- Proses pembersihan wajah yang berlebihan dengan pembersih keras atau air panas menyebabkan kondisi *over cleansing* pada kulit.
- Dampak *over cleansing* meliputi kulit terasa kencang, kering, mengelupas, perih, sensitif, memerah, kasar, hingga memperburuk jerawat.
- Mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi frekuensi mencuci wajah, menggunakan pembersih lembut, dan mengaplikasikan pelembap.
Suara.com - Mencuci muka memang menjadi salah satu langkah penting dalam perawatan kulit. Namun, terlalu sering mencuci wajah justru bisa membuat kulit mengalami over cleansing atau pembersihan berlebihan.
Kondisi ini terjadi ketika kulit terlalu sering terkena proses pembersihan, terutama jika menggunakan sabun atau facial wash yang cukup keras, air panas, atau menggosok wajah terlalu kuat.
Lantas, apa saja ciri-ciri kulit wajah mengalami over cleansing?

Apa itu over cleansing?
Over cleansing adalah kondisi ketika proses membersihkan kulit dilakukan secara berlebihan sehingga minyak alami dan komponen pelindung pada permukaan kulit ikut berkurang.
Dermatolog Kathryn Anderson, MD, dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa mencuci wajah terlalu sering memang dapat terjadi karena setiap kali wajah dicuci, bukan hanya kotoran yang dibersihkan, tetapi sebagian minyak alami kulit juga ikut terangkat. Kondisi tersebut dapat membuat kulit menjadi lebih kering.
American Academy of Dermatology (AAD) juga menyarankan agar wajah dicuci maksimal dua kali sehari, yakni pagi dan malam, serta setelah berkeringat banyak. AAD merekomendasikan penggunaan pembersih wajah yang lembut dan tidak abrasif.
Ciri-ciri kulit wajah mengalami over cleansing
Berikut beberapa tanda yang bisa muncul ketika kulit terlalu sering dibersihkan.
1. Kulit terasa kencang setelah cuci muka
Salah satu tanda yang mudah dikenali adalah kulit terasa sangat kencang atau tertarik setelah mencuci muka.
Sensasi tersebut bukan berarti wajah benar-benar lebih bersih. Pembersih yang terlalu keras atau proses mencuci yang terlalu sering dapat menghilangkan sebagian lipid alami yang membantu menjaga kelembapan kulit.
Penelitian yang dipublikasikan di Dermatologic Therapy menjelaskan bahwa pembersih dengan surfaktan tertentu dapat memengaruhi protein dan lipid kulit sehingga berpotensi menyebabkan rasa kencang setelah mencuci wajah, kulit kering, iritasi hingga gatal.
2. Kulit menjadi kering dan mudah mengelupas
Kulit yang sebelumnya normal atau berminyak dapat berubah menjadi kering, kasar bahkan mengalami pengelupasan.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan terganggunya skin barrier. Cleveland Clinic menyebut kulit dengan barrier yang mengalami kerusakan dapat menunjukkan tanda seperti kering, bersisik, kasar, iritasi, gatal dan sensitif.
3. Wajah terasa perih atau menyengat
Coba perhatikan bagaimana kulit bereaksi ketika menggunakan skincare yang sebelumnya terasa biasa saja.
Jika wajah tiba-tiba terasa perih, menyengat atau panas ketika menggunakan pelembap maupun produk skincare tertentu, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa barrier kulit sedang terganggu.
Cleveland Clinic mencantumkan rasa perih ketika mengaplikasikan produk skincare sebagai salah satu tanda kerusakan skin barrier.
4. Kulit menjadi lebih sensitif
Over cleansing juga dapat membuat kulit lebih mudah bereaksi terhadap produk skincare maupun faktor lingkungan.
Literatur dermatologi menjelaskan bahwa pembersihan berlebihan, terutama jika dilakukan bersama penggunaan pembersih yang keras, dapat mengganggu fungsi barrier kulit. Dampaknya, kulit dapat menjadi lebih rentan terhadap iritasi.
5. Muncul kemerahan dan iritasi
Wajah yang sering dicuci atau digosok dapat mengalami kemerahan. Kondisi tersebut semakin mungkin terjadi apabila pembersih mengandung bahan yang kurang cocok untuk kulit sensitif atau wajah dibersihkan menggunakan alat yang terlalu abrasif.
AAD secara khusus menyarankan penggunaan ujung jari ketika mengaplikasikan pembersih dan menghindari menggosok kulit karena tindakan tersebut dapat menyebabkan iritasi.
6. Kulit terasa kasar
Alih-alih menjadi lebih halus, kulit justru dapat terasa kasar setelah terlalu sering dibersihkan.
Penelitian mengenai penggunaan sabun dan pembersih kulit menunjukkan bahwa pembersih yang keras dapat menyebabkan sejumlah perubahan pada lapisan terluar kulit, termasuk kekeringan, kekasaran, pengelupasan dan rasa kencang setelah mencuci.
7. Jerawat justru semakin bermasalah
Kulit berjerawat bukan berarti harus dicuci berkali-kali dalam sehari.
Terlalu sering membersihkan wajah dapat mengganggu barrier kulit dan menimbulkan iritasi. Literatur dermatologi juga mencatat bahwa over-cleansing dapat menyebabkan kerusakan skin barrier dan berpotensi memperburuk kondisi jerawat pada sebagian orang.
Berapa kali sebaiknya mencuci muka?
Menurut AAD, kebanyakan orang dapat mencuci wajah dua kali sehari, yaitu pada pagi dan malam hari. Wajah juga sebaiknya dibersihkan setelah berkeringat banyak.
Namun, kebutuhan setiap orang bisa berbeda. Dermatolog Kathryn Anderson, MD, dari Cleveland Clinic menyebut mencuci wajah sekali sehari pada malam hari juga dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang, terutama jika kulit cenderung kering.
Jadi, mencuci wajah berkali-kali bukan berarti kulit akan semakin sehat atau semakin bersih.
Cara mengatasi kulit yang mengalami over cleansing
Jika muncul tanda-tanda seperti kulit terasa tertarik, kering, perih, kemerahan atau sensitif, langkah pertama adalah mengurangi kebiasaan mencuci wajah secara berlebihan.
Gunakan facial cleanser yang lembut, hindari menggosok wajah, dan pilih air dengan suhu suam-suam kuku. AAD juga menyarankan penggunaan pelembap jika kulit terasa kering atau gatal.
Cleveland Clinic juga merekomendasikan pembersih yang lembut serta menghindari air panas karena dapat semakin mengikis minyak alami kulit dan meningkatkan kekeringan.
Dermatolog Melissa Piliang, MD, dari Cleveland Clinic menyarankan penggunaan pelembap yang mengandung komponen seperti ceramide, asam lemak dan lipid untuk membantu menjaga skin barrier.
Pada akhirnya, tujuan mencuci muka bukan membuat kulit terasa kesat maksimal, melainkan membersihkan kotoran, keringat dan minyak berlebih tanpa mengganggu lapisan pelindung alami kulit.
Jika kulit terus mengalami kemerahan, perih, gatal, mengelupas atau masalah jerawat meski frekuensi mencuci muka sudah dikurangi, konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter kulit untuk mengetahui penyebabnya.