Suara.com - Dianggap lebih bersih daripada rokok tembakau, rokok elektrik atau vape semakin banyak digunakan oleh orang yang ingin beralih dari rokok konvensional. Namun, anggapan tersebut tidak serta-merta membuat vape bebas dari persoalan lingkungan.
Berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Monitoring and Assessment menguak temuan kandungan logam berat dalam vape sekali pakai.
Salah satunya adalah timbal yang ditemukan bahkan dalam kadar yang cukup tinggi.
Vape sekali pakai ini terdiri dari berbagai komponen, mulai dari plastik, baterai lithium-ion, hingga bagian elektronik seperti papan sirkuit.
Permasalahannya adalah komponen-komponen tersebut berada dalam satu perangkat yang sulit dibongkar.
Kondisi itulah yang membuat proses pemilahan dan daur ulang vape menjadi jauh lebih rumit. Baterai yang seharusnya dipisahkan dari sampah lainnya berpotensi tertinggal di dalam perangkat ketika vape tersebut dibuang.
Padahal, keberadaan baterai lithium-ion pada sampah elektronik bukanlah masalah sepele. Jika baterai rusak atau hancur selama melalui proses pengelolaan sampah, komponen tersebut bisa menimbulkan kebakaran.
Masalah lainnya muncul dari kandungan logam yang ditemukan dalam vape. Selain timbal, tim penelitian ini juga menemukan keberadaan logam berat lainnya dalam perangkat vape sekali pakai.
Peneliti membongkar bahwa sejumlah vape di dalamnya terkandung logam dalam jumlah yang cukup tinggi.
Lebih parahnya lagi adalah saat dilakukan pengujian terhadap vape, baru ditemukan kandungan tersebut bukan sekadar hadir karena perangkat telah dipakai atau menjadi limbah.
Maksudnya adalah permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh vape tidak hanya muncul ketika benda tersebut dibuang. Kandungan material di dalamnya sejak awal harus jadi perhatian.
Seorang Ilmuwan Pencegahan Polusi dari University of Illinois Urbana-Champain, John Scott, menjelaskan bahwa persoalan vape mempunyai lebih dari satu permasalahan.
"Pertama, masalah sampah padat yang besar. Dan yang kedua, terkait masalah keseharan," ungkap Scott, dikutip dalam laman resmi Phys, Jumat (11/9).
Ia menilai anggapan soal vape merupakan alternatif yang lebih baik dari rokok itu keliru. Namun, dalam penelitian ini sendiri belum membuktikan bahwa logam berat yang ditemukan dalam cairan vape bisa ikut terhirup oleh pengguna melalui uapnya.
Permasalahan yang lebih utama adalah bagaimana benda sekali pakai tersebut dapat berakhir hanya sebagai sampah.
Pada dasarnya, vape sekali pakai ini dirancang untuk memudahkan para penggunanya. Namun, dengan desain tersebut justru secara tidak langsung menyulitkan setelah benda itu tidak lagi digunakan.
Berbeda halnya dengan produk yang bisa dibongkar dan dipisahkan komponennya, vape sekali pakai justru membutuhkan proses lebih rumit dan memakan waktu hanya untuk memisahkan bagian-bagian di dalamnya.
Bayangkan jika dalam jumlah besar, benda-benda tersebut malah jadi persoalan tersendiri bagi sistem pengelolaan sampah. Terlebih lagi, seiring meningkatnya kebutuhan benda tersebut, membuat jumlah perangkat yang terbuang dan berakhir jadi limbah berpotensi meningkat.
Di samping itu, pembuangan vape secara sembarangan turut memicu pencemaran lingkungan. Logam berat yang berada di dalam perangkat dapat menjadi sumber kontaminasi jika material tersebut masuk ke lingkungan.
Fakta ini memperlihatkan bahwa permasalahan vape ini sebenarnya tidak hanya berhenti dari aspek penggunanya. Vape yang habis digunakan, masih ada tanggungan tersendiri bagaimana perangkat itu diproses dan dibuang.
Para peneliti pun menilai bahwa desain produk menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan. Vape seharusnya didesain sedemikian rupa dengan mempertimbangkan proses pemilahan dan daur ulangnya sejak awal.
Sebagai alternatif, vape isi ulang bisa jadi upaya untuk mengurangi pesatnya limbah yang dihasilkan oleh vape sekali pakai tersebut.
"Dengan meningkatnya tren rokok elektrik, disarankan agar cairan rokok elektrik secara umum dipantau dan diatur dengan lebih baik untuk memastikan tidak ada kontaminan berbahaya seperti logam," pungkasnya.
Penulis: Chairunisa