Pangdam: Kelompok Separatis di Papua Masih Berbeda Kepentingan

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Rabu, 01 April 2015 | 01:01 WIB
Pangdam: Kelompok Separatis di Papua Masih Berbeda Kepentingan
Personel TNI berangkat untuk tugas di perbatasan RI-PNG. [Antara]

Suara.com - Pihak Komando Daerah Militer (Kodam) VII/Cenderawasih menyebutkan, di Papua ada tiga kelompok sipil bersenjata (KSB) yang tergolong besar. Masing-masing yakni kelompok Mathias Wenda di wilayah Wutung atau perbatasan RI-PNG, kemudian kelompok Goliat Tabuni di Kabupaten Puncak Jaya, serta kelompok Hans Yoweni di wilayah Mamta.

"Tapi karena mereka sekarang sudah termakan usia, jadi mereka sudah tidak bertindak aktif di lapangan. Tetapi secara hirarki, mereka masih tetap dihormati oleh sesamanya," ujar Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Fransen Siahaan, di Jayapura, Papua, Selasa (31/3/2015).

Dikatakan Fransen lagi, seiring perkembangan zaman, maka muncul kelompok-kelompok yang diawaki para pemuda seperti Enden Wanimbo dan Puron Wenda di wilayah pegunungan tengah, juga Kelly Kwalik dan Ayub Waker di Timika. Namun kelompok-kelompok muda ini menurutnya bergerak bukan karena ideologi kemerdekaan Papua.

"Tapi di antara mereka itu, yang paling sering eksis adalah kelompok Yambi, Purom Wenda dan Enden Wanimbo. Mereka ini yang masih sering melakukan aksi-aksi, seperti penembakan dan perampasan senjata milik anggota TNI/Polri," sambung Fransen.

Menurutnya, kelompok-kelompok muda ini kerap beraksi hanya untuk mencari nama sebagaimana kebesaran para pendahulunya yang sudah sepuh.

"Jadi mereka (kelompok Enden dan Puron) itu kelompok muda yang ingin diakui keberadaannya di lingkungan mereka. Dan ketika mereka berhasil merampas atau mendapatkan senjata, dan kemudian bisa beraksi, maka itu sudah (menjadi) pengakuan bahwa merekalah yang menguasai daerah tersebut," beber Fransen.

Fransen menjelaskan lagi, latar belakang manuver kelompok besar bentukan Goliat Tabuni, Mathius Wenda dan Hans Yoweni, memang lebih karena ingin memperjuangkan kemerdekaan Papua. Sementara kelompok muda Puron Wenda dan lainnya itu, menurutnya masih diragukan ideologinya.

"Karena kelompok muda ini ideologinya mungkin karena uang, ideologi 'sakit hati' dengan kepala daerah, dan masih banyak lagi. Tapi kalau dibilang ideologi merdeka, kami masih ragukan itu," tandasnya. [Lidya Salmah]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Anggota Kriminal Bersenjata Papua Ditembak, Jenazah Dibakar

Anggota Kriminal Bersenjata Papua Ditembak, Jenazah Dibakar

News | Selasa, 31 Maret 2015 | 16:55 WIB

Presiden Jokowi Agendakan Bertemu OPM

Presiden Jokowi Agendakan Bertemu OPM

News | Kamis, 26 Maret 2015 | 03:51 WIB

Terkini

Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia

Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia

News | Minggu, 26 April 2026 | 00:01 WIB

Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia

Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia

News | Sabtu, 25 April 2026 | 22:05 WIB

Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun

Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun

News | Sabtu, 25 April 2026 | 21:05 WIB

Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029

Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029

News | Sabtu, 25 April 2026 | 20:12 WIB

Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR

Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR

News | Sabtu, 25 April 2026 | 19:50 WIB

PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota

PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota

News | Sabtu, 25 April 2026 | 19:10 WIB

Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik

Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik

News | Sabtu, 25 April 2026 | 18:40 WIB

Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!

Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!

News | Sabtu, 25 April 2026 | 18:19 WIB

Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK

Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK

News | Sabtu, 25 April 2026 | 18:15 WIB

Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok

Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok

News | Sabtu, 25 April 2026 | 17:28 WIB