Suara.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih mengumpulkan data-data soal penyebab turbulensi yang dialami maskapai penerbangan Etihad Airways rute Abu Dabhi - Jakarta pada Rabu (4/5/2016) siang.
"Kena cuaca dekat Sumatera, cuacanya jelek, guncangan cukup kuat, kira-kira itu saja informasi yang kita dapat," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat dihubungi suara.com, Kamis (5/5/2016).
Selebihnya, Soerjanto belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Pihaknya, kata dia masih terus bekerja keras mengungkap penyebab insiden tersebut.
"Kita lagi teliti yang lain-lainnya, informasi dari BMKG, tower, pilot melihat cuaca segala macam seperti apa," ujarnya.
Yang pasti, lanjut Soerjanto, rute penerbangan yang mengarah ke Jakarta selalu melewati langit Sumatera. Hanya saja, KNKT masih melakukan penelitian sejauh ini apakah piliot tidak bisa menghindari atau bagaimana.
"Kalau cuaca buruk ya harus dihindarkan, kenapa lewat di situ ya lagi kita teliti. Ya itu jalur penerbangan semua lewat situ. Tapi kan cuaca bisa berubah-ubah, masih dalam penelitian lah," ucapnya.
Soerjanto juga belum memastikan kapan akan merilis hasil investigasi KNKT soal turbulensi pesawat Etihad Airways EY 474.
"Ini saja kita belum lengkap, masih ngumpulin data dulu, belum wawancana krunya, belum bisa kita omongin (kapan hasilnya), tapi masalahnya kalau sudah lengkap datanya, baru kita bisa perkirakan kapan laporan akan selesai," jelas dia.
Diberitakan sebelumnya, pesawat Etihad Airways bernomor penrebangan EY 474 rute Abu Dabhi-Jakarta mengalami turbulensi hebat pada Rabu (4/5/2016). Sebanyak 31 penumpang dikabarkan mengalami luka-luka. Rinciannya sembilan luka serius, termasuk pramugari, dan 22 luka ringan.
Turbulensi terjadi sekitar 45 menit sebelum mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.