Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 07 September 2026 | 10:58 WIB
Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?
Sebuah pesawat komersial terbang melalui langit biru yang berawan. (dok.Pexels/ Phát Trương)

Suara.com - Selama ini, minyak kelapa lebih akrab dengan kebutuhan pangan. Bahan baku nabati ini digunakan untuk berbagai produk, mulai dari minyak goreng, margarin, cokelat, selai, hingga krimer nabati.

Namun, pemanfaatannya berpotensi melampaui kebutuhan di dapur. Minyak kelapa juga dapat diolah menjadi bahan bakar pesawat yang lebih berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF).

Peluang ini tengah dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian material metal-organic framework (MOF). Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu mengubah minyak nabati menjadi hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan baku SAF.

Pengembangan ini berangkat dari persoalan besar di sektor penerbangan: ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih tinggi. Selama bahan bakar konvensional masih menjadi sumber energi utama pesawat, upaya mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan menghadapi tantangan besar.

“Pengembangan SAF menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transisi energi karena sektor penerbangan masih bergantung pada bahan bakar fosil,” kata peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Deliana Dahnum, dalam webinar Jejak Kimia Molekuler (JKM) Edisi ke-11, Jumat (28/8).

Mencari cara mengubah minyak nabati menjadi bahan bakar pesawat

Minyak nabati tidak bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar pesawat. Salah satu tahapan pentingnya adalah deoksigenasi, yakni proses menghilangkan kandungan oksigen dari bahan baku untuk menghasilkan hidrokarbon yang sesuai dengan karakteristik bahan bakar penerbangan.

Di sinilah material MOF dikembangkan. Tim peneliti BRIN mencoba merekayasa struktur dan situs aktif material tersebut agar proses konversi minyak nabati dapat berlangsung lebih optimal sekaligus menghasilkan produk yang lebih sesuai untuk kebutuhan bioavtur.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan nikel sebesar 10 persen pada MOF mampu mengonversi minyak kelapa menjadi hidrokarbon hingga 99 persen, dengan selektivitas terhadap bioavtur mencapai 91,6 persen.

baca juga

Proses tersebut berlangsung selama empat jam, dengan tekanan hidrogen 30 bar dan suhu 350 derajat Celsius.

Angka ini menunjukkan adanya kemajuan dalam upaya meningkatkan selektivitas produk. Namun, capaian di laboratorium juga menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih membutuhkan pengembangan sebelum dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.

MOF dibuat agar bisa disesuaikan

Salah satu pendekatan yang digunakan peneliti adalah memanfaatkan ZIF-67, salah satu jenis MOF yang tersusun dari ion kobalt dan ligan 2-metilimidazol. Material ini digunakan sebagai sacrificial template untuk menghadirkan logam aktif, termasuk nikel, yang kemudian berperan dalam proses konversi minyak nabati.

Tim peneliti juga menguji jenis logam lain untuk mengetahui material mana yang paling sesuai dengan jalur reaksi dan karakteristik produk yang dihasilkan.

Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan material untuk proses konversi tidak selalu sama. Karakteristik minyak nabati, jalur reaksi, hingga jenis hidrokarbon yang diinginkan dapat memengaruhi material yang diperlukan.

“Kita berupaya memahami interaksi antara logam dan pengikat organik (ligan) di dalam MOF,” ujar Deliana.

Menurut dia, salah satu keunggulan MOF adalah strukturnya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. Komposisi material dan situs aktifnya juga dapat direkayasa sehingga karakteristik material bisa dikendalikan.

“MOF dapat kita modifikasi sesuai dengan kebutuhan. Struktur dan komposisinya dapat ditentukan, begitu juga situs aktifnya. Dengan demikian, kita dapat mengontrol karakteristik material tersebut,” kata Deliana, dikutip dari laman BRIN, Jumat (4/9).

Dari hasil laboratorium menuju SAF

Pengembangan SAF berbasis minyak nabati menawarkan salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan penerbangan terhadap bahan bakar fosil. Indonesia memiliki keuntungan berupa ketersediaan beragam bahan baku nabati yang dapat diteliti untuk kebutuhan tersebut.

Tetapi, keberhasilan di laboratorium belum otomatis berarti bahan bakar tersebut siap digunakan secara komersial. Masih diperlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan efisiensi proses, kualitas dan konsistensi bahan bakar, ketersediaan bahan baku, serta kelayakan penerapannya dalam skala industri.

Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menghasilkan hidrokarbon dari minyak kelapa, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat bekerja secara konsisten, efisien, dan memenuhi standar yang dibutuhkan industri penerbangan.

Dengan pendekatan itu, riset MOF tidak hanya menawarkan kemungkinan baru dalam memanfaatkan minyak kelapa. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana bahan baku nabati yang selama ini lebih banyak digunakan untuk pangan dapat dikembangkan menjadi bagian dari pilihan teknologi untuk mendukung transisi energi di sektor penerbangan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

News | Minggu, 06 September 2026 | 12:05 WIB

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 23:05 WIB

Pencemaran Limbah Potasium di Serang

Pencemaran Limbah Potasium di Serang

Foto | Jum'at, 04 September 2026 | 19:07 WIB

Terkini

Masih Layak Dibeli, Harga Emas Antam Naik Tipis Jadi Rp2.593.000/Gram

Masih Layak Dibeli, Harga Emas Antam Naik Tipis Jadi Rp2.593.000/Gram

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:29 WIB

Firasat Aneh Kakak-Adik Korban Kapal Virgo: Minta Pakaian Dicuci Ibu hingga Ingin Tidur Bersama

Firasat Aneh Kakak-Adik Korban Kapal Virgo: Minta Pakaian Dicuci Ibu hingga Ingin Tidur Bersama

Surakarta | Rabu, 16 September 2026 | 09:29 WIB

Dugaan Keracunan 128 Siswa, SPPG di Pariaman Ditutup Sementara hingga Hasil Uji BPOM Keluar

Dugaan Keracunan 128 Siswa, SPPG di Pariaman Ditutup Sementara hingga Hasil Uji BPOM Keluar

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:29 WIB

Intip Strategi Emiten Alat Berat INTA Jaga Bisnis Jangka Panjang

Intip Strategi Emiten Alat Berat INTA Jaga Bisnis Jangka Panjang

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:26 WIB

Jung Chaeyeon Perankan 3 Karakter di Drakor M: Reboot, Siap Tayang 2027

Jung Chaeyeon Perankan 3 Karakter di Drakor M: Reboot, Siap Tayang 2027

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 09:26 WIB

Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan, Kuasa Hukum Soroti Penyitaan Aset Rp846 Miliar

Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan, Kuasa Hukum Soroti Penyitaan Aset Rp846 Miliar

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:20 WIB

Febrie Adriansyah Siap Uji Dugaan TPPU dan Keabsahan Aset Rp 846 Miliar di Pengadilan

Febrie Adriansyah Siap Uji Dugaan TPPU dan Keabsahan Aset Rp 846 Miliar di Pengadilan

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:17 WIB

Industri Event Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional, Perputaran Uang Capai Rp 1,09 T

Industri Event Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional, Perputaran Uang Capai Rp 1,09 T

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:16 WIB

IHSG Mulai Bangkit Pagi Ini Tetap di Level 6.400, Pantau BRMS

IHSG Mulai Bangkit Pagi Ini Tetap di Level 6.400, Pantau BRMS

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:15 WIB

Udara Singapura Memburuk, Asap dari Kalimantan dan Sumatra Terpantau Bergerak Masuk

Udara Singapura Memburuk, Asap dari Kalimantan dan Sumatra Terpantau Bergerak Masuk

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:08 WIB

×