- Kacamata anti radiasi menggunakan filter khusus untuk menyerap sebagian paparan sinar biru dari layar perangkat elektronik digital.
- Dokter menyatakan efektivitas kacamata ini belum terbukti secara ilmiah mampu mencegah kelelahan mata atau kerusakan penglihatan pengguna.
- Pakar menyarankan metode 20-20-20 dan rutin berkedip sebagai cara lebih efektif untuk menjaga kesehatan mata saat menggunakan gawai.
"Katanya (kacamata anti radiasi) wajib dipakai kalau main HP biar mata enggak rusak, biar enggak lelah, atau minusnya biar enggak bertambah. Benarkah sinar biru HP sejahat itu sampai butuh kacamata khusus? Jawabannya adalah mitos," kata dr. Saddam dikutip dari akun Instagram miliknya, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, klaim tersebut hanyalah trik marketing kacamata anti radiasi semata. Faktanya, mata lelah akibat paparan gadget bukan disebabkan oleh sinar biru, melainkan karena mata terlalu lama tidak berkedip.
"Mata lelah saat main HP itu bukan karena sinar birunya, tapi karena kamu lupa berkedip. Dan otot mata tegang karena fokus ya, jarak dekat terlalu lama. Nah, itu namanya mata lelah digital," ujarnya.
Jumlah sinar biru yang dipancarkan layar ponsel jauh lebih kecil dibandingkan sinar matahari. Karena itu, hingga saat ini belum ada bukti medis yang menunjukkan bahwa penggunaan kacamata anti radiasi mampu mencegah kerusakan mata.
"Jadi secara medis, kacamata itu tidak terbukti mencegah kerusakan mata," katanya.
Sebagai langkah sederhana yang lebih bermanfaat, dr. Saddam menyarankan menerapkan aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik setiap 20 menit menggunakan layar.
"Yang penting adalah simpan uangmu, cukup istirahat. Kemudian juga boleh konsumsi sayur, buah-buahan, ataupun suplemen ya jika diperlukan," ujarnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh dr. Tetty A. S. Usman, Sp.M(K), dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Premier Jatinegara.
Kacamata anti radiasi memang memiliki filter yang dapat membantu menyerap radiasi ultraviolet dari sinar matahari dan sebagian sinar biru dari perangkat digital.
Lensa kacamata anti radiasi dapat menyerap radiasi sinar matahari sampai dengan 90 persen, sementara pada blue ray sekitar 20-30 persen.
Meski demikian, hingga saat ini penelitian mengenai efektivitas filter sinar biru tersebut masih terus berlangsung.
"Penelitian itu juga sampai saat ini belum tuntas, apakah betul-betul itu akan bisa menyaring yang 20-30 persen sehingga kita menjadi aman memakai kacamata anti radiasi itu," katanya dikutip dari laman resmi RS Premier Jatinegara.
Karena itu, manfaat perlindungan kacamata anti radiasi terhadap sinar biru masih menjadi perdebatan.
Beberapa penelitian menunjukkan efektivitas penyaringan sinar biru hanya berkisar 20–30 persen sehingga belum dapat disimpulkan mampu memberikan perlindungan penuh terhadap mata.
Dr. Tetty justru menekankan bahwa menjaga kebiasaan menggunakan perangkat digital jauh lebih penting dibandingkan bergantung pada kacamata anti radiasi.
Ia menyarankan agar pengguna tidak menatap layar dari jarak terlalu dekat, membatasi durasi penggunaan gawai, serta memberikan waktu istirahat secara berkala.
Selain itu, paparan sinar matahari secara berlebihan juga perlu dihindari karena mengandung radiasi ultraviolet.
Meskipun beberapa lensa mampu menyerap hingga 90 bahkan 100 persen sinar UV, perlindungan mata tetap perlu dilakukan dengan membatasi paparan langsung, terutama pada waktu tertentu.
Tak kalah penting, dr. Tetty mengingatkan agar pengguna perangkat digital tidak lupa berkedip saat bekerja atau menonton dalam waktu lama. Kebiasaan sederhana tersebut membantu menjaga kelembapan permukaan mata sehingga risiko mata kering dapat berkurang.
"Jangan lupa berkedip, mata yang basah adalah mata yang sehat," katanya.