- Membaca Surat Al-Kahfi memberikan keutamaan pelindung dari fitnah Dajjal.
- Membaca Surat Al-Kahfi dimulai Kamis malam hingga Jumat sore.
- Membaca Surat Al-Kahfi ayat 1-10 dianjurkan dibaca secara istiqamah.
Suara.com - Memasuki hari Jumat, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah.
Salah satu amalan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah membaca Surat Al-Kahfi.
Surat ke-18 dalam Al-Qur'an ini memiliki keutamaan luar biasa, terutama jika dibaca pada malam Jumat atau sepanjang hari Jumat.
Bagi Anda yang memiliki keterbatasan waktu, membaca 10 ayat pertama dari surat ini pun sudah memberikan keutamaan khusus, salah satunya sebagai pelindung dari fitnah Dajjal.
Lantas, kapan waktu terbaik membacanya dan bagaimana bacaan lengkapnya? Simak ulasan berikut ini.
Waktu Terbaik Membaca Surat Al-Kahfi
Berdasarkan tuntunan syariat, waktu untuk mengamalkan Surat Al-Kahfi dimulai sejak matahari terbenam di hari Kamis hingga matahari terbenam di hari Jumat. Berikut rinciannya:
- Malam Jumat: Dimulai dari waktu Maghrib hari Kamis sampai sebelum terbit fajar (Subuh) di hari Jumat.
- Hari Jumat: Dimulai dari terbit fajar (Subuh) hari Jumat sampai memasuki waktu Maghrib.
Umat Muslim sangat dianjurkan untuk membaca keseluruhan 110 ayat. Namun, jika tidak sempat, membaca 10 ayat pertama secara istiqamah sudah sangat utama untuk membentengi diri dari fitnah akhir zaman.
Bacaan Surat Al-Kahfi Ayat 1-10
Berikut adalah bacaan 10 ayat pertama Surat Al-Kahfi untuk memudahkan Anda mengamalkannya:
Ayat 1
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْيَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا
Alhamdu lillahil-ladzi anzala ‘ala ‘abdihil-kitaaba wa lam yaj’al lahu ‘iwaja(n). Artinya:
"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab Suci (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan."
Ayat 2
قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرالْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا
حَسَنًاۙ Qayyimal liyunzira ba’san syadidam mil ladunhu wa yubasyiral mu’mininalladziina ya’maluunash sholihaati anna lahum ajran hasana(n).
Artinya: "(Dia juga menjadikannya kitab) yang lurus agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik."
Ayat 3
مّٰكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ
Maakitsiina fiihi abada(n).
Artinya: "Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya."
Ayat 4
وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۖ
Wa yundziral-ladziina qaa luttakhadzallahu walada(n).
Artinya: "(Dia menurunkan Al-Qur’an itu) juga agar Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata, Allah mengangkat seorang anak.'"
Ayat 5
مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةًتَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا
Ma lahum bihi min‘ilmiw wa la li aa baa ‘ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwaa hihim, iyyaqu lu na illa kadziba(n).
Artinya: "Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang (hal) itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka."
Ayat 6
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْابِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا
Fa la’allaka ba khi’un nafsaka ‘alaa a tsa rihimillam yu’minu biha dzal haditsi asafa(n).
Artinya: "Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)."
Ayat 7
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْاَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا
Inna ja’alna ma ‘alal-ardhi ziinatal laha linabluwahum ayyuhum ahsanu ‘amala(n).
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya."
Ayat 8
وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًاۗ
Wa inna laja’iluu na ma ‘alaiha sho’idan juruza(n).
Artinya: "Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya sebagai tanah yang tandus lagi kering."
Ayat 9
اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْاٰيٰتِنَا عَجَبًا
Am hasibta anna ashabal-kahfi war-raqiimi kaa nuu min aa yaatina ‘ajaba(n).
Artinya: "Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?"
Ayat 10
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْلَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
Idz awal-fityatuilal-kahfi fa qaa luu rabbanaa aa tinaa mil ladunka rahmataw wa hayyi’ lanaa min amrinaa rasyada(n).
Artinya: "(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.".