- Pahami manfaat, risiko, dan ketentuan sebelum menggunakan layanan keuangan digital.
- Jaga data pribadi dan pastikan memilih layanan keuangan yang legal serta terpercaya.
- Kelola keuangan sesuai kemampuan dan gunakan untuk kebutuhan yang produktif.
Suara.com - Kemudahan teknologi membuat berbagai layanan keuangan kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. Hanya melalui ponsel, seseorang bisa melakukan pembayaran, menabung, berinvestasi, hingga mengakses layanan pendanaan untuk berbagai kebutuhan.
Di satu sisi, kemudahan tersebut membuka semakin banyak peluang. Namun di sisi lain, akses yang cepat juga perlu diiringi pemahaman yang cukup.
Tanpa literasi keuangan yang baik, kemudahan bertransaksi justru dapat membuat seseorang mengambil keputusan finansial tanpa mempertimbangkan risiko.
Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam program literasi keuangan “Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi” yang digelar PT Artha Dana Teknologi (Indodana Fintech) bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 7 September 2026.

Lebih dari 170 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa edukasi mengenai pengelolaan keuangan tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang sudah memiliki penghasilan tetap.
Justru sejak masih berada di bangku kuliah, generasi muda perlu mulai memahami bagaimana membuat keputusan finansial secara bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 93,61 persen.
Angka tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang telah memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan. Namun, akses saja belum cukup. Masyarakat juga perlu memahami cara menggunakan layanan tersebut sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Direktur Utama PT Artha Dana Teknologi, Ronny Wijaya, yang menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut, menilai pemahaman mengenai risiko menjadi bagian penting dalam mengikuti perkembangan ekosistem keuangan digital.
“Kami berkomitmen untuk mendorong literasi keuangan nasional pada mahasiswa sebagai generasi muda dengan harapan agar dapat membawa gerakan sebagai agent of change dengan memanfaatkan keuangan dengan pengelolaan yang baik dan juga bijak dalam mengambil keputusan keuangan mereka,” jelas Ronny.
Bagi mahasiswa, literasi keuangan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami kemampuan finansial sebelum mengambil keputusan, serta tidak mudah tergoda dengan tawaran layanan keuangan yang menjanjikan kemudahan tanpa memahami ketentuannya.
Pemahaman mengenai keamanan data pribadi juga tak kalah penting. Di tengah semakin banyaknya aktivitas finansial yang dilakukan secara digital, generasi muda perlu mengetahui batasan informasi pribadi yang aman untuk dibagikan serta mengenali ciri-ciri platform pinjaman daring legal dan ilegal.
Dalam sesi edukasi tersebut, mahasiswa juga diajak memahami bagaimana layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara bijak untuk hal-hal yang produktif, seperti menunjang pendidikan, mengikuti pelatihan, mengembangkan usaha, maupun mendukung pekerjaan.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan sekadar soal mengetahui istilah finansial atau memahami produk keuangan. Lebih dari itu, literasi menjadi bekal agar generasi muda mampu menentukan pilihan dengan lebih tenang, terukur, dan bertanggung jawab.
Sebab, semakin mudah akses keuangan yang tersedia, semakin penting pula kemampuan seseorang untuk memahami kapan harus menggunakannya, untuk apa, serta apa konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.