Suara.com - Pertanian menyumbang sekitar 17 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global. Selama ini, upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan banyak dikaitkan dengan pengurangan emisi dan perubahan iklim.
Namun, seorang peneliti menilai pendekatan tersebut belum tentu menjadi alasan utama yang mendorong petani maupun konsumen untuk berubah.
Peneliti dari Brown's Institute for Environment and Society sekaligus School of Public Health, Meredith Niles, mengatakan manfaat kesehatan justru dapat menjadi pesan yang lebih efektif dalam memperluas penerapan pertanian berkelanjutan.
Menurut Niles, konsumen umumnya memilih produk pangan karena alasan kesehatan atau cara makanan tersebut diproduksi, bukan karena faktor keberlanjutan. Ia menyebut hanya sekitar empat persen konsumen yang membeli produk dengan pertimbangan utama pada aspek lingkungan.
"Banyak pembeli mengatakan mereka peduli terhadap lingkungan. Akan tetapi, orang lebih mempertimbangkan apakah makanan itu sehat dan berapa harganya," ujar Niles.
Temuan serupa juga terlihat pada peternak sapi perah. Dalam penelitiannya, mayoritas peternak lebih mengutamakan kesehatan ternak dan produktivitas dibandingkan target pengurangan emisi karbon.
Menurut Niles, kondisi itu bukan berarti petani mengabaikan lingkungan, melainkan karena mereka harus memprioritaskan aspek yang berdampak langsung pada keberlangsungan usaha.
Karena itu, ia menilai komunikasi mengenai pertanian berkelanjutan perlu didesain ulang dengan menempatkan manfaat kesehatan sebagai pesan utama, tanpa menghilangkan manfaatnya bagi lingkungan.
Niles mencontohkan penerapan sistem alternate wetting and drying (AWD) atau pengeringan dan pembasahan bergantian pada budidaya padi. Selain menghemat penggunaan air, metode ini berpotensi mengurangi kandungan logam berat, seperti arsenik, timbal, dan kadmium, pada beras.
Di sisi lain, praktik tersebut juga membantu menekan emisi metana dari lahan sawah hingga sekitar 50 persen. Sawah yang terus-menerus tergenang air menjadi salah satu sumber emisi metana akibat aktivitas mikroorganisme di dalam tanah.
Selain itu, emisi dari penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi melalui metode no-till farming, yaitu teknik menanam tanpa membajak seluruh lahan. Cara ini membantu mengurangi pelepasan dinitrogen oksida, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Menurut Niles, pemerintah juga perlu memperluas akses masyarakat terhadap pangan yang diproduksi secara berkelanjutan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
"Selain mempromosikan beras ramah iklim, kita juga perlu menjelaskan bahwa praktik tersebut bermanfaat bagi kesehatan manusia karena berpotensi mengurangi kandungan logam berat dalam beras," ujar Niles.
Ia menilai mengaitkan pertanian berkelanjutan dengan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat, seperti pangan yang lebih sehat, dapat menjadi cara yang lebih efektif untuk mendorong perubahan perilaku dibandingkan hanya mengedepankan narasi perubahan iklim.