Suara.com - Terpikat dengan keindahan terumbu karang dan kawanan hiu blacktip di Halmahera Selatan pada 2024, penyelam sekaligus marine enthusiast Marischka Prue semakin penasaran dengan Pulau Obi, Maluku Utara. Rasa penasaran itu terjawab ketika ia menyelam langsung di perairan Obi pada Oktober 2025.
Marischka mengaku masih mengingat kejernihan laut Obi. Pengalamannya itu ia ceritakan dalam peluncuran buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat, yang digelar Harita Nickel bersama Penerbit Buku Kompas di Kompas Institute, Palmerah, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Salah satu lokasi yang pertama ia sambangi adalah Pulau Telor, titik selam di perairan barat Obi. Di kedalaman sekitar 12 meter, Marischka menemukan tutupan terumbu karang yang begitu rapat. Karang bercabang atau branching coral memenuhi area penyelaman hingga menyisakan sedikit ruang untuk turun lebih dalam.
“Benar-benar bening seperti kaca,” kata Marischka, menggambarkan kejernihan air laut Obi.
Dari sejumlah titik penyelaman yang dikunjunginya, Pasturi menjadi salah satu lokasi favorit. Bahkan, ia sempat meminta waktu tambahan untuk mengambil gambar dari udara sebelum melanjutkan penyelaman.
Marischka yang mulai menyelam sejak 2010 menilai Pulau Obi memiliki kualitas perairan yang istimewa. Dari berbagai lokasi penyelaman di Indonesia yang pernah dikunjunginya, ia menempatkan Obi dalam lima besar lokasi dengan air laut paling jernih, sejajar dengan kawasan penyelaman populer seperti Wakatobi.
Selain kejernihan air dan kondisi terumbu karang, Marischka juga menyoroti keberadaan Reefcube, modul substrat buatan yang dikembangkan Harita Nickel dari limbah slag perusahaan sebagai media tumbuh terumbu karang.
Menurut Marischka, keberadaan Reefcube menunjukkan potensi pemanfaatan struktur buatan untuk menyediakan habitat bagi biota laut. Modul tersebut menjadi tempat sejumlah biota untuk singgah dan menetap, sekaligus berpotensi menambah habitat bagi ikan-ikan karang di kawasan pesisir Obi.
Buku yang diluncurkan tersebut merupakan seri pertama dari rangkaian dokumentasi keanekaragaman hayati laut di pesisir barat Pulau Obi yang disusun tim Marine Environment Harita Nickel.
Buku ini mendokumentasikan karakteristik, habitat, dan peran ekologis berbagai jenis ikan karang yang ditemukan di perairan Obi, mulai dari Napoleon wrasse, parrotfish, butterflyfish hingga kerapu.
Jejak Hiu Berjalan di Perairan Obi

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., menyoroti potensi keberadaan hiu berjalan atau walking shark di perairan Maluku Utara. Ia menyebut timnya baru menerbitkan publikasi mengenai sebaran satwa endemik tersebut di kawasan itu.
Hiu berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera) merupakan salah satu dari sembilan spesies hiu berjalan di dunia yang diketahui hanya ditemukan di perairan Maluku Utara. Satwa yang pertama kali diidentifikasi di perairan dangkal sekitar Ternate dan Bacan pada 2013 ini juga dinilai dapat menjadi indikator kondisi ekosistem terumbu karang.
Menurut Beginer, dokumentasi keanekaragaman hayati seperti buku ikan karang penting untuk memperkaya basis data ilmiah, terutama karena masih banyak wilayah perairan Indonesia timur yang minim dokumentasi dan penelitian.
Penulis: Inesia Dian