- Presiden Global UIPM Prof. Dr. Jean Marc Aractingi menjelaskan posisi lembaganya melalui analogi jaringan organisasi internasional.
- Masyarakat dan calon mahasiswa diimbau berpikir kritis serta melakukan verifikasi informasi pendidikan dari berbagai sumber digital.
- Pemilihan perguruan tinggi harus didasarkan pada legalitas, akreditasi, dan kejelasan informasi resmi, bukan sekadar reputasi daring.
Suara.com - Di tengah derasnya informasi di internet, mencari tahu tentang sebuah institusi pendidikan tidak selalu sesederhana mengetik namanya di mesin pencari.
Hasil pencarian, media sosial, hingga jawaban dari kecerdasan buatan bisa menampilkan informasi yang beragam, bahkan saling bertentangan.
Situasi tersebut membuat calon mahasiswa maupun masyarakat perlu lebih kritis ketika menilai sebuah perguruan tinggi atau organisasi pendidikan.
Bukan hanya soal bagaimana sebuah institusi memperkenalkan dirinya, tetapi juga bagaimana informasi mengenai status, jejaring, akreditasi, dan organisasi yang menaunginya dapat diverifikasi.

Hal itu menjadi salah satu alasan Presiden Global UIPM Prof. Dr. Jean Marc Aractingi menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan posisi UIPM dalam berbagai jaringan organisasi internasional.
Menurut Jean Marc, masyarakat dapat membayangkan organisasi internasional seperti kelompok dalam kehidupan binatang. Ada binatang buas, binatang ternak, maupun binatang peliharaan. Masing-masing memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.
Analogi tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan bahwa organisasi pendidikan maupun internasional juga memiliki kategori dan fungsi yang berbeda.
Dalam penjelasannya, Jean Marc menyebut adanya sejumlah jaringan organisasi internasional yang berkaitan dengan UIPM, termasuk Union of International Associations (UIA) dan Asia Pacific Quality Network (APQN).
APQN sendiri merupakan jaringan yang bergerak di bidang penjaminan mutu pendidikan tinggi di kawasan Asia Pasifik. Jaringan tersebut mempertemukan berbagai lembaga yang berkaitan dengan kualitas dan akreditasi pendidikan tinggi.
Namun, bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan institusi pendidikan, informasi mengenai jaringan internasional sebaiknya tidak langsung dipahami sebagai ukuran tunggal kualitas sebuah perguruan tinggi.
Ada banyak aspek yang perlu diperiksa secara terpisah, mulai dari status legalitas, akreditasi program studi, pengakuan ijazah, kualitas pengajar, kurikulum, hingga rekam jejak lulusannya.
Ketika Mesin Pencari Menjadi Sumber Informasi Utama
Perkembangan teknologi membuat calon mahasiswa kini memiliki cara yang jauh lebih mudah untuk mencari informasi pendidikan. Cukup mengetik nama kampus, berbagai informasi dapat muncul dalam hitungan detik.
Masalahnya, tidak semua informasi yang muncul memiliki konteks yang sama.
Algoritma mesin pencari maupun kecerdasan buatan bekerja berdasarkan informasi yang tersedia di internet. Karena itu, hasil yang muncul dapat berasal dari berbagai sumber dengan tingkat kredibilitas yang berbeda.
Seorang pakar data science yang tidak disebutkan namanya dalam materi tersebut mengaku pernah mengalami hal serupa ketika mencari informasi mengenai UIPM.
Ia awalnya memiliki pandangan negatif setelah membaca berbagai informasi yang beredar di media sosial dan hasil pencarian digital.
Namun, setelah melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap sumber primer dan situs resmi yang berkaitan dengan UIPM, ia mengaku mendapatkan perspektif yang berbeda.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya digital literacy ketika seseorang mencari informasi pendidikan.
Alih-alih langsung percaya pada satu unggahan atau hasil pencarian, calon mahasiswa dapat membandingkan informasi dari berbagai sumber dan mengecek dokumen resmi yang tersedia.
Memilih Kampus Bukan Sekadar Soal Nama
Di era ketika pilihan pendidikan semakin beragam, keputusan memilih perguruan tinggi juga membutuhkan lebih banyak pertimbangan.
Nama besar memang bisa menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Calon mahasiswa perlu melihat apakah program studi yang dipilih sesuai dengan tujuan pendidikan dan karier, bagaimana status akreditasinya, serta apakah sistem pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan.
Begitu pula ketika menemukan sebuah institusi yang mengklaim memiliki jejaring internasional. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi tetap penting untuk memahami jenis hubungan, status keanggotaan, serta fungsi organisasi yang disebutkan.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menilai institusi berdasarkan reputasi yang terbentuk di media sosial, tetapi juga memahami konteks di balik setiap klaim yang disampaikan.
Pada akhirnya, di tengah banjir informasi digital, kemampuan memilih sumber menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan. Sebab, memilih kampus bukan hanya tentang menemukan institusi yang terlihat menarik di internet, melainkan memastikan informasi yang menjadi dasar keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.