Bakal calon presiden (Bacapres) dari Koalisi Perubahan Persatuan (KPP) Anies Baswedan menyebut nama Mr Assaat saat menjadi pembicara kuliah umum salah satu kampus.
Anies dalam video yang viral itu menyebut sosok Mr Assaat sebagai presiden dari Republik Indonesia Serikat (RIS).
"Republik Indonesia hanya bagian kecil. Republik Indonesia presidennya Soekarno, Republik Indonesia Serikat, presidennya Mr Assaat. Ini fakta sejarah," kata Anies dalam video yang viral tersebut.
Pernyataan dari Anies Baswedan ini kemudian dikoreksi oleh sejarawan Bonnie Triyana.
"Oom @aniesbaswedan itu keliru sejarahnya. Kebalik. Yang bener Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS), sedangkan Mr. Assaat gelar Datuk Mudo adalah pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia berkedudukan di Yogyakarta," tulis Bonie di akun Twitter miliknya.
Lantas siapa sebenarnya Mr Assaat tersebut?
Assaat yang bergelar Datuk Mudo merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia kelahiran Dusun Pincuran Landai, Kubang Putiah, Banuhampu, Agam, Sumatera Barat.
Assaat kerap dikenal sebagai presiden Indonesia yang terlupa. Ya, fakta sejarah menyebutkan bahwa ia merupakan pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta.
Mr Assaat mendapat pendidikan di Perguruan Adabiah dan MULO Padang. Ia lantas merantau dan melanjtukan pendidikan ke STOVIA.
Tak cocok menjadi seorang dokter, Assaat melanjutkan ke AMS -- satuan pendidikan setingkat SMA untuk saat ini.
Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. Menempuh pendidikan di sekolah hukum itu, Assaat aktif di organisasi pergerakan pemuda.
Assaat giat dalam organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond. Karier politiknya makin menanjak dan berhasil menjadi Pengurus Besar Perhimpunan Pemuda Indonesia.
Selanjutnya Assaat tergabung ke Partai Indonesia atau Partindo. Dalam partai ini, Assaat bergabung dengan pemimpin Partindo, seperti Adenan Kapau Gani, Adam Malik serta Amir Sjarifoeddin.
Assaat lantas melanjutkan pendidikan hukum ke negeri Belanda. Ia pun memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr.) atau Sarjana Hukum dari Universitas Leiden, Belanda.
Tiga tahun setelah Indonesia merdeka, Assaat sempat diasingkan oleh tentara kolonial Belanda saat agresi militer kedua.