Mami Beti, Waria Sinden dari Ngawi

Siswanto, Ummi Hadyah Saleh

Senin, 11 Januari 2016 | 14:49 WIB
Mami Beti, Waria Sinden dari Ngawi
Waria bernama Beti Suparti alias Mami Beti [suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Suara.com - Malam akhir pekan itu, Beti Suparti dandan ala sinden. Dia pakai kebaya dan rambutnya disanggul.

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, Beti pun menceritakan lika-liku kehidupannya.

Beti atau yang akrab disapa Mami Beti adalah seorang waria. Dia punya keahlian yang jarang dimiliki rekan-rekannya. Dia jago nyinden.

Keteramilan ini dimilikinya karena sejak usia 10 tahun, dia aktif di dunia seni. Mami Beti sering ikut pagelaran ketoprak dan ludruk sewaktu masih tinggal di Ngawi.

"Awalnya aku ikut sanggar Caplin di Ngawi, jadi aku sering manggung. Setiap ada hiburan rakyat pasti ada pagelaran seperti ketoprak. Nggak lama aku diajakin teman di pagelaran wayang kulit menjadi sinden," ujar Mami Beti dengan logat khas Jawa Timur saat berbincang-bincang dengan Suara.com di Wisma Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Jakarta, Sabtu (9/1/2016).


Bagaimana sikap keluarga ketika dia dandan ala sinden, padahal fisiknya seorang lelaki. Ayahnya marah, sementara ibunya bisa memahami.

"Almarhum ayahku melarang aku waktu ikut pagelaran. Apalagi kalau melihat dandananku seperti perempuan. Pernah pas ketahuan bapak, aku langsung disabet pakai kayu singkong," kata Mami Beti dengan mata berkaca-kaca.

Ia tidak bisa menipu diri. Mami Beti terpaksa kucing-kucingan dengan ayah yang terus melarangnya dandan menyerupai perempuan.


Memutuskan menjadi waria jalanan

Saat ditemui Suara.com, Mami Beti mengenakan kebaya warna biru muda lengkap dengan sanggul. Dia senang bercerita. Mami Beti kemudian bercerita kenapa menjadi waria yang sering berada jalanan.

Waria berusia 65 tahun itu mengaku menjadi waria di pinggir jalan sejak tahun 1993. Macam-macam pekerjaan sudah dilakoninya, bahkan ia mengaku pernah menjual diri kepada para lelaki hidung belang.

Mami Beti pun mengungkit kisah sedih hidup bersama seorang lelaki yang sudah dianggapnya suami. Ia hidup bersama dengan lelaki itu selama 13 tahun.

Lelaki tersebut, kata Mami Beti, kemudian meninggalkan Mami Beti sendirian. Kejadian itu membuat Mami Beti frustasi.

Untuk meninggalkan kenangan, dia pindah dari Bintaro ke Kebayoran. Di Kebayoran, Mami Beti bertemu teman yang kemudian menjadi rekannya di jalan.

"Saya melakukan hal tersebut bukan terpaksa karena ekonomi, karena saya ditinggal pasangan saya (suami). Aku ketemu teman yang ngenalin aku jadi waria pinggir jalan, akhirnya aku mau," katanya.

Selama menjadi waria pinggir di jalanan, Mami Beti mengalami banyak hal. Mulai dari yang tidak mengenakkan sampai yang mengenakkan. Ia pernah menerima perlakuan kasar dari organisasi keagamaan yang sedang sweeping.

"Sudah makanan sehari-hari, itu kan masalah maaf ya kalau masalah bayar nggak bayar, kita sama-sama seneng. Tapi saya pernah diancam pakai pisau dan malah minta uang sama saya. Kami juga sering dipukulin atau digebukin sama organisasi keagamaan yang menganggap kita seperti sampah dan binatang kalau mereka sweeping," katanya.

Usia makin senja

Usia Mami Beti kini tak muda lagi. Tenaganya tak sekuat dulu. Akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti jadi waria jalanan.

Sebagai senior, Mami Beti sekarang lebih banyak mengawasi waria-waria muda agar mereka selalu dalam keadaan aman selama di jalan. Selain itu, agar mereka juga punya keterampilan sebagai modal kalau nanti tak kuat lagi di jalanan.

