Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering dikaitkan dengan kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Namun, dampak kebakaran itu ternyata tidak melulu bermuara ketika api padam dan langit kembali cerah.
Tanpa disadari, sisa pembakaran bisa saja terbawa air hujan menuju sungai, danau, hingga laut. Material tersebut berpotensi mengubah kualitas air, mengganggu kehidupan organisme perairan, dan memengaruhi hasil tangkapan ikan.
Dampak ini menjadi sorotan, mengingat sungai dan perairan merupakan sumber pangan yang menopang kehidupan masyarakat.
Dengan begitu, karhutla ini tidak sekadar jadi persoalan hutan dan udara, melainkan ada kaitannya dengan keberlanjutan sumber pangan.

Melansir laman The Conversation Indonesia, Selasa (27/10), disebutkan bahwa partikel hasil pembakaran dapat kembali ke permukaan melalui hujan.
Proses pengendapan partikel dari atmosfer ini dikenal dengan sebutan amospheric deposition.
Partikel halus dalam asap, termasuk particulate matter (PM2.5), mengandung berbagai komponen organik dan nonorganik. Begitu turun bersamaan dengan hujan, partikel tersebut bisa menjelajahi daratan maupun perairan.
Di samping itu, air hujan yang mengalir melewati lahan bekas terbakar juga dapat membawa material sisa pembakaran.
Material itulah yang berpotensi membawa senyawa berbahaya, seperti hidrokarbon aromatik polisklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), serta sejumlah logam.
Bahkan kondisi ini dapat diperparah saat tanah gambut mengalami kebakaran. Tanah yang terbakar bisa saja mengalami perubahan karakteristik sehingga air jadi lebih sulit meresap dan lebih mudah mengalir menuju badan air.
Berdasarkan penelitian terhadap Sungai Sebangau di Kalimantan Tengah, setelah terjadi kebakaran besar pada 2015, ditemukan penurunan pH air dari 3,88 menjadi 3,20.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan keasaman yang bisa saja memengaruhi kondisi ekosistem perairan.
Dari temuan inilah yang membuktikan bahwa dampak karhutla perlu ditinjau hingga ke wilayah perairannya.
Sebab, perubahan kualitas air dapat mengakibatkan masalah yang berkelanjutan bagi organisme yang hidup dan bergantung di dalamnya.
Ekosistem Perairan dan Hasil Tangkapan Ikan Terancam
Material dari hasil pembakaran yang masuk ke wilayah perairan juga dapat memboyong unsur hara dalam jumlah berlebih.
Hal inilah yang memicu terjadinya eutrofikasi, yakni pengayaan nutrien yang mampu mendorong ledakan alga secara masif dan berlebihan.
Ketika alga mati dan terurai, mikroorganisme membutuhkan oksigen untuk menjalankan proses penguraian.
Hal ini akan berdampak pada kebutuhan oksigen yang mengalami peningkatan secara berlebihan, sehingga kadar oksigen terlarut dalam air dapat mengalami penurunan hingga mengancam kehidupan ikan maupun organisme lainnya.
Dampak itulah yang bisa berlanjut pada sumber pangan masyarakat sekitar. Dari penelitian di kawasan gambut Sebangau membuktikan bahwa hasil tangkapan ikan menurun hingga 78 persen setelah kebakaran besar terjadi pada 2015.
Penurunan hasil tangkapan ternyata bukan hanya berhubungan dengan kondisi ekosistem, tetapi juga dapat memengaruhi masyarakat yang mengandalkan penghidupannya pada aktivitas perikanan.
Ketika jumlah ikan yang dapat ditangkap berkurang, pendapatan nelayan dan ketersediaan pangan dari perairan turut mengalami imbasnya.
Usut punya usut, dampak karhutla tidak hanya mengganggu keberlangsungan hidup ikan, bencana tersebut juga berpotensi memengaruhi jumlah kontaminan dalam organisme perairan.
Mengutip penelitian di Kanada yang menemukan bahwa total merkuri dalam tubuh ikan di Danau Moab mengalami peningkatan hingga lima kali lipat setelah kebakaran hutan.
Kita tahu bahwa merkuri merupakan logam berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia apabila kadar paparannya melampaui batas aman.
Dari temuan tersebut menjadi pengingat bahwa dampak karhutla bisa dengan mudah menjangkau rantai makanan perairan.
Meski begitu, tingkat risiko terhadap konsumen perlu ditinjau berdasarkan jenis kontaminan, konsentrasinya, serta besaran paparan.
Pemantauan Lingkungan Tidak Cukup Berhenti pada Asap
Untuk dampak berantai tersebut turut memperlihatkan betapa pentingnya pemantauan lingkungan setelah karhutla.
Pengawasan tidak cukup hanya dengan berfokus pada luas lahan terbakar, jumlah titik panas, dan kualitas udara.
Di baliknya, ada kondisi sungai serta ekosistem perairan yang terintegrasi dengan kawasan terbakar juga perlu jadi perhatian.
Pemantauannya bisa mengacu pada tingkat keasaman air, suhu, kekeruhan, oksigen terlarut, kandungan nutrien, hingga kontaminan tertentu sesuai kondisi wilayah.
Pengambilan sampel sebelum dan setelah hujan juga dinilai dapat mmbantu mengidentifikasi perubahan kualitas air.
Dengan begitu, pencemaran yang muncul setelah material sisa pembakaran terbawa aliran air berpeluang terdeteksi lebih dini.
Informasi mengenai kondisi ikan dan perubahan hasil tangkapan masyarakat pun tak kalah penting untuk melengkapi hasil pengukuran ilmiah.
Data tersebut dapat membantu menganalisis gangguan ekosistem sekaligus memahami dampaknya terhadap penghidupan warga.
Pada akhirnya, hujan memang dinantikan untuk memadamkan kebakaran dan membersihkan udara dari asap. Namun, air hujan juga dapat membawa sisa pembakaran dari daratan menuju perairan.
Oleh karena itu, penanganan karhutla perlu disertai pemantauan sungai, ekosistem perairan, dan sumber pangan. Upaya tersebut penting agar dampak kebakaran tidak luput dari perhatian setelah api berhasil dipadamkan.
Penulis: Chairunisa