Pengamat: Kepala Daerah Kurang Dikritik, Pede Lakukan Korupsi

Dythia Novianty | Nikolaus Tolen | Suara.com

Sabtu, 31 Desember 2016 | 19:26 WIB
Pengamat: Kepala Daerah Kurang Dikritik, Pede Lakukan Korupsi
Diskusi bertajuk'Kerakyatan Dalam Pemilu' di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/12/2016). [Suara.com/Nikolaus Tolen]

Suara.com - Pengamat Politik, Jeiry Sumampow menilai, partipiasi masyarakat dalam mengawasi kinerja pemerintah sangatlah penting. Sebab, menurutnya, semakin minimnya daya kritis masyarakat, maka peluang pemerintah melakukan tindak pidana korupsi akan semakin besar. Karenanya, partisipasi tersebut harus berawal dari proses pemilihan hingga menjabatnya seorang kepala daerah.

"Kalau ada kepala daerah didukung oleh masyarakat tanpa adanya kritik atau challenge, saya kira peluang untuk melakukan praktik-praktik yang tidak baik itu menjadi besar. Karena dia semakin percaya diri. Seolah-olah tidak akan terkena hal yang kriminal," kata Jeirry dalam diskusi bertajuk 'Kerakyatan Dalam Pemilu' di Bakoel Coffee, jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (31/12/2016).

Kepala Humas Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia tersebut, mencontohkan kasus dugaan suap yang menjerat Bupati Klaten, Sri Hartini. Menurutnya, keterlenaan masyarakat akan posisi keluarga Sri Hartini yang kerap menduduki kursi tertinggi di daerah Klaten, Jawa Tengah tersebut menghilangkan daya kritisnya.

"Apalagi figur seperti Bupati Kelaten ini, sebelumnya suaminya sudah menjadi bupati selama dua periode, lalu karena suaminya sudah nggak memenuhi persyaratan karena sudah dua kali lalu ke istrinya," katanya.

Oleh karena itu, katanya, proses kontrol sosial terhadap hal tersebut dalam demokasi harus ditingkatkan. Dia merasa Klaten adalah salah satu daerah yang minim pengawasan dalam proses Pilkada yang lalu.

"Kontrol regulasi kan sudah berjalan. Tata kelola regulasi pemerintahan sudah berjalan. Tapi kalau masyarakat jadi lengah dan masyarakat cepat puas dengan semua proses ini saya rasa berbahaya juga. Kontrol publik harus dibangkitkan kembali," kata Jeirry.

Lebih lanjut, menurutnya, saat ini pengawasan masyarakat terhadap pemerintah, terutama di daerah yang muncul dinasti politiknya sangat rendah. Pasalnya, kejenuhan akan dunia politik dialami oleh masyarakatnya.

"Bisa jadi ada kepercayaan publik pada sistem demokrasi yang kita pakai. Padahal kalau kita evaluasi sejak lama sistem politik kita sudah baik, yang lemah itu partisipasi publik. Karena sistem politik demokrasi yang ada saat ini dalam kerangka mobilisasi, bukan substansial," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Keikutsertaan Perempuan di Pilkada Semakin Menurun

Keikutsertaan Perempuan di Pilkada Semakin Menurun

News | Sabtu, 31 Desember 2016 | 18:58 WIB

Jabatan Diobral Demi Uang, KPK: Kualitasnya Bisa Dibayangkan

Jabatan Diobral Demi Uang, KPK: Kualitasnya Bisa Dibayangkan

News | Sabtu, 31 Desember 2016 | 18:31 WIB

KPK Ingatkan Pemda Tidak Obral Jabatan Demi Uang

KPK Ingatkan Pemda Tidak Obral Jabatan Demi Uang

News | Sabtu, 31 Desember 2016 | 16:53 WIB

Begini Kronologis OTT Bupati Klaten Beserta Uang Miliaran Rupiah

Begini Kronologis OTT Bupati Klaten Beserta Uang Miliaran Rupiah

News | Sabtu, 31 Desember 2016 | 15:31 WIB

KPK Tangkap Bupati Klaten Sri Hartini karena Terima Suap

KPK Tangkap Bupati Klaten Sri Hartini karena Terima Suap

News | Jum'at, 30 Desember 2016 | 11:32 WIB

Terkini

Kades Salah Administrasi Tak Bisa Jadi Tersangka? Simak Aturan Baru dari Jaksa Agung Burhanuddin

Kades Salah Administrasi Tak Bisa Jadi Tersangka? Simak Aturan Baru dari Jaksa Agung Burhanuddin

News | Minggu, 19 April 2026 | 23:08 WIB

Hashim Sebut Program MBG Banyak Diserang Fitnah dan Hoaks dari Kelompok Tertentu

Hashim Sebut Program MBG Banyak Diserang Fitnah dan Hoaks dari Kelompok Tertentu

News | Minggu, 19 April 2026 | 21:22 WIB

Ternyata Ide Makan Bergizi Gratis Sudah Dirancang Prabowo Sejak 2006, Jauh Sebelum Ada Gerindra

Ternyata Ide Makan Bergizi Gratis Sudah Dirancang Prabowo Sejak 2006, Jauh Sebelum Ada Gerindra

News | Minggu, 19 April 2026 | 21:17 WIB

Penikaman Kader Golkar Nus Kei di Maluku Tenggara Picu Kekhawatiran Stabilitas Daerah

Penikaman Kader Golkar Nus Kei di Maluku Tenggara Picu Kekhawatiran Stabilitas Daerah

News | Minggu, 19 April 2026 | 21:13 WIB

Terima Kunjungan Mentan di Gudang Bulog Jatim, Dirut Pastikan Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

Terima Kunjungan Mentan di Gudang Bulog Jatim, Dirut Pastikan Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

News | Minggu, 19 April 2026 | 20:06 WIB

Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah di Kampung Bahagia Malaysia dalam Sekejap

Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah di Kampung Bahagia Malaysia dalam Sekejap

News | Minggu, 19 April 2026 | 20:04 WIB

Pramono Anung Ungkap Cara Putus Rantai Kemiskinan di Jakarta: Kunci di Pendidikan

Pramono Anung Ungkap Cara Putus Rantai Kemiskinan di Jakarta: Kunci di Pendidikan

News | Minggu, 19 April 2026 | 19:13 WIB

Pasukan Perdamaian Prancis Gugur, RI Tegas: Serangan ke UNIFIL Tak Bisa Diterima

Pasukan Perdamaian Prancis Gugur, RI Tegas: Serangan ke UNIFIL Tak Bisa Diterima

News | Minggu, 19 April 2026 | 18:56 WIB

Skorsing 19 Hari, Siswa yang Acungkan Jari Tengah ke Guru Terancam Tidak Naik Kelas

Skorsing 19 Hari, Siswa yang Acungkan Jari Tengah ke Guru Terancam Tidak Naik Kelas

News | Minggu, 19 April 2026 | 18:49 WIB

Gudang Bulog Penuh, Presiden Sebut Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Dasar Rakyat

Gudang Bulog Penuh, Presiden Sebut Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Dasar Rakyat

News | Minggu, 19 April 2026 | 18:41 WIB