Suara.com - Masalah pengelolaan sampah di tingkat lingkungan masih menghadapi tantangan, termasuk kebiasaan memilah sampah yang kerap dianggap merepotkan dan membosankan. Kondisi ini membuat edukasi pengelolaan sampah, terutama kepada anak-anak, perlu dilakukan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Di RT 11 RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Jakarta Selatan, warga mencoba menjawab persoalan tersebut melalui inovasi Smart Geprek, mesin pemadat botol dan kaleng bekas berbasis hidrolik.
Mesin pemadat ini dioperasikan menggunakan alat kontrol yang sengaja dirancang sederhana menyerupai remot mainan anak-anak.
Pendekatan ini dipilih agar anak-anak di pemukiman setempat dapat belajar memilah sampah sejak dini dengan aman, sekaligus membantu menghemat ruang penyimpanan limbah plastik di lingkungan mereka.
"Kadang-kadang ngerebutan ini," kata Arief, relawan penggerak lingkungan di RT 11, sembari terkekeh menunjukkan perangkat kontrol yang bentuk dan cara pakainya memang sengaja dibuat mirip remot mainan anak-anak.
Inovasi sederhana ini lahir dari ide cerdas Imam Basori, ketua RT 11 untuk mengubah urusan memilah sampah menjadi aktivitas harian yang inklusif, edukatif, dan menyenangkan.
Sengaja Dibuat Lambat dan Mudah: Dari Cara Pakai Hingga Fungsi Edukasi
Proses pengoperasian Smart Geprek berjalan dengan sangat praktis tanpa menguras tenaga fisik. Pengguna cukup memisahkan botol atau kaleng bekas dari tutupnya, yang nantinya dikumpulkan terpisah untuk bahan kerajinan tangan. Lalu meletakkannya ke dalam ruang pres hidrolik.
Setelah wadah berada di posisinya, penekan hidrolik akan meremukkan botol hingga pipih dalam hitungan detik, baik dengan menekan tombol pada remot bergaya mainan maupun lewat aplikasi web lokal di ponsel pintar Android.
Uniknya, ketika mesin pabrik berlomba-lomba mengejar kecepatan, Smart Geprek justru sengaja dirancang bekerja dengan tempo lambat.
"Ya, ini sengaja kita buat lambat. Karena buat edukasi anak-anak. Jadi, anak-anak bisa juga buat belajar sendiri," terang Arief.
Gerakan hidrolik yang diperlambat meminimalkan risiko terjepit, sehingga aman dipegang anak-anak saat mengisi waktu luang sore hari.
Jeda waktu tersebut memberi ruang bagi mereka untuk mengamati proses pemadatan secara utuh, mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi pengalaman belajar langsung. Botol yang sudah geprek pun jauh lebih hemat ruang penyimpanan sebelum dikumpulkan.
Koding Mandiri Warga: Teknologi Digital Tanpa Ketergantungan Vendor
Hal menarik dari Smart Geprek tidak berhenti pada sistem mekaniknya. Untuk memantau data volume sampah yang berhasil dipadatkan, warga merancang sistem monitoring digital berbasis laman web.
Cukup menyambungkan ponsel ke jaringan Wi-Fi lokal RT 11 dan memasukkan kode akses, data pemadatan bisa langsung terbaca.
Istimewanya, perangkat lunak ini tidak dibeli dari vendor luar maupun developer komersial. Menurut Arief, baris-baris kode (coding) aplikasi tersebut digarap sendiri oleh warga yang memiliki latar belakang teknis.
Bagi RT yang mengandalkan dana operasional terbatas dari Pemprov DKI Jakarta, langkah ini sangat menghemat anggaran.
Lebih dari itu, kemandirian teknologi ini memastikan sistem dapat terus dirawat dan disempurnakan oleh warga sendiri—seperti pengembangan versi iOS yang saat ini sedang menyusul versi Android.
Nalar Ekonomi Akar Rumput untuk Keberlanjutan Lingkungan
Selain urusan teknis dan edukasi, RT 11 juga bersikap realistis dalam mengelola ekosistem sampahnya. Jika sebelumnya botol dan kaleng hasil pemadatan disetorkan ke Dinas Lingkungan Hidup (LH), belakangan warga memilih menjualnya ke pengepul informal.
"Ini baru-baru kemarin kita jual ke pengepul. Karena kan kita ada salah satu kenalan... dia menawarkan harga tinggi daripada LH," tutur Ibas jujur.
Langkah pragmatis ini menyingkap realitas penting: gerakan lingkungan berbasis komunitas akan berjalan lebih awet jika ditopang oleh insentif ekonomi yang masuk akal. Keuntungan penjualan yang lebih tinggi memberikan nilai tambah bagi kas lingkungan warga tanpa mengurangi manfaat kebersihan itu sendiri.
Prinsip ini sejalan dengan gerakan "Bang Jali" (Bareng Jaga Lingkungan) yang digagas Ketua RT 11, Imam Basori (Ibas).
"Target kita adalah menuntaskan masalah sampah dari sumbernya, yaitu rumah warga. Jika hulu sudah beres, TPA tak perlu lagi menerima kiriman sampah dari lingkungan kita," jelas Ibas.
Melalui Smart Geprek, RT 11 Gandaria Utara membuktikan bahwa teknologi tepat guna, pendekatan yang ramah anak, dan kalkulasi ekonomi yang pas bisa berpadu menjadi solusi nyata pengelolaan sampah di tingkat RT.
Penulis: Inesia Dian