Mengapa Demokrat Tak Ngotot Tolak Kepala Daerah Dipilih DPRD?

Siswanto

Senin, 08 September 2014 | 09:41 WIB
Mengapa Demokrat Tak Ngotot Tolak Kepala Daerah Dipilih DPRD?
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok (tengah), [suara.com/Bowo Raharjo]

Suara.com - Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok mengatakan partainya sesungguhnya menginginkan agar kepala daerah tetap dipilih secara langsung oleh rakyat, asalkan pengawasan terhadap pemilihan dilakukan secara ketat agar tidak terjadi money politic.

"Hati kecil sih sesungguhnya tetap ingin pilihan langsung. Tetapi, pengawasan mesti diperketat agar money politic tidak banyak. Kalau sekarang ini kan tidak jelas siapa yang bermain," kata Mubarok kepada Suara.com, Senin (8/9/2014).

Pernyataan Mubarok terkait dengan keinginan mayoritas partai anggota Koalisi Merah Putih di DPR RI agar mekanisme pemilihan kepala daerah diubah, dari kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat, menjadi dipilih oleh DPRD.

Ditanya tentang pengawasan seperti apa yang dibutuhkan untuk menciptakan pilkada jujur atau bebas dari praktik money politic, Mubarok tidak menjelaskan secara detail. Ia hanya mengatakan, pasti ada caranya.

Mubarok mengatakan pilkada langsung oleh rakyat hanya cocok untuk negara yang tingkat pendidikan rakyatnya sudah baik. "Itu baru ideal," katanya.

Sedangkan untuk masyarakat dengan tingkat pendidikan rata-rata kurang baik seperti di Indonesia, kata Mubarok, pelaksanaan pilkada langsung tidak ideal.

"Karena rakyat belum bisa pilih calon yang sesungguhnya. Mereka masih bisa dipengaruhi oleh uang, oleh pencitraan dan sebagainya. Oleh karena itu, yang terpilih bukan tokoh yang dibutuhkan," kata Mubarok.

Menurut Mubarok pilkada langsung di Indonesia selama ini hanya menyuburkan praktik money politic, tak hanya di tingkat elite, tetapi sampai di tingkat paling bawah.

Mubarok mengatakan untuk kondisi masyarakat sekarang, pemilihan langsung hanya cocok untuk memilih pejabat lurah. Pasalnya, semua warga di kelurahan setempat mengetahui dan mengenal calon lurahnya.

"Beda kalau pilihan di tingkat kabupaten atau provinsi, rakyat desa tidak tahu dan calon bupatinya karena jauh. itu problemnya," katanya seraya mengatakan hal itu kemudian menjadikan money politic terjadi.

Mubarok juga menekankan gagasan ingin mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah ke DPRD tidak terlalu salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Artinya, pilkada langsung bisa membuat masyarakat semakin cerdas, tetapi dalam praktiknya sekarang di tingkat masyarakat berpendidikan rendah, itu jadi lahan praktik money politic bagi yang berkepentingan.

"Bayangin aja, di pilpres yang lalu, tingkat RW terima uang, dan mereka biasa-biasa saja," katanya. "Jadi money politic itu tak hanya elite, tapi sampai ke bawah dan itu lebih bahaya."

Dengan kata lain, apakah dua periode pemilu langsung yang telah memenangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesungguhnya juga belum ideal? Mubarok mengakui  belum ideal.

"Tapi itu kan awal (pemilu langsung), pertama kali. Ketika pertama kali orang belum money politic. Belum kenal. Tapi di pemilu ketiga setelah itu, money politic luar biasa terjadi. Semakin ke sini semakin dahsyat," katanya.

Pemilu paling ideal atau paling demokratis dan jujur, kata dia, hanya terjadi pada 1955 atau pemilu pertama di Indonesia. "Sangat demokrasi, jujur, dibanding orde sekarang ini. Ternyata semakin pintar, orang bukan semakin baik. Semakin pintar, akal makin banyak," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tolak Pilkada Langsung, Ini Empat Alasan Ketakutan Partai

Tolak Pilkada Langsung, Ini Empat Alasan Ketakutan Partai

News | Minggu, 07 September 2014 | 19:30 WIB

Agung Laksono: Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD Bisa Dilaksanakan

Agung Laksono: Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD Bisa Dilaksanakan

News | Minggu, 07 September 2014 | 16:22 WIB

Kepala Daerah Dipilih DPRD, PDIP Minta Koalisi Merah Putih Sadari Efeknya

Kepala Daerah Dipilih DPRD, PDIP Minta Koalisi Merah Putih Sadari Efeknya

News | Jum'at, 05 September 2014 | 18:37 WIB

Perindo Tak Percaya Kepala Daerah Dipilih DPRD Bisa Hambat Orang Baik

Perindo Tak Percaya Kepala Daerah Dipilih DPRD Bisa Hambat Orang Baik

News | Jum'at, 05 September 2014 | 17:16 WIB

Perindo: Ketakutan Kepala Daerah Dipilih DPRD, Tak Beralasan

Perindo: Ketakutan Kepala Daerah Dipilih DPRD, Tak Beralasan

News | Jum'at, 05 September 2014 | 16:51 WIB

Terkini

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:33 WIB

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:00 WIB

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:23 WIB

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:22 WIB

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:18 WIB

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:21 WIB

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:12 WIB

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:56 WIB

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:54 WIB