Suara.com - Kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati membuat upaya konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga lingkungan. Di berbagai wilayah, masyarakat lokal justru mengambil peran langsung dengan memulihkan hutan, mangrove, sungai hingga ekosistem pesisir.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai konservasi berbasis masyarakat. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat masyarakat adat dan komunitas lokal telah lama berperan dalam menjaga lingkungan melalui pengetahuan, tata kelola, serta praktik yang berkembang di wilayah mereka.
IUCN juga menilai konservasi dapat menjadi lebih efektif ketika masyarakat lokal ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan ekosistem.
Salah satu bentuknya adalah restorasi kawasan hutan. Masyarakat dapat terlibat dalam menanam pohon asli, menyediakan habitat bagi satwa liar hingga memulihkan aliran sungai yang mengalami kerusakan.
Di wilayah pesisir, pendekatan serupa dilakukan melalui pemulihan hutan mangrove. Ekosistem ini berperan dalam melindungi garis pantai, mendukung habitat berbagai spesies, sekaligus membantu masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
IUCN mencatat sejumlah proyek berbasis masyarakat di kawasan Pasifik menggunakan restorasi mangrove sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan ekosistem dan masyarakat terhadap perubahan iklim.
Masyarakat pesisir juga dapat terlibat dalam menjaga ekosistem laut. Nelayan, penyelam, dan kelompok lokal dapat membantu memantau kondisi terumbu karang, lamun, serta kawasan pesisir dari aktivitas yang merusak.
Peran masyarakat menjadi penting karena mereka berada paling dekat dengan ekosistem yang dikelola. Pemantauan dapat dilakukan secara berkala sekaligus membantu mendeteksi aktivitas seperti penebangan, pengerukan atau pencemaran.
IUCN mencatat pemantauan berbasis masyarakat dapat digunakan untuk mengawasi kondisi spesies, penggunaan lahan, kondisi iklim maupun aktivitas ilegal. Pendekatan tersebut juga memungkinkan pengetahuan lokal dipadukan dengan teknologi untuk memperkuat pengelolaan hutan.
Tak hanya untuk wilayah hutan dan pesisir
Konservasi berbasis masyarakat juga dapat diterapkan di kawasan perkotaan. Warga dapat menanam spesies asli di lahan terbatas dan mengembangkan ruang hijau skala kecil di tengah kepadatan kota.
Ruang hijau tersebut dapat membantu menghadapi sejumlah persoalan perkotaan, mulai dari pengelolaan air hujan hingga penyediaan ruang yang lebih sehat bagi masyarakat. UNEP sendiri menempatkan solusi berbasis alam di perkotaan sebagai salah satu peluang untuk menghadapi persoalan iklim, kehilangan biodiversitas dan degradasi lahan.
Manfaatnya juga dapat meluas ke aspek sosial dan ekonomi. Kegiatan restorasi berpotensi menciptakan pekerjaan hijau sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Namun, keterlibatan masyarakat saja belum cukup untuk memastikan proyek konservasi bertahan dalam jangka panjang. Dukungan pendanaan, pengakuan terhadap hak masyarakat, pendampingan teknis dan mekanisme pemantauan tetap diperlukan.
Persoalan pendanaan menjadi salah satu tantangan terbesar. Laporan UNEP State of Finance for Nature 2026 menunjukkan investasi untuk nature-based solutions secara global mencapai sekitar US$220 miliar pada 2023. Namun, kebutuhan investasi untuk mencapai target iklim, biodiversitas dan restorasi lahan diperkirakan harus meningkat menjadi US$571 miliar per tahun pada 2030.
Karena itu, kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan sektor swasta dapat menjadi salah satu jalan untuk memperbesar skala proyek konservasi. Perusahaan yang memiliki agenda Environmental, Social, and Governance (ESG), misalnya, dapat mendukung proyek restorasi sekaligus mengukur dampaknya terhadap biodiversitas, karbon dan kesejahteraan masyarakat.
Kerangka seperti Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) juga dapat membantu perusahaan memahami serta mengungkapkan ketergantungan, dampak, risiko dan peluang mereka yang berkaitan dengan alam.
Pada akhirnya, konservasi berbasis masyarakat menawarkan pendekatan yang berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, melainkan ikut menentukan bagaimana ekosistem dikelola dan dipulihkan.
Penulis: Chairunisa