan Lama Sebelum Saya Dilantik

Video Viral Singgung Pergantian Gibran, Kepala Bakom: Itu Pernyataan Lama Sebelum Saya Dilantik

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Bukan Begal! BEM UI Soroti Sarung Tangan Latex dan Lakban Pelaku Penganiaya Hafidz yang Tertinggal

Bukan Begal! BEM UI Soroti Sarung Tangan Latex dan Lakban Pelaku Penganiaya Hafidz yang Tertinggal

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:56 WIB

Oknum Kajari di Sultra Ditangkap, Langsung Dibawa ke Kejagung

Oknum Kajari di Sultra Ditangkap, Langsung Dibawa ke Kejagung

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:54 WIB

IHSG Betah di Level 6.100, GOTO Melesat

IHSG Betah di Level 6.100, GOTO Melesat

Bisnis | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:54 WIB

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Calvin Verdonk Ingatkan Rekan Setim: Jangan Terlena, Jepang Menanti

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Calvin Verdonk Ingatkan Rekan Setim: Jangan Terlena, Jepang Menanti

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Geo Dipa Pastikan Wacana Tukar Guling dengan PNM Batal, Akui Ada Pengaruh Purbaya

Geo Dipa Pastikan Wacana Tukar Guling dengan PNM Batal, Akui Ada Pengaruh Purbaya

Bisnis | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Budget Anak Kos Cuma Rp50 Ribuan! 4 Body Lotion Kojic Acid Ini Bikin Cerah

Budget Anak Kos Cuma Rp50 Ribuan! 4 Body Lotion Kojic Acid Ini Bikin Cerah

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Ekspansi Diler Baru Daihatsu di Jember Tandai Agresivitas Layanan Purna Jual

Ekspansi Diler Baru Daihatsu di Jember Tandai Agresivitas Layanan Purna Jual

Otomotif | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Kondisi Korsospol BEM UI Hafidz Hernanda Disebut Membaik, Wajah Masih Memar

Kondisi Korsospol BEM UI Hafidz Hernanda Disebut Membaik, Wajah Masih Memar

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:48 WIB

RI Kejar Tanda Tangan Dagang dengan Uni Eropa, Target Berlaku 2027

RI Kejar Tanda Tangan Dagang dengan Uni Eropa, Target Berlaku 2027

Bisnis | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:48 WIB

×