Fenomena Udang Naik ke Daratan Bisa Jadi Sinyal Gangguan Ekosistem Sungai, Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 06 Juli 2026 | 16:55 WIB
Fenomena Udang Naik ke Daratan Bisa Jadi Sinyal Gangguan Ekosistem Sungai, Mengapa?
Ilustrasi udang (Feepik/poringdown)
baca 10 detik
  • Ratusan udang muncul ke daratan sungai di Kalimantan Selatan akibat gangguan kualitas lingkungan perairan di habitatnya.
  • Penurunan kadar oksigen terlarut di dasar sungai diduga menjadi penyebab utama udang mencari tempat lebih layak.
  • Pemerintah daerah perlu melakukan uji laboratorium menyeluruh guna memastikan penyebab fenomena serta melindungi ekosistem sungai tersebut.

Suara.com - Fenomena ratusan udang yang muncul ke permukaan hingga naik ke daratan di sebuah sungai di Kalimantan Selatan baru-baru ini menjadi perbincangan publik.

Sekilas, peristiwa tersebut tampak seperti fenomena alam yang tidak biasa. Namun, dari sudut pandang ilmu perairan, kondisi tersebut justru dapat menjadi sinyal adanya gangguan pada ekosistem sungai.

Guru Besar Budidaya Perairan IPB University, Prof. Sri Nuryati, menjelaskan bahwa udang merupakan organisme demersal, yakni hidup dan beraktivitas di dasar perairan.

Karena itu, ketika udang berbondong-bondong meninggalkan habitat alaminya, penyebabnya kemungkinan bukan perilaku normal, melainkan respons terhadap perubahan kondisi lingkungan.

"Apabila tidak ditemukan gejala klinis penyakit pada udang tersebut, maka faktor kualitas lingkungan air menjadi kecurigaan utama. Gangguan di dasar perairan ini biasanya berkaitan dengan kadar oksigen terlarut yang kritis," ujar Sri.

Krisis oksigen di dasar sungai

Ilustrasi Sungai (Pinterest/TripSavvy)
Ilustrasi Sungai (Pinterest/TripSavvy)

Menurut Sri, salah satu penyebab paling mungkin adalah menurunnya kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) di dasar sungai.

Kondisi ini umumnya terjadi ketika kandungan bahan organik di perairan meningkat. Daun, limbah organik, atau material lain yang mengendap akan diuraikan oleh mikroorganisme. Proses penguraian tersebut membutuhkan oksigen dalam jumlah besar sehingga cadangan oksigen di dasar sungai berkurang.

Akibatnya, organisme yang hidup di dasar perairan, seperti udang, mengalami kekurangan oksigen dan terdorong mencari lokasi dengan kondisi yang lebih baik.

baca juga

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa kejadian tersebut lebih banyak dialami udang dibandingkan ikan tertentu.

"Ikan yang bersifat pelagis hidup di kolom perairan sehingga masih bisa memperoleh oksigen dari lapisan air yang lebih atas," jelas Sri.

Tidak cukup hanya mengandalkan dugaan

Meski demikian, Sri menekankan bahwa penyebab pasti fenomena tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari pengamatan visual.

Diperlukan pemeriksaan kualitas air melalui uji laboratorium, terutama terhadap parameter seperti kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen), total ammonia nitrogen (TAN), dan biological oxygen demand (BOD). Sampel air sebaiknya diambil langsung dari dasar sungai karena di sanalah habitat utama udang berada.

Selain kualitas air, kondisi sedimen atau lumpur dasar sungai juga perlu diperiksa. Analisis tersebut dapat mengungkap apakah terdapat akumulasi polutan atau zat berbahaya yang turut memengaruhi kualitas habitat.

