Masyarakat Lokal Jadi Kunci, Bagaimana Konservasi Alam Bisa Bertahan Jangka Panjang?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 08 September 2026 | 11:00 WIB
Masyarakat Lokal Jadi Kunci, Bagaimana Konservasi Alam Bisa Bertahan Jangka Panjang?
Ratusan orang berkumpul untuk memancing tradisional di sebuah bendungan di Jawa Timur, Indonesia, menampilkan acara budaya yang hidup. (dok. Pexels/Usman Hadi Wijaya)

Suara.com - Kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati membuat upaya konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga lingkungan. Di berbagai wilayah, masyarakat lokal justru mengambil peran langsung dengan memulihkan hutan, mangrove, sungai hingga ekosistem pesisir.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai konservasi berbasis masyarakat. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat masyarakat adat dan komunitas lokal telah lama berperan dalam menjaga lingkungan melalui pengetahuan, tata kelola, serta praktik yang berkembang di wilayah mereka.

IUCN juga menilai konservasi dapat menjadi lebih efektif ketika masyarakat lokal ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan ekosistem.

Salah satu bentuknya adalah restorasi kawasan hutan. Masyarakat dapat terlibat dalam menanam pohon asli, menyediakan habitat bagi satwa liar hingga memulihkan aliran sungai yang mengalami kerusakan.

Di wilayah pesisir, pendekatan serupa dilakukan melalui pemulihan hutan mangrove. Ekosistem ini berperan dalam melindungi garis pantai, mendukung habitat berbagai spesies, sekaligus membantu masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

IUCN mencatat sejumlah proyek berbasis masyarakat di kawasan Pasifik menggunakan restorasi mangrove sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan ekosistem dan masyarakat terhadap perubahan iklim.

Masyarakat pesisir juga dapat terlibat dalam menjaga ekosistem laut. Nelayan, penyelam, dan kelompok lokal dapat membantu memantau kondisi terumbu karang, lamun, serta kawasan pesisir dari aktivitas yang merusak.

Peran masyarakat menjadi penting karena mereka berada paling dekat dengan ekosistem yang dikelola. Pemantauan dapat dilakukan secara berkala sekaligus membantu mendeteksi aktivitas seperti penebangan, pengerukan atau pencemaran.

IUCN mencatat pemantauan berbasis masyarakat dapat digunakan untuk mengawasi kondisi spesies, penggunaan lahan, kondisi iklim maupun aktivitas ilegal. Pendekatan tersebut juga memungkinkan pengetahuan lokal dipadukan dengan teknologi untuk memperkuat pengelolaan hutan.

baca juga

Tak hanya untuk wilayah hutan dan pesisir

Konservasi berbasis masyarakat juga dapat diterapkan di kawasan perkotaan. Warga dapat menanam spesies asli di lahan terbatas dan mengembangkan ruang hijau skala kecil di tengah kepadatan kota.

Ruang hijau tersebut dapat membantu menghadapi sejumlah persoalan perkotaan, mulai dari pengelolaan air hujan hingga penyediaan ruang yang lebih sehat bagi masyarakat. UNEP sendiri menempatkan solusi berbasis alam di perkotaan sebagai salah satu peluang untuk menghadapi persoalan iklim, kehilangan biodiversitas dan degradasi lahan.

Manfaatnya juga dapat meluas ke aspek sosial dan ekonomi. Kegiatan restorasi berpotensi menciptakan pekerjaan hijau sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Namun, keterlibatan masyarakat saja belum cukup untuk memastikan proyek konservasi bertahan dalam jangka panjang. Dukungan pendanaan, pengakuan terhadap hak masyarakat, pendampingan teknis dan mekanisme pemantauan tetap diperlukan.

Persoalan pendanaan menjadi salah satu tantangan terbesar. Laporan UNEP State of Finance for Nature 2026 menunjukkan investasi untuk nature-based solutions secara global mencapai sekitar US$220 miliar pada 2023. Namun, kebutuhan investasi untuk mencapai target iklim, biodiversitas dan restorasi lahan diperkirakan harus meningkat menjadi US$571 miliar per tahun pada 2030.

Karena itu, kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan sektor swasta dapat menjadi salah satu jalan untuk memperbesar skala proyek konservasi. Perusahaan yang memiliki agenda Environmental, Social, and Governance (ESG), misalnya, dapat mendukung proyek restorasi sekaligus mengukur dampaknya terhadap biodiversitas, karbon dan kesejahteraan masyarakat.

Kerangka seperti Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) juga dapat membantu perusahaan memahami serta mengungkapkan ketergantungan, dampak, risiko dan peluang mereka yang berkaitan dengan alam.

Pada akhirnya, konservasi berbasis masyarakat menawarkan pendekatan yang berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, melainkan ikut menentukan bagaimana ekosistem dikelola dan dipulihkan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kadar Partikel Abu Vulkanik di Jakarta Mulai Menurun

Kadar Partikel Abu Vulkanik di Jakarta Mulai Menurun

News | Senin, 07 September 2026 | 15:48 WIB

Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

News | Senin, 07 September 2026 | 10:58 WIB

Kalau Semua Diganti Kertas, Apakah Bumi Jadi Lebih Aman?

Kalau Semua Diganti Kertas, Apakah Bumi Jadi Lebih Aman?

Your Say | Senin, 07 September 2026 | 13:30 WIB

Terkini

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 21:47 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Health | Senin, 14 September 2026 | 21:35 WIB

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:30 WIB

×