"Penentuan umur panen sekitar enam bulan atau ketika tanaman memasuki fase generatif merupakan waktu yang paling tepat karena kandungan metabolit sekundernya berada pada kondisi optimal," katanya.
Standardisasi juga diperlukan untuk mencegah pemalsuan bahan baku, mengingat akar purwoceng memiliki kemiripan dengan beberapa tanaman lain seperti Valeriana officinalis, kolesom, dan som jawa.
Ke depan, BRIN mendorong penguatan konservasi secara in situ maupun ex situ, pengembangan teknologi kultur jaringan dan embriogenesis somatik, inovasi pemuliaan untuk menghasilkan varietas yang adaptif terhadap berbagai kondisi agroekologi, serta memperkuat kemitraan antara petani dan industri.
Menurut Otih, keberhasilan pengembangan purwoceng hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara peneliti, petani, industri, dan pemerintah daerah.
"Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budidaya, konservasi, dan standardisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin," tutupnya.
Penulis: Purwaceng