- Pondok Pesantren Cahaya Qur'an di Kabupaten Bogor mendidik enam puluh anak tunanetra dari keluarga prasejahtera sejak tahun 2013.
- Sebanyak dua puluh relawan Sekolah Relawan mendampingi santri dalam kegiatan berkebun dan melukis saat Hari Santri Nasional.
- PT Garudafood menyalurkan bantuan sembako dan perlengkapan ibadah untuk mendukung kebutuhan dasar santri di Jawa Barat.
Suara.com - Keterbatasan penglihatan dan kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan bagi anak-anak disabilitas netra untuk memperoleh pendidikan yang layak. Di Pondok Pesantren Cahaya Qur’an, Kabupaten Bogor, 60 santri berusia 6-20 tahun belajar membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille, sekaligus mengikuti pendidikan umum dan pelatihan keterampilan.
Berdiri sejak 2013, pesantren ini menjadi tempat belajar sekaligus tinggal bagi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Sebagian besar santri berasal dari keluarga prasejahtera sehingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.
Kepala Pondok Pesantren Cahaya Qur’an, Firman Sukmawirya, mengatakan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar santri masih dibutuhkan.

“Mayoritas santri kami berasal dari keluarga yang kurang mampu. Donasi ini sangat berarti bagi kebutuhan sehari-hari dan memberi semangat bagi anak-anak. Kami berterima kasih atas perhatian dan kebersamaan yang diberikan, dan kami berharap anak-anak terus bersemangat menuntut ilmu,” ujar Firman.
Selain pendidikan agama, pengembangan keterampilan menjadi salah satu upaya untuk mendorong kemandirian santri. Pengalaman belajar melalui aktivitas langsung juga dapat membuka ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk mengenali lingkungan dan mengembangkan kreativitas.
Belajar melalui pengalaman langsung
Pada peringatan Hari Santri Nasional, sejumlah relawan mendampingi para santri mengikuti kegiatan menanam menggunakan perangkat berkebun untuk anak dan melukis. Aktivitas tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar melalui tekstur, bentuk, dan berbagai elemen di sekitar mereka.
Sebanyak 20 relawan Sekolah Relawan terlibat dalam pendampingan kegiatan tersebut. Para santri juga mengikuti pembelajaran bahasa isyarat secara berkelompok.
Kegiatan menanam turut memperkenalkan keterampilan dasar bercocok tanam yang berpotensi mendukung ketahanan pangan pesantren. Sementara itu, aktivitas melukis menjadi salah satu ruang untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas dengan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan santri.
Pengembangan keterampilan tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pada kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan kebutuhan dasar pesantren
Tantangan pemenuhan kebutuhan santri menjadi latar belakang penyaluran bantuan oleh PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk bersama Sekolah Relawan. Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, keduanya menyalurkan bantuan kepada sekitar 1.000 santri dan pengasuh di 10 pondok pesantren di Jawa Barat dan Banten.
Di Pondok Pesantren Cahaya Qur’an, bantuan yang diberikan meliputi sembako, perlengkapan ibadah berupa mukena, sarung, dan sajadah, serta produk makanan Garudafood. Sementara itu, pesantren lainnya menerima bantuan berupa produk Garudafood.
Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan kepada santri, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.
“Hari Santri merupakan momentum untuk mengapresiasi semangat, ketekunan, dan kontribusi para santri dalam membangun bangsa, termasuk santri istimewa, teman-teman difabel yang terus belajar dan berkarya,” kata Dian.
Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan Garudafood Sehati, yang mencakup bidang lingkungan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan bantuan kemanusiaan.
Bagi pesantren yang membina anak-anak dari keluarga prasejahtera, dukungan terhadap kebutuhan dasar dan pengembangan keterampilan menjadi dua aspek yang saling melengkapi. Selain memastikan kegiatan belajar dapat berlangsung, upaya tersebut juga penting untuk membuka kesempatan bagi santri penyandang disabilitas agar dapat mengembangkan potensi dan membangun kemandirian.