- Laporan World Economic Forum 2025 memprediksi AI akan menciptakan 170 juta pekerjaan baru namun menggantikan 92 juta pekerjaan lama.
- Siswa Indonesia perlu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif karena hasil tes PISA 2022 menunjukkan capaian yang masih di bawah rata-rata.
- Alta Global School menyiapkan siswa menghadapi masa depan melalui pengembangan keterampilan kritis serta pendidikan berstandar internasional untuk studi lanjut.
Suara.com - Kemunculan kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) telah mengubah cara berbagai industri bekerja. Teknologi yang semakin canggih bukan hanya menghadirkan efisiensi, tetapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru sekaligus menggeser sejumlah profesi yang selama ini dianggap mapan.
Perubahan tersebut membuat banyak orang tua mulai bertanya, keterampilan seperti apa yang perlu dimiliki anak agar tetap relevan di masa depan? Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memberikan gambaran yang cukup jelas.
Sebanyak 86 persen bisnis diperkirakan akan mengalami transformasi akibat perkembangan AI dan teknologi. Dampaknya, sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan diprediksi tergantikan.
Di tengah perubahan tersebut, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan. Tantangannya, kemampuan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan hasil tes Creative Thinking PISA 2022, hanya sekitar 5 persen siswa Indonesia yang mencapai level 5 atau 6 dalam kemampuan berpikir kreatif. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 27 persen.
Penilaian ini mengukur kemampuan siswa dalam menghasilkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan ide untuk memecahkan berbagai persoalan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Anak juga perlu dibekali dengan kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, hingga memiliki wawasan global sejak usia dini.
Pandangan tersebut juga menjadi dasar pendekatan yang diterapkan Alta Global School (AGS), sekolah internasional di bawah Schoters yang menyediakan jalur pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.
Selain mempersiapkan siswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, sekolah ini menekankan pengembangan future skills yang dibutuhkan di era digital.
Founder AGS sekaligus CEO Schoters, Radyum Ikono, mengatakan bahwa alasan orang tua memilih pendidikan berstandar internasional tidak hanya berkaitan dengan kualitas akademik.
"Motivasi utama orang tua yang ingin anaknya kuliah ke luar negeri adalah kualitas dan reputasi pendidikannya. Begitu juga dengan peluang karier global yang lebih besar, baik di perusahaan kelas dunia atau membangun startup mereka sendiri. Namun, yang tidak kalah penting adalah global exposure serta pengalaman yang membentuk kemandirian, kecakapan beradaptasi, dan cara berpikir yang luas agar menjadi global citizen yang kompetitif," ujar Radyum.
Melalui sistem pembelajaran bertahap, siswa tidak hanya memperkuat fondasi akademik, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis, fokus mencari solusi, serta berani mengeksplorasi minat dan bakat melalui proyek, kompetisi, hingga pengalaman belajar berstandar internasional.
Memasuki jenjang yang lebih tinggi, siswa juga memperoleh persiapan sertifikasi internasional dan pendampingan dalam merancang studi lanjut sesuai cita-cita mereka.
Menurut Radyum, prestasi menjadi salah satu indikator penting karena menunjukkan bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan menjadi solusi nyata.
"Kurikulum yang kami terapkan mendorong siswa untuk mengembangkan prestasi sesuai potensinya, dengan mengikuti lomba yang sesuai dengan talenta serta interest. Karena, prestasi adalah salah satu indikator bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan mereka menjadi solusi nyata, melalui inisiatif dan kemampuan memecahkan masalah," jelasnya.
Radyum menambahkan, hingga memasuki tahun kelima, seluruh lulusan AGS melanjutkan pendidikan ke luar negeri, dengan 92 persen di antaranya memperoleh beasiswa.
Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang yang mengombinasikan kemampuan akademik, pengalaman internasional, karakter, dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di era ketika AI mampu menyelesaikan banyak pekerjaan teknis, kualitas yang membedakan manusia justru terletak pada kreativitas, kemampuan berpikir kritis, empati, komunikasi, dan adaptasi.
Karena itu, mempersiapkan anak menghadapi dunia kerja masa depan bukan lagi sekadar mengejar nilai tinggi, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk belajar, mencoba, gagal, dan terus berkembang menjadi pribadi yang siap menghadapi perubahan.