- Menteri Moh Jumhur Hidayat menyatakan Indonesia harus memimpin pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
- Pemerintah menyiapkan skema pendanaan Biodiversity Credit untuk mendorong investasi swasta dalam perlindungan dan pemulihan ekosistem.
- KLH/BPLH, Bappenas, dan Pemerintah Jerman menyelenggarakan Biodiversity+ Business Forum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Anak Muda Punya Peran Besar
Perubahan cara pandang terhadap biodiversitas juga membuka peluang profesi baru, mulai dari konsultan keberlanjutan, ahli restorasi ekosistem, peneliti lingkungan, analis ESG (Environmental, Social, Governance), hingga pengembang proyek karbon dan keanekaragaman hayati.
Artinya, menjaga alam bukan lagi hanya tugas para aktivis lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari dunia bisnis, investasi, hingga inovasi teknologi.
Melalui Biodiversity+ Business Forum yang diselenggarakan KLH/BPLH bersama Bappenas dan didukung Pemerintah Jerman melalui GIZ Indonesia, pemerintah mendorong kolaborasi antara sektor publik, swasta, lembaga keuangan, serta komunitas untuk menghadirkan proyek-proyek berbasis alam yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
Deputy Head of Mission to the German Embassy to Indonesia, ASEAN and Timor-Leste, Thomas Graf, menilai kekayaan biodiversitas Indonesia merupakan aset strategis yang dapat menjadi fondasi ketahanan pangan, inovasi, hingga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ke depan, keanekaragaman hayati tidak lagi diposisikan hanya sebagai kekayaan alam yang perlu dilindungi. Lebih dari itu, biodiversitas dipandang sebagai modal pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan yang mulai dijalankan masyarakat modern.