"Sampai sekarang masih suka nengok anak-anak. Kita sadar saya sudah tidak muda lagi. Jadi saya hanya pantau dan tanya apakah aman dan apa ada yang kasar tamu," tutur Mami Beti.

Mami Beti mengungkapkan kesulitan yang dialami waria. Sebagai minoritas, mereka selalu mendapat diskriminisasi dalam banyak hal.

Contohnya, waria sulit sekali mendapat pekerjaan yang baik. Usia muda saja susah, apalagi yang sudah jompo seperti Mami Beti. Nasib waria jompo, rata-rata memprihatinkan.

Tapi, Mami Beti sangat bersyukur. Dia masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Bintaro. Dia juga bersyukur masih ada keluarga yang baik yang mau mempekerjakan waria.

Sesekali, sampai sekarang, Mami Beti masih diminta menjadi sinden untuk pagelaran wayang kulit.

"Kalau waria yang muda harusnya mendapat pekerjaan. Kalau yang tua kaya kita tinggal berdoa saja untuk bertahan hidup kedepannya. Alhamdulillah saya ada kerjaan untuk urus rumah tangga, kadang suka dipanggil nyinden," kata Mami Beti.

Ia sangat berharap pemerintah memperhatikan kalangan waria, terutama yang sudah jompo.

"Semoga pemerintah peduli kepada waria yang lansia seperti aku dan teman-teman lain bisa diberikan pekerjaan. Juga diberikan BPJS kesehatan. Kami kan warga negara Indonesia juga," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Oma Yotti Ungkap Pahit Getir Waria, Dari Jalanan ke Rumah Singgah

Oma Yotti Ungkap Pahit Getir Waria, Dari Jalanan ke Rumah Singgah

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 18:36 WIB

Aturan Ketat Rumah Singgah Waria Jompo, Tak Boleh Inapkan Lelaki

Aturan Ketat Rumah Singgah Waria Jompo, Tak Boleh Inapkan Lelaki

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 17:16 WIB

Menengok Rumah Singgah Waria Jompo Satu-satunya di Dunia

Menengok Rumah Singgah Waria Jompo Satu-satunya di Dunia

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 16:43 WIB

Kelompok Waria Ternyata Punya KTP Sendiri

Kelompok Waria Ternyata Punya KTP Sendiri

News | Rabu, 06 Januari 2016 | 21:08 WIB

Terkini

Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin

Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin

Jawa Tengah | Senin, 14 September 2026 | 10:52 WIB

7 Cara Efektif Mencegah Nyamuk Masuk Rumah, Sederhana tapi Sering Dilupakan

7 Cara Efektif Mencegah Nyamuk Masuk Rumah, Sederhana tapi Sering Dilupakan

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 10:51 WIB

Kelangkaan BBM Meluas, IESR Sebut Ketahanan Energi Cuma di Atas Kertas

Kelangkaan BBM Meluas, IESR Sebut Ketahanan Energi Cuma di Atas Kertas

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:49 WIB

6 Rekomendasi Sepeda MTB Full Suspension Termurah di Bawah Rp4 Juta untuk Pemula

6 Rekomendasi Sepeda MTB Full Suspension Termurah di Bawah Rp4 Juta untuk Pemula

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:48 WIB

Maudy Ayunda Dituding Main Aman, Netizen Sindir Telak: Lulusan Stanford tapi Memalukan

Maudy Ayunda Dituding Main Aman, Netizen Sindir Telak: Lulusan Stanford tapi Memalukan

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 10:44 WIB

Noda Tinta di Pakaian Susah Hilang? Ini Cara Membersihkannya Tanpa Merusak Kain

Noda Tinta di Pakaian Susah Hilang? Ini Cara Membersihkannya Tanpa Merusak Kain

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 10:43 WIB

Houthi Kusai Garis Pantai Laut Merah, Bab el-Mandeb Bisa Senasib Selat Hormuz

Houthi Kusai Garis Pantai Laut Merah, Bab el-Mandeb Bisa Senasib Selat Hormuz

News | Senin, 14 September 2026 | 10:42 WIB

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:39 WIB

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 10:38 WIB

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:35 WIB

×