-
Donald Trump menuntut ganti rugi kepada negara-negara yang tidak membantu AS di Selat Hormuz.
-
Konflik AS, Israel, dan Iran melumpuhkan perairan strategis penyalur minyak dan gas dunia.
-
Kemacetan lalu lintas Selat Hormuz memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat menuntut ganti rugi finansial kepada negara-negara yang tidak berkontribusi menjaga keamanan Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi mengubah peta beban ekonomi internasional pascakrisis jalur energi global tersebut.
Pasokan minyak bumi dunia kini mengalami kemacetan parah dan memicu lonjakan harga bahan bakar secara global. Negara penikmat aliran energi yang tidak terlibat dalam penanganan konflik dinilai harus bertanggung jawab atas biaya operasional AS.
Sikap tegas Washington menunjukkan pergeseran kebijakan luar negeri yang membebankan tagihan pertahanan kepada mitra internasional. Kebijakan geopolitik ini langsung memicu tekanan baru bagi banyak negara di tengah krisis energi.
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka kemungkinan untuk mencalonkan diri dalam Pilpres AS 2028. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/12/99651-donald-trump.jpg)
Donald Trump secara terbuka mengutarakan ancaman kompensasi keuangan tersebut melalui saluran resminya.
"Minyak mengalir melalui Selat Hormuz. Negara-negara di dunia, yang sama sekali tidak membantu kami, seharusnya, dan akan, mengganti rugi kepada Amerika Serikat ketika konflik yang penuh tipu daya ini berakhir," kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.
Konflik terbuka meluas setelah serangan militer gabungan AS dan Israel menggempur sejumlah titik strategis Iran pada 28 Februari. Serangan mendadak itu langsung memancing aksi balasan berupa gempuran militer sengit dari pihak Iran.
Upaya diplomasinya sempat memunculkan penandatanganan nota kesepahaman penghentian permusuhan antara AS dan Iran pada pertengahan Juni. Namun, kesepakatan damai tersebut runtuh seketika saat kedua belah pihak kembali bertukar serangan udara.
Hingga saat ini, pertikaian bersenjata di kawasan perairan strategis itu masih terus berlangsung tanpa kejelasan titik temu. Lumpuhnya jalur pelayaran Selat Hormuz menghambat distribusi minyak, produk olahan minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) ke seluruh dunia.
Selat Hormuz memegang peran kunci sebagai arteri utama yang mengalirkan pasokan energi mentah dunia menuju pasar internasional. Hambatan lalu lintas di perairan ini secara otomatis menyulut krisis ekonomi yang mengerek kenaikan harga BBM di berbagai negara.
Ketegangan di Selat Hormuz bermula dari eskalasi militer langsung yang mengorbankan stabilitas kawasan perairan Timur Tengah. Kegagalan kesepakatan damai pertengahan tahun ini memperpanjang krisis keamanan yang berdampak langsung pada rantai pasok global.