Suara.com - Ketakutan warga minoritas AS-khususnya warga Muslim, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat terbukti. Meski baru dilantik Januari 2017 mendatang, serangkaian kekerasan sudah dialami warga muslim AS.
Council on American-Islkamic Relation (CAR), lembaga pengawas HAM Muslim AS mencatat telah terjadi tindak kekerasan terhadap warga muslim setelah Trump dinyatakan memenangkan Pilpres AS. Setidaknya terjadi pelecehan dan kekerasan terhadap dua perempuan berhijab, serta aksi bully kepada imigran.
Seorang mahasiswi muslim di San Diego University disiksa dan dirampok Rabu lalu, tak lama setelah Trump memenangi pemilu. Pelaku mengaku pendukung Trump dan seorang anti-muslim.
Di San Jose State Unversity, seorang lelaki diduga fanatik Trump memaksa mencopot hijab perempuan yang melintas di depannya.
"Islamophobia sudah terjadi saat kampanye presiden masih berlangsung," kata kepala CAR Ibrahim Hooper.
Selain muslim AS, kekhawatiran juga menyelimuti kaum gay. Saat pemungutan suara masih berlangsung, seorang gay babak belur dihajar pendukung Trump di Santa Monica. Wajahnya harus menerima lima jahitan setelah dipukul dengan botol.
Seperti diketahui, dalam kampanyenya, Trump melarang Muslim masuk ke Amerika Serikat karena alasan keamanan. Taipan properti ini juga menyatakan penolakannya atas gay. (Reuters)