- Ratusan udang muncul ke daratan sungai di Kalimantan Selatan akibat gangguan kualitas lingkungan perairan di habitatnya.
- Penurunan kadar oksigen terlarut di dasar sungai diduga menjadi penyebab utama udang mencari tempat lebih layak.
- Pemerintah daerah perlu melakukan uji laboratorium menyeluruh guna memastikan penyebab fenomena serta melindungi ekosistem sungai tersebut.
Suara.com - Fenomena ratusan udang yang muncul ke permukaan hingga naik ke daratan di sebuah sungai di Kalimantan Selatan baru-baru ini menjadi perbincangan publik.
Sekilas, peristiwa tersebut tampak seperti fenomena alam yang tidak biasa. Namun, dari sudut pandang ilmu perairan, kondisi tersebut justru dapat menjadi sinyal adanya gangguan pada ekosistem sungai.
Guru Besar Budidaya Perairan IPB University, Prof. Sri Nuryati, menjelaskan bahwa udang merupakan organisme demersal, yakni hidup dan beraktivitas di dasar perairan.
Karena itu, ketika udang berbondong-bondong meninggalkan habitat alaminya, penyebabnya kemungkinan bukan perilaku normal, melainkan respons terhadap perubahan kondisi lingkungan.
"Apabila tidak ditemukan gejala klinis penyakit pada udang tersebut, maka faktor kualitas lingkungan air menjadi kecurigaan utama. Gangguan di dasar perairan ini biasanya berkaitan dengan kadar oksigen terlarut yang kritis," ujar Sri.
Krisis oksigen di dasar sungai

Menurut Sri, salah satu penyebab paling mungkin adalah menurunnya kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) di dasar sungai.
Kondisi ini umumnya terjadi ketika kandungan bahan organik di perairan meningkat. Daun, limbah organik, atau material lain yang mengendap akan diuraikan oleh mikroorganisme. Proses penguraian tersebut membutuhkan oksigen dalam jumlah besar sehingga cadangan oksigen di dasar sungai berkurang.
Akibatnya, organisme yang hidup di dasar perairan, seperti udang, mengalami kekurangan oksigen dan terdorong mencari lokasi dengan kondisi yang lebih baik.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa kejadian tersebut lebih banyak dialami udang dibandingkan ikan tertentu.
"Ikan yang bersifat pelagis hidup di kolom perairan sehingga masih bisa memperoleh oksigen dari lapisan air yang lebih atas," jelas Sri.
Tidak cukup hanya mengandalkan dugaan
Meski demikian, Sri menekankan bahwa penyebab pasti fenomena tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari pengamatan visual.
Diperlukan pemeriksaan kualitas air melalui uji laboratorium, terutama terhadap parameter seperti kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen), total ammonia nitrogen (TAN), dan biological oxygen demand (BOD). Sampel air sebaiknya diambil langsung dari dasar sungai karena di sanalah habitat utama udang berada.
Selain kualitas air, kondisi sedimen atau lumpur dasar sungai juga perlu diperiksa. Analisis tersebut dapat mengungkap apakah terdapat akumulasi polutan atau zat berbahaya yang turut memengaruhi kualitas habitat.
Kemunculan udang ke permukaan tidak selalu berarti terjadi pencemaran. Namun, menurut Sri, peristiwa seperti ini sebaiknya dipandang sebagai indikator awal bahwa ekosistem perairan sedang mengalami tekanan.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan pemantauan kualitas air secara menyeluruh, mencakup parameter fisik, kimia, dan biologi. Langkah tersebut penting untuk memastikan penyebab fenomena sekaligus mencegah dampak yang lebih luas terhadap ekosistem sungai.
"Penanganan cepat dan berbasis data ilmiah diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti fenomena ini guna menjaga ekosistem perairan di daerah tersebut tetap stabil dan mencegah dampak lingkungan yang lebih luas," kata Sri.
Dengan kata lain, fenomena udang yang tiba-tiba muncul ke permukaan bukan sekadar kejadian yang menarik perhatian publik.
Dalam ilmu ekologi perairan, perilaku tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kualitas lingkungan sungai sedang berubah dan perlu segera diteliti sebelum berdampak pada organisme lain dalam ekosistem.