-
Wali murid bongkar kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha.
-
Korban kasus kekerasan anak di daycare kerap diikat dan dikurung.
-
Kedua anak korban kasus kekerasan anak di daycare mengalami trauma.
Suara.com - Usai 2,5 bulan kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha terkuak, seorang wali murid mengungkap fakta gelap lainnya di balik operasional lembaga pendidikan tersebut selama bertahun-tahun.
W, salah satu wali murid yang menitipkan 2 anaknya di Little Aresha sejak 2021 mengungkapkan kedua anaknya sudah mengalami kekerasan sejak lama.
Hal tersebut diketahui W dari pengakuan anaknya sendiri dan mantan pengasuh Little Aresha yang menghubunginya sekaligus memberikan bukti foto anaknya ketika diikat pada 2022 lalu.
Selaras dengan laporan dari mantan pengasuh, anak kedua W yang dititipkan di Little Aresha sejak usia 2 bulan sampai 5 tahun mengaku sering diikat oleh pengasuh, baik di gedung utara maupun gedung selatan.
Selain itu, anak kedua W mengaku juga pernah dikurung di ruangan gelap sendirian tanpa alasan jelas.
"Belum lama ini, anak kedua cerita dia pernah dikurung di ruang gelap sendiri dan baru dikeluarin ketika saya jemput," ujar W melalui pesan WhatsApp kepada suara.com.

W bercerita anak keduanya tersebut ketika pertama kali dititipkan di Little Aresa usia 2 bulan, ditempatkan di gedung utara.
Namun, anak keduanya tersebut sempat dipindahkan ke gedung selatan ketika baru dibuka tetapi hanya beberapa bulan dan kembali lagi ke gedung utara, karena dinilai sudah lancar bicara.
Sementara itu, anak pertama W mulai dititipkan di Little Aresha sejak usia 3 tahun pada 2021 sampai usia 7 tahun 9 bulan pada Maret 2026.
Setelah lulus TK Little Aresha dan masuk SD, anak pertama W tersebut mengikuti program after school atau penitipan anak Little Aresha sehingga menempati gedung selatan.
"Waktu itu anaknya sering tantrum dan nangis tiap dijemput. Dia sudah nggak mau lagi dititipkan di Little Aresha. Akhirnya berhenti per 1 Maret 2026. Tapi kakak gak pernah cerita apa-apa selama di Little Aresha," ujar W.
Saat kasus Little Aresha terkuak, W mengatakan anak pertamanya baru mulai bercerita apa yang terjadi di gedung selatan, tapi hanya sepintas.
"Dia baru cerita pas kasus ini terungkap, tapi awalnya dia cuman bilang kalau miss di tempat adik bayi itu jahat. Tapi, dia selalu diam tiap ditanya miss berbuat jahat apa," ujar W.
Setelah konsultasi psikolog 3 kali, anak pertama W baru berani mengungkapkan perilaku Diyah Kusumastuti yang sebenarnya tidak sebaik anggapan sang ibu.
"Dia pernah lihat bu Diyah mengikat atau bedong anak-anak. Lihat miss Anita ke selatan survei, lihat-lihat kondisinya pas bu Diyah gak di sana," kata W.
"Dia cerita kalau adik bayi yang baru datang langsung dilepas bajunya dan hanya pakai popok. Tapi, dia cuman tahunya yang diikat anak-anak nakal, biar gak nginjek adik bayi. Dia gak tau kalau adik bayi itu juga diikat, karena pintu ruangan selalu ditutup tiap kali dia datang," ujar W.
Meski begitu, anak pertama W mengaku pernah melihat adik-adik bayi tidur di lantai.
"Dia cerita kalau adik bayi itu tidur posisi kepalanya ada di lantai. Terus nangis jerit-jerit tapi gak ada miss yang nolongin," ujarnya.
Sementara itu, anak pertama W sendiri ditempatkan di satu ruangan tanpa alas apapun, sehingga dipaksa tidur siang di lantai sampai dijemput orangtua.
"Dia ditaruh di lantai 2, tidak pakai alas, dia dipaksa tidur siang di lantai," ujar W.
Namun, anak pertama W tidak pernah mengadu apapun yang terjadi padanya kepada sang ibu karena takut akan dimarahi pengasuh esok harinya.
"Dia ditanya psikolog kenapa gak bilang ke mama, kan sudah besar dan tahu gak itu perbuatan salah. Dia bilang kalau nanti mama konfirmasi ke sekolah, nanti kita bakal dimarahi tapi dia gak menjelaskan detail dimarahinya bagaimana," jelas W.
Karena aksi kekerasan yang dilakukan pengasuh Little Aresha, kedua anak W pun mengalami trauma dan harus konsultasi psikolog.
Anak pertama menunjukkan perilaku regresi, sehingga masih mengompol dan BAB di celana di usia 7 tahun lebih. Sedangkan, anak kedua menunjukkan perilaku agresif dan kurang fokus.