Kemunculan udang ke permukaan tidak selalu berarti terjadi pencemaran. Namun, menurut Sri, peristiwa seperti ini sebaiknya dipandang sebagai indikator awal bahwa ekosistem perairan sedang mengalami tekanan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan pemantauan kualitas air secara menyeluruh, mencakup parameter fisik, kimia, dan biologi. Langkah tersebut penting untuk memastikan penyebab fenomena sekaligus mencegah dampak yang lebih luas terhadap ekosistem sungai.

"Penanganan cepat dan berbasis data ilmiah diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti fenomena ini guna menjaga ekosistem perairan di daerah tersebut tetap stabil dan mencegah dampak lingkungan yang lebih luas," kata Sri.

Dengan kata lain, fenomena udang yang tiba-tiba muncul ke permukaan bukan sekadar kejadian yang menarik perhatian publik.

Dalam ilmu ekologi perairan, perilaku tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kualitas lingkungan sungai sedang berubah dan perlu segera diteliti sebelum berdampak pada organisme lain dalam ekosistem.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bagaimana Satelit Membantu Ilmuwan Melindungi Sungai dari Pencemaran dan Perubahan Iklim?

Bagaimana Satelit Membantu Ilmuwan Melindungi Sungai dari Pencemaran dan Perubahan Iklim?

News | Minggu, 05 Juli 2026 | 09:34 WIB

Hidden Gem di Muara Bulian: Menikmati Kuliner Lezat di Tepi Sungai Bujang

Hidden Gem di Muara Bulian: Menikmati Kuliner Lezat di Tepi Sungai Bujang

Your Say | Senin, 29 Juni 2026 | 12:33 WIB

Ironi di Sungai Mahakam: Batu Bara Melaju, Rumah Warga Layu

Ironi di Sungai Mahakam: Batu Bara Melaju, Rumah Warga Layu

Your Say | Senin, 29 Juni 2026 | 10:00 WIB

Terkini

5 Rekomendasi Serum Murah untuk Mengatasi Flek Hitam, Mulai Rp22 Ribuan

5 Rekomendasi Serum Murah untuk Mengatasi Flek Hitam, Mulai Rp22 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 14:17 WIB

Rayakan 20 Tahun The Black Parade, MCR Rilis Film Pendek Prelude to The End

Rayakan 20 Tahun The Black Parade, MCR Rilis Film Pendek Prelude to The End

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 14:15 WIB

Cara Memakai Sunscreen Powder agar Tidak Dempul dengan Bedak, Ini Tipsnya

Cara Memakai Sunscreen Powder agar Tidak Dempul dengan Bedak, Ini Tipsnya

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 14:13 WIB

Banjir Rendam 15 Desa di Nagan Raya Aceh

Banjir Rendam 15 Desa di Nagan Raya Aceh

News | Minggu, 01 November 2026 | 14:05 WIB

Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan

Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 14:00 WIB

Ketua Ormas PP Siak Jadi Tersangka Kecelakaan Maut, Polisi Terbitkan Surat Penahanan

Ketua Ormas PP Siak Jadi Tersangka Kecelakaan Maut, Polisi Terbitkan Surat Penahanan

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 13:59 WIB

Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri

Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri

Jawa Tengah | Minggu, 01 November 2026 | 13:58 WIB

Kinerja ASII Kuartal III 2026: Pendapatan Tembus Rp243,9 Triliun, Bisnis Otomotif Jadi Penopang

Kinerja ASII Kuartal III 2026: Pendapatan Tembus Rp243,9 Triliun, Bisnis Otomotif Jadi Penopang

News | Minggu, 01 November 2026 | 13:56 WIB

4 Lipstik Implora Paling Waterproof dan Smudgeproof, Harga Mulai Rp23 Ribuan

4 Lipstik Implora Paling Waterproof dan Smudgeproof, Harga Mulai Rp23 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 13:56 WIB

Syarat Bikin KK Sendiri Belum Menikah, Simak Ketentuan dan Cara Mengurusnya

Syarat Bikin KK Sendiri Belum Menikah, Simak Ketentuan dan Cara Mengurusnya

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 13:52 WIB

×