Suara.com - Seiring meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer, berbagai upaya terus dikembangkan untuk menekan laju perubahan iklim. Salah satunya datang dari sektor pertanian. Alih-alih hanya berfungsi menghasilkan bahan pangan, lahan pertanian ternyata juga berpotensi menjadi penyerap karbon apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Batuan Vulkanik Jadi Solusi Serap Karbon
Hal tersebut ditunjukkan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Plants berjudul "Farming with crops and rocks to address global climate, food and soil security". Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Sheffield bersama sejumlah ilmuwan internasional itu mengusulkan teknik bercocok tanam menggunakan batuan silikat untuk membantu mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer.
Jenis batuan yang digunakan adalah batuan silikat, seperti basalt yang berasal dari sisa letusan gunung berapi purba. Batuan tersebut dihancurkan menjadi butiran halus, lalu disebarkan ke lahan pertanian. Ketika butiran batuan mengalami pelapukan alami di dalam tanah, proses tersebut menyerap karbon dioksida dari atmosfer sekaligus melepaskan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Pendekatan ini dikenal dengan istilah "enhanced rock weathering".
Tak Hanya Serap CO2, Tanah Juga Jadi Lebih Subur
Selain membantu mengurangi CO2 di atmosfer, metode ini diperkirakan mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta membuat tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Dengan demikian, kebutuhan penggunaan pupuk maupun pestisida dapat ditekan sehingga biaya produksi pertanian berpotensi menurun.
Keunggulan lainnya, pendekatan ini tidak memerlukan pembukaan lahan baru maupun tambahan air tawar. Berbeda dengan beberapa strategi penyerapan karbon lainnya, enhanced rock weathering dapat diterapkan langsung pada lahan pertanian yang sudah ada sehingga tidak mengganggu produksi pangan.
Menurut penulis utama penelitian sekaligus Direktur Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation di University of Sheffield, Profesor David Beerling, penelitian ini menawarkan cara baru dalam memandang pengelolaan lahan pertanian.
"Studi ini telah mengubah cara kita berpikir tentang pengelolaan lahan pertanian untuk keamanan iklim, pangan, dan tanah. Studi ini membantu memajukan perdebatan tentang strategi pengurangan CO dari atmosfer yang masih kurang diteliti, yaitu enhanced rock weathering, sekaligus menyoroti manfaat tambahannya bagi ketahanan pangan dan kesehatan tanah," ujarnya.
Berpotensi Diterapkan di Lahan Pertanian Dunia
Menurut kumpulan indikator pembangunan Wolrd Bank pada 2022, lahan pertanian di dunia diperkirakan tercatat sebesar 47.730.613 km persegi. Dengan cakupan tersebut, para peneliti meyakini teknologi ini berpotensi memberikan kontribusi besar dalam mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa metode ini bukan pengganti upaya mengurangi emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, melainkan pelengkap yang dapat diterapkan bersamaan dengan berbagai strategi mitigasi perubahan iklim lainnya.
David menambahkan bahwa pengurangan emisi tetap menjadi langkah utama untuk membatasi pemanasan global. Namun, teknologi yang mampu menghilangkan CO2 dari atmosfer juga diperlukan agar dampak perubahan iklim dapat ditekan lebih cepat.
"Besarnya perubahan iklim di masa depan dapat dimoderasi dengan segera mengurangi jumlah CO2 yang masuk ke atmosfer akibat pembangkitan energi. Mengadopsi strategi seperti penelitian ini yang secara aktif menghilangkan CO2 dari atmosfer dapat memberikan dampak besar dan dapat diadaptasi dengan sangat cepat,” tuturnya.
Penulis: Natasha Suhendra