- Berdasarkan laporan BukuWarung di 33 provinsi, 72 persen pemilik usaha mengalami pertumbuhan dan 58 persen mencatat kenaikan pendapatan.
- Pemilik toko seperti Riko di Simalungun sukses menambah layanan transaksi keuangan untuk memenuhi kebutuhan baru para pekerja pabrik.
- Para pemilik usaha memanfaatkan pencatatan dan pembayaran digital untuk menghindari risiko kehilangan data serta mengatasi masalah uang kembalian.
Indah Setiawati, pemilik Indah Ponsel di Simalungun, pernah mengalaminya. Seluruh catatan utang pelanggan hilang setelah buku yang digunakannya tersiram teh.
“Saya sampai menangis karena datanya hilang semua,” tuturnya.
Sejak beralih ke pencatatan digital melalui ponsel, Indah merasa pengelolaan usahanya lebih rapi. Ia bisa melihat uang yang masuk dan keluar sekaligus mengetahui utang pelanggan yang belum dibayar.
Dengan begitu, urusan mencatat utang tidak lagi bergantung pada sebuah buku yang bisa saja rusak atau hilang.
3. Tinggalkan Kebiasaan Kasih Kembalian Permen
Bagi pedagang, persoalan uang pecahan kecil memang terlihat sepele, tetapi bisa cukup merepotkan ketika toko sedang ramai.
Tua Pangoluan Sitorus, pemilik toko THS Siantar di Pematang Siantar, dulu pernah menghadapi situasi tersebut. Ia terpaksa memberikan permen sebagai pengganti uang kembalian, meski tidak semua pelanggan menerimanya.
Saat toko ramai, ia juga pernah lupa menagih pembayaran kepada pelanggan.
Solusinya, Tua menyediakan pembayaran digital melalui QRIS BukuPay.
“Pelanggan sekarang bisa membayar dengan jumlah yang tepat tanpa menunggu kembalian. Tidak ada lagi yang komplain diberi kembalian permen,” cerita Tua.
Pembayaran digital bukan hanya soal mengikuti tren. Bagi toko, cara ini juga bisa membuat transaksi lebih praktis dan mengurangi kerepotan mencari uang pecahan.
4. Punya Modal Tambahan? Jangan Asal Penuhi Rak
Tambahan modal memang bisa membantu toko berkembang. Namun, bukan berarti seluruh modal harus langsung digunakan untuk membeli sebanyak-banyaknya barang.
Pujiono, pemilik toko kelontong di Sragen, memilih strategi berbeda. Ia menggunakan tambahan modal untuk memperbanyak jenis barang yang tersedia di tokonya.
Dari yang sebelumnya hanya menyediakan sekitar lima sampai enam jenis barang, kini tokonya memiliki sekitar 10 sampai 15 jenis barang.
“Lebih baik stok sedikit, tetapi jenisnya beragam,” kata Pujiono.
Ia juga menentukan barang yang akan dibeli berdasarkan catatan penjualan. Produk yang cepat laku dan lebih cepat menghasilkan uang menjadi prioritas.
Cara ini membuat modal tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk stok yang belum tentu segera terjual.
5. Rajin Cek Catatan, Termasuk Siapa yang Masih Punya Utang
Mencatat transaksi saja belum cukup. Pemilik usaha juga perlu meluangkan waktu untuk membaca kembali catatan tersebut.
Coba perhatikan barang apa yang paling banyak terjual, produk mana yang terlalu lama berada di rak, pengeluaran apa yang bisa ditekan, hingga pelanggan mana yang masih memiliki utang.
Indah Setiawati merasakan langsung manfaat dari kebiasaan tersebut. Dengan catatan yang lebih rapi, ia bisa mengetahui pelanggan yang sering terlambat membayar.
Data tersebut bahkan membuatnya lebih berani mengatakan tidak ketika ada pelanggan yang kembali ingin berutang.
“Dulu saya jadi tempat orang berutang. Sekarang saya berani menolak karena ada datanya,” ujar Indah.
Artinya, pencatatan bukan hanya membantu mengetahui kondisi keuangan, tetapi juga bisa menjadi dasar untuk mengambil keputusan usaha.
Pengalaman para pemilik toko tersebut menunjukkan bahwa mengembangkan usaha bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Pada akhirnya, teknologi bukan sekadar alat untuk membuat transaksi lebih cepat. Jika digunakan dengan tepat, teknologi juga bisa membantu pemilik usaha lebih tahu kondisi tokonya dan lebih percaya diri mengambil keputusan.