- Pameran PRO AVL Indonesia 2026 resmi dibuka di NICE PIK 2, Tangerang, menghadirkan 60 merek internasional dari 12 negara.
- CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, menyatakan kolaborasi dalam pameran tersebut bertujuan memperkuat ekosistem industri hiburan nasional.
- Acara ini menyediakan program pendukung seperti Business Matching dan festival musik untuk meningkatkan daya saing serta kualitas penonton.
Suara.com - Konser musik berskala internasional yang semakin sering digelar, festival yang kian megah, hingga pertunjukan dengan tata panggung memukau menjadi penanda bahwa industri hiburan Indonesia tengah memasuki babak baru.
Di balik gemerlap lampu panggung dan penampilan para musisi, ada satu faktor yang semakin menentukan kualitas sebuah pertunjukan: teknologi audio, visual, dan lighting (AVL).
Perkembangan industri hiburan tidak lagi hanya ditopang oleh talenta para pengisi acara. Pengalaman penonton kini menjadi perhatian utama.
Kualitas suara yang jernih, tata cahaya yang dramatis, layar LED beresolusi tinggi, hingga sistem visual yang imersif menjadi standar baru yang diharapkan penonton saat datang ke konser, pertunjukan teater, konferensi, hingga berbagai acara berskala besar.
Kebutuhan tersebut mendorong industri AVL berkembang semakin pesat. Tidak hanya digunakan oleh penyelenggara konser, teknologi ini juga dimanfaatkan oleh rumah ibadah, institusi pendidikan, hotel, pusat konvensi, studio produksi, hingga pelaku industri kreatif dan content creator.
Perkembangan tersebut terlihat dalam penyelenggaraan PRO AVL Indonesia 2026 yang resmi dibuka di Building C Hall 9 NICE PIK 2, Tangerang.
Selama empat hari penyelenggaraan hingga 31 Juli 2026, pameran ini menghadirkan sekitar 60 merek internasional dari 12 negara, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Italia, Denmark, Swedia, Austria, China, Spanyol, hingga Indonesia.

Bagi pelaku industri, kehadiran berbagai pemain global dalam satu tempat bukan sekadar ajang memamerkan produk terbaru.
Lebih dari itu, pameran menjadi ruang bertemunya produsen, distributor, system integrator, investor, hingga pemilik proyek untuk membangun kolaborasi yang dapat memperkuat ekosistem industri hiburan nasional.
CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, mengatakan kolaborasi menjadi faktor penting dalam mendorong lahirnya inovasi di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.
"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Melalui PRO AVL Indonesia 2026, kami ingin menghadirkan sebuah platform yang tidak hanya memperkenalkan teknologi dan solusi terbaru, tetapi juga membuka ruang bagi para pelaku industri untuk saling belajar, berkolaborasi, dan membangun kemitraan yang produktif," ujarnya.
Menurut Daud, sinergi yang terbangun selama pameran diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru sekaligus meningkatkan daya saing industri audio, visual, lighting, dan musik Indonesia di pasar internasional.
Namun, perkembangan industri ini tidak hanya berbicara soal perangkat canggih. Di balik setiap konser yang sukses juga terdapat sumber daya manusia yang terus berkembang.
Profesi seperti sound engineer, lighting designer, video engineer, hingga system integrator kini semakin dibutuhkan seiring meningkatnya standar penyelenggaraan berbagai acara.
Karena itu, PRO AVL Indonesia 2026 tidak hanya menghadirkan area pameran, tetapi juga berbagai program yang mempertemukan para profesional industri dengan generasi baru.
Salah satunya melalui Business Matching yang mempertemukan pelaku usaha, investor, pembeli potensial, dan pemilik proyek dalam sesi pertemuan bisnis terjadwal.
Di sisi lain, pameran ini juga menghadirkan Krista Music Festival sebagai ruang bagi talenta musik Indonesia untuk berkembang., dengan dewan juri yang diisi sejumlah nama besar seperti Titi DJ, David Klein, Kristanto Pantioso, Lita Zen, Tamam Husein, dan Aning Katamsi.
Bagi para drummer, Drum Competition bersama APAVMI juga menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian. Selain menjadi ajang adu kemampuan, kompetisi ini sekaligus menunjukkan bahwa regenerasi musisi Indonesia membutuhkan dukungan ekosistem yang lengkap, mulai dari talenta, teknologi, hingga akses terhadap pendidikan dan jejaring profesional.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap konser, festival musik, dan berbagai pertunjukan hiburan, investasi pada teknologi AVL menjadi fondasi penting agar pengalaman yang dinikmati penonton semakin berkualitas.
Sebab pada akhirnya, pertunjukan yang memukau tidak hanya ditentukan oleh siapa yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh teknologi yang bekerja nyaris tanpa terlihat di balik layar.