Usai Pembunuhan Biadab Salim Kancil, Warga Desa Masih Diancam

Siswanto, Agung Sandy Lesmana

Rabu, 30 September 2015 | 06:31 WIB
Usai Pembunuhan Biadab Salim Kancil, Warga Desa Masih Diancam
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Buntut pembunuhan biadab terhadap petani Salim Kancil (46), sampai saat ini warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih merasakan adanya ancaman dari orang-orang yang mendukung penambangan pasir ilegal di daerahnya.

Staf Divisi Pembelaan Hak Ekonomi dan Sosial Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Ananto Setiawan mengatakan bentuk ancaman yang diterima warga beragam.

"Masih ada, mulai dari diancungin clurit sampai datangin ke rumahnya, sampai ada (ancaman) melalui pesan-pesan singkat juga," kata Ananto kepada Suara.com di kantor Kontras, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2015).

Ancaman tersebut diterima sejak sebelum kasus pembunuhan terjadi. Sebagian warga, kata Ananto, telah melaporkan ancaman tersebut kepada pihak berwajib.

"Malah sebelumnya tanggal 11 September ini, warga tuh lapor ke polisi, kalau mereka merasa diancam, diintimidasi dan lain sebagainya.warga lapor ke Polres Lumajang, kemudian Kapolresnya bilang dia bakal bikin tim untuk mencari tahu lagi tentang itu," kata dia.

Namun, kata Ananto, polisi lamban merespon laporan warga sampai kemudian terjadi pembunuhan keji.

"Warga sudah beberapa kali melapor ke polisi, terkait ancaman dan lain sebagai, tapi ternyata responnya polisi nggak sigap untuk hal itu sampai ada pembunuhan," katanya.

Salim Kancil dibunuh oleh massa pendukung kegiatan tambang pasir di Desa Selok Awar-awar pada 26 September 2015.

Tidak hanya Salim, seorang petani lainnya, Tosan, juga dianiaya hingga kondisinya kritis karena luka bacokan.

Kedua korban merupakan petani yang dari awal menolak penambangan pasir di desanya karena dapat mengakibatkan kerusakan serta mengancam produksi pertanian di desanya.

Kegiatan penambangan dilakukan awal tahun 2014, ketika itu warga diundang kepala desa untuk sosialisasi pembuatan kawasan wisata tepi pantai obyek wisata Watu Pecak.

Namun, tak pernah terealisasi, yang terjadi justru penambangan di area oleh sebuah perusahaan.

BERITA MENARIK LAINNYA:

Lambung Jebol, Teman Salim Kancil Sudah Sadar

KontraS Menduga Kepala Desa Dalang Pembunuhan Salim Kancil

Menjalin Asmara, Sepasang Saudara Tiri Tega Mutilasi Orangtua

Ucapan Ahok Dibantah Pedagang Daging Anjing, Ini Ceritanya

Hanya Karena Utang Rp200 Ribu, Ibu Rumah Tangga Dianiaya Rentenir

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kontras Investigasi Pembunuhan Biadab Salim Kancil

Kontras Investigasi Pembunuhan Biadab Salim Kancil

News | Selasa, 29 September 2015 | 17:36 WIB

Salim Kancil Dibunuh, Modus Konflik Agraria Selalu Sama

Salim Kancil Dibunuh, Modus Konflik Agraria Selalu Sama

News | Selasa, 29 September 2015 | 16:07 WIB

LPSK Jamin Lindungi Pembongkar Kasus Pembunuhan Salim Kancil

LPSK Jamin Lindungi Pembongkar Kasus Pembunuhan Salim Kancil

News | Selasa, 29 September 2015 | 15:51 WIB

Terkini

Menkeu Suahasil: Impor Beras Ilegal Menodai Swasembada Pangan RI

Menkeu Suahasil: Impor Beras Ilegal Menodai Swasembada Pangan RI

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 17:52 WIB

Atribut Ojol Disalahgunakan untuk Kejahatan, Komunitas di Bekasi Minta Polisi Tindak Tegas!

Atribut Ojol Disalahgunakan untuk Kejahatan, Komunitas di Bekasi Minta Polisi Tindak Tegas!

News | Selasa, 22 September 2026 | 17:51 WIB

Saksi Sebut Pembagian Kuota Haji 50:50 Bukan Ide Yaqut Seorang Diri

Saksi Sebut Pembagian Kuota Haji 50:50 Bukan Ide Yaqut Seorang Diri

News | Selasa, 22 September 2026 | 17:47 WIB

Banjir Kritik Netizen, Drama The Scandal Dinilai Terlalu Fokus pada Adegan Intim

Banjir Kritik Netizen, Drama The Scandal Dinilai Terlalu Fokus pada Adegan Intim

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 17:46 WIB

Impor Pakaian Bekas Ilegal Tetap Marak, Dirjen Bea Cukai: Masyarakat Masih Mau Balpres

Impor Pakaian Bekas Ilegal Tetap Marak, Dirjen Bea Cukai: Masyarakat Masih Mau Balpres

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 17:43 WIB

Kasus Proyek PUTR, Bupati Bolmut Sirajudin Lasena Ditahan KPK

Kasus Proyek PUTR, Bupati Bolmut Sirajudin Lasena Ditahan KPK

Foto | Selasa, 22 September 2026 | 17:40 WIB

Kabut Asap Mereda, Siswa di Pekanbaru Kembali Masuk Sekolah Besok

Kabut Asap Mereda, Siswa di Pekanbaru Kembali Masuk Sekolah Besok

Riau | Selasa, 22 September 2026 | 17:40 WIB

Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam

Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 17:40 WIB

Prabowo Minta Bea Cukai Perketat Perbatasan dan Wilayah Pesisir

Prabowo Minta Bea Cukai Perketat Perbatasan dan Wilayah Pesisir

News | Selasa, 22 September 2026 | 17:39 WIB

Tangkap Sirajudin dalam Hotel di Jakarta, KPK Temukan Uang Rp 130 Juta

Tangkap Sirajudin dalam Hotel di Jakarta, KPK Temukan Uang Rp 130 Juta

News | Selasa, 22 September 2026 | 17:37 WIB